Bagian Empat

254 106 18
                                    

Gue jadi teringat dengan ucapan Vico,

"Lo mau dijodohin?"

Sepertinya teman gue memiliki keturunan indigo.

Gue benar-benar nggak habis pikir sama Mama. Tega-teganya dia ingin menjodohkan putra satu-satunya ini? Gue rasa sebentar lagi dunia akan hancur. Oke, ini memang berlebihan. Tapi, ini adalah kenyataannya. Bagaimana bisa Mama bertindak sejauh ini? Apa sebegitu nggak lakunya gue sampai-sampai harus dikenalin sama anaknya Tante Dian?

Ayolah, Ma. Bahkan semua cewek di sekolah selalu berteriak memanggil namaku saat aku bermain futsal!

Gue memang nggak pernah bercerita pada Mama kalau gue memiliki segudang penggemar yang akan mengeluarkan suara melengkingnya saat gue beraksi di lapangan futsal. Bahkan nggak sedikit dari mereka yang terang-terangan untuk kasih kami bertiga—gue, Vico, dan Kevin—hadiah. Kadang bekel cantik, coklat, bahkan bunga. Oh, ya ampun. Apa mereka belum mengerti atau memang nggak tahu kalau kami bukan seperti mereka, yang suka atau bahkan sampai teriak-teriak juga dikasih barang-barang seperti itu? Ya ... kalau bekel sih, nggak pa-pa. Kita malah menerima dengan senang hati. Kenapa? Karena kita bertiga adalah pemilik perut gentong tapi badan masih segini-segini aja.

Gue berusaha menahan segumpal unek-unek yang ada di hati gue. Dan, terpaksa menikmati sisa-sisa waktu makan malam bersama keluarga Tante Dian yang sudah sangat membosankan ini. Sedangkan, Mama, Papa, dan Gina masih menikmati acara ini. Mama juga masih memanas-manasi gue dengan cara berbasa-basi dengan Nadira, menanyakan bagaimana perasaannya saat ingin pindah sekolah, mau masuk jurusan apa, ekskul apa, bahkan Mama menanyakan,

"Kamu sudah punya pacar?" sontak, Nadira membulatkan matanya lalu seperti biasa, tersenyum manis dan membalas,

"Belum, Tante. Belum ada yang nyangkut. Lagian aku harus fokus kejar cita-cita aku dulu," jelasnya dengan nada yang santai dan diiringi dengan sebuah senyum.

Yes! Bagus Nadira, bagus! Lo udah menyelamatkan gue!

"Ah, kamu. Entar kalau sampai kamu tertarik sama Ardo gimana?" ternyata Mama nggak mau kalah. Baru saja beberapa detik yang lalu gue bersorak dalam hati dan sekarang, harus kembali mendengus kesal. Dan, Nadira hanya terkekeh.

Apa ada yang lucu?

Gue menatap Mama dengan tajam dan Mama nggak memperdulikan tatapan gue. Bahkan, Papa dan Gina nggak berniat untuk membela gue. Om Hanung—suami tante Dian—pun nggak berkomentar sama sekali seakan-seakan mereka memang sudah merencanakan hal ini dengan matang.

Ya, Tuhan. Dosa apa yang telah hamba lakukan?

Dan sekarang, gue hanya bisa menghela napas dengan berat dan pasrah.

Akhirnya acara makan malam ini berakhir. Dan layaknya ibu-ibu arisan, Mama memberikan cipika-cipiki pada Tante Dian dan Nadira mencium punggung tangan mama gue. Lalu, Papa berjabat tangan dengan Om Hanung dan Gina mencium punggung tangan Nadira layaknya seorang adik. Bahkan mereka sudah bisa akrab hanya dalam waktu dua setengah jam? Apa semua perempuan seperti itu?

Gue sibuk mengetuk kaca mobil dengan ekspresi—yang sudah pasti—jengkel. Dan akhirnya, gue memecah kehehingan,

"Ma, kenapa harus pake acara jodoh-jodohin aku segala, sih? Lagian aku masih muda, Ma," ucap gue dengan nada dingin.

"Bukan dijodohin, sayang. Tapi cuma dikenalin. Lagian kamu nih, ya, udah gede bukannya cari pacar," balas Mama yang terdengar menyindir.

"Masih banyak yang bisa aku lakuin, Ma. Futsal contohnya," balas gue tetapi kali ini nada gue berubah menjadi sedikit semangat. Ya, karena menyebut futsal.

Back to YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang