Bagian Sepuluh

78 9 8
                                    

Dhiona

Apa yang akan kalian lakukan saat hati kalian bimbang? Apa yang akan kalian lakukan saat kalian tidak tahu perasaan kalian sendiri? Senang, kah? Suka, kah? Atau apapun itu. Hati kalian terlalu lelah pun juga otak kalian. Sama seperti aku sekarang. Aku tidak tahu perasaan apa yang sekarang bertengger di hatiku.

Aku mulai memutar kembali ingatanku yang mencoba menjauh darinya. Saat itu, aku benar-benar malas untuk mengenal cowok. Kalian tahu apa alasanya? Takut. Ya, aku takut jika nantinya aku akan menaruh segudang ekspektasi pada seorang cowok. Aku takut bahwa ternyata segudang ekspektasiku harus dengan terpaksa aku lepas, karena kenyataan yang terjadi sangatlah berbeda. Aku takut bahwa hubunganku nanti akan hanya terasa manis di awal dan sangat pahit di akhir. Aku takut kalau akan ada seseorang yang jauh lebih bisa membuatnya merasa nyaman, lebih nyaman dari yang bisa aku lakukan. Dan segala ketakutan lain yang ada dalam hidupku tentang sebuah hubungan asmara.

Namun sepertinya, takdir memaksaku untuk mengenalnya lebih dalam. Adeardo William. Cowok yang akhir-akhir ini memenuhi pikiranku. Cowok yang membuat aku kembali bertanya, apakah benar dia orangnya? Apakah benar aku akan menyukainya? Apakah benar dia tidak akan melakukan apa yang aku takutkan? Apakah benar saat bersamanya semua ketakutanku hilang? Apakah setelah itu semuanya akan berjalan dengan lancar?

Aku masih ingat betul saat dia menyatakan perasaannya kepadaku tadi pagi. Tidak, dia hanya menyatakan isi hatinya dan tidak memintaku untuk menjadi pacarnya. Tapi ..., aku melihat ketulusan dari sorot matanya yang menatapku dengan lekat. Ah, tapi lagi-lagi aku bimbang. Dan, aku masih takut. Apakah aku harus kembali menjauh? Atau justru menerimanya dengan hati terbuka?

"Dek? Kok ngelamun, sih?"

Oh, rupanya cowok itu membuatku hilang konsentrasi sehingga kehadiran Kak Daffa tidak kuhiraukan.

"Eh? Iya, Kak. Kenapa?" tanyaku gelagapan.

"Mikirin cowok, ya?" godanya.

"Hah? Enggak, kok. Jangan ngaco, deh, Kak!"

"Bohong. Kamu nggak pernah mikirin pelajaran sampe ngebuat kamu melamun. Jadi, apalagi kalau bukan cowok?" Kak Daffa menaut-nautkan kedua alisnya dan tersenyum menggodaku seolah meminta sebuah penjelasan.

"Ah, Kakak ganggu aja, sih! Udah sana pergi!" Aku mengambil sebuah bantal yang berada di sampingku dan meleparkannya ke arah Kak Daffa.

"Tuh, kan. Giliran kakaknya balik, diusir. Tapi, kalau di Bandung ditelfonin terus. Gimana, sih, dek?"

Kini, Kak Daffa sudah berada di tepi ranjangku dan membenarkan posisinya. "Kamu masih takut?"

"Takut apa?"

"Dhiona adikku sayang, jangan pura-pura lupa, deh. Kamu pernah bilang, kalau kamu takut deket sama cowok, takut inilah itulah dan segala macamnya. Terus, ka—"

Belum sempat Kak Daffa menyelesaikan kalimatnya, aku memotong dengan cepat. "Kalau aku suka sama cowok gimana, Kak?"

Dia tertawa kecil. Ah, sepertinya aku salah omong!

"Kak, ih! Aku serius!"

"Kamu tahu? Hati kamu itu nggak bisa seenaknya kamu setting. Kapan kamu mau suka sama orang, kapan kamu mau rasa itu berhenti, dan kapan kamu membenci orang itu. Karena semakin kamu memaksa hati kamu yang ada malah sebaliknya. Jadi, ikutin alurnya, itu solusinya."

Aku mendengarkan kalimat yang keluar dari mulutnya. Kalimat itu seolah-olah menamparku sekaligus menyadarkanku bahwa aku tidak bisa mengatur perasaanku. Sangat tidak bisa. Garis bawahi itu.

"Pasti cowoknya yang tadi anter kamu, ya?" tanya Kak Daffa yang sukses membuatku heran. Bagaimana dia bisa tahu itu?

Seolah tahu apa yang aku tanyakan dalam hati, Kak Daffa langsung memberi penjelasan. "Tadi, waktu ada suara motor depan rumah, Kakak ngintip. Kakak pikir itu temen Kakak yang mau main ke rumah. Eh, taunya kamu dianter pulang sama cowok itu." Dan lagi-lagi dia menggodaku. Berhenti menggodaku, Kak Daffa!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 15, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Back to YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang