Stitches

446 20 2
                                        


"Ma.. Ana berangkat dulu ya.."
Seorang gadis berjalan terburu-buru, mengambil converse hitam miliknya kemudian dengan cepat menaiki Fixie abu-abu nya. Rumah Ana memang tidak terlalu jauh dari sekolahnya, sekitar 4km. Dan ia lebih memilih menaiki Fixie kesayangannya untuk pergi ke sekolah.

"Loh, nggak sarapan dulu? Kamu ini kebiasaan telat mulu" Seorang wanita yang lebih tepatnya ibu dari gadis tersebut berteriak dari meja makan.
Namun yang diajak berbicara rupanya sudah tidak ada.
"Ckckck, anak zaman sekarang.."

*****

Ana mengayuh sepedanya dengan cepat, berusaha sampai sekolah sebelum bel berbunyi. Ia merutuki dirinya sendiri yang tadi pagi tidak segera bangun ketika dibangunkan ibunya.

"Uh, jam 6.55! I shouldn't be late.."

Ia tak mau di hari keduanya masuk sekolah ia sudah melanggar peraturan, telat.
Dan apa yang menjadi mimpi buruknya menjadi kenyataan. Gerbang sekolahnya sudah ditutup dan disitu ada satpam yang menjaganya.

Ana memarkir sepedanya asal-asalan dan bergegas menuju gerbang.

"Pak.. tolong pak, sekali ini saja.."
"Saya baru kali ini telat pak, sumpah!"
Ucapnya dengan puppy eyes andalannya untuk menarik simpati pak satpam.

"Hehh, tidak bisa. Ini sudah jam berapa? Lain kali berangkat lebih pagi!"

Tiba-tiba datang seorang laki-laki berseragam putih abu-abu dengan motor sport merah-nya. Azka.

"Eh, den Azka, kok tumbenan telat..?"
"Hehe, iya pak Tarjo, tadi ban saya bocor. Maaf ya pak."
"Iya gak papa den, lain kali jangan telat ya.."
Satpam yang bernama Tarjo tersebut membukakan gerbang untuk Azka.

"Pak, dia biar masuk juga deh ya?" Ucap Azka ketika melihat ada gadis berseragam sama dengannya yang berdiri disampingnya sambil memegangi gerbang dengan pandangan kosong.
"Mm, iya deh den. Kali ini aja ya.. lain kali jangan telat."
"Oke."

Gadis disamping Azka masih bengong. Ia masih berpikir bagaimana bisa anak laki-laki disampingnya bisa merayu satpam tersebut dengan mudahnya sementara ia tadi ditolak mentah-mentah. Padahal, biasanya jurus puppy eyes-nya selalu berhasil.

"Woy! Lo masuk gak? Kalo gak yaudah." Azka menegur gadis disampingnya.
Tersadar dari lamunan, Ana menjawab gugup.
"E eh, i iya.. aku masuk kok. Makasih"

"Ehm, Azka kan ya? Kok kamu bisa diizinin masuk gitu sih? Padahal tadi aku udah mohon-mohon ya tetep dibiarin." Ana mencoba memecah keheningan sepanjang koridor sekolah.
"Hehe, ada kok." Jawab Azka singkat sambil tersenyum lebar, tanpa perlu menceritakan bahwa Pak Tarjo begitu baik padanya karena beliau merasa pernah berhutang budi pada Azka. Saat kelahiran anak pertamanya, Azka lah yang membantu Pak Tarjo meminjami uang untuk biaya rumah sakit. Azka memang berasal dari keluarga kaya. Meskipun ia tak pernah mengumbar-umbar kekayaannya tapi semua orang tahu itu. Jelas saja, disaat teman-temannya ke sekolah mengenakan converse atau vans, maka Yeezy warna hitam pekatlah yang membungkus kakinya. It's obvious.

Azka dan Ana masuk kelas dengan santai karena untungnya jam pertama hari ini kosong karena guru mapel mereka sedang ada rapat.

"Etdah Zka! Lo kok bisa telat barengan gitu sama anak baru?" Ucap Andre usil sambil menepuk bahu Azka.
"Ciyee, jodoh elah. Mentang-mentang sebangku telat aja kudu barengan." Dito yang asyik memainkan COC-nya tiba-tiba menimpali.
"Terserah lu bedua deh Nyet!." Azka tak berminat menanggapi dua sahabatnya itu.

Hari ini seperti biasa, Azka tak banyak bicara pada Ana. Padahal Ana berulang kali membuka percakapan.

"Ka, makasih lagi ya buat yang tadi." Ana berusaha mengajak cowok dingin disampingnya berbicara.
"Hmm" Azka menjawab dengan malas tanpa menoleh ke yang bertanya.
"Mm.. Ka, mau ke kantin?" Ana masih belum menyerah.
"Nggak. Lo duluan aja."

Karena yang diajak berbicara hanya menanggapi dengan malas-malasan, Akhirnya Ana menyerah dan bergabung bersama gadis-gadis lain dikelasnya untuk mengobrol dan berkenalan.

Azka POV

"Ka, makasih lagi ya buat yang tadi."
Eh, ada yang ngomong sama gue? Goblok, iyalah samping gue sekarang ada penghuninya. Hmm, sudah terlalu lama duduk sendiri sih gue.

"Hmm" gue lagi males diajak ngobrol.
"Mm.. Ka, mau ke kantin?"
Apa? Dia ngajak gue?
"Nggak. Lo duluan aja." Yah, bukannya gue cuek sih. Gue emang ga laper dan lagi mager. Kasian juga sih anak baru kagak gue temenin. Tapi yaudahlah, palingan ntar dia gabung sama cewek-cewek lain. Toh dia juga cantik dan keliatannya supel, gak susah lah dapet temen baru.

Eh apa? Gue bilang dia cantik? Eh itu tadi khilaf.

Tiba-tiba cewek disamping gue berdiri, dan ga sengaja, gue lihat setengah bekas jahitan yang sepertinya berbentuk persegi di tengkuknya saat rambutnya tersibak.
Gue diem beberapa detik, kaget sumpah.

It's that really? Ah, gak mungkin. Gue pasti salah lihat. Kalo beneran gimana? That square stitches! Gue harus cari tau tentang dia. Secepatnya.

**********

Well, ini part 2 nya.. banyak basa-basinya sih. Maaf yak, abis ini part 3 gue banyakin yang seru-seru deh 😆

Jangan lupa vote + comment ya..
Thanks...





PROMISESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang