The Truth

348 16 2
                                        

"Kamu lebih dari manusia-manusia lainnya, Nak. Kamu seorang Genoid."

Kata-kata tersebut terasa diputar berulang-ulang bagai putaran kaset rusak dalam kepala Ana. Ia merasa setengah tak sadar. Tak percaya dengan apa yang di terima indra pendengarannya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum membelalak tak percaya. Ia menatap mamanya seakan meyakinkan dirinya sendiri. Mamanya mengangguk pelan dan menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.

"Ge... Genoid? A-a-aku?" Ana tergagap saat menanyakan ini. Belum sempat pertanyaannya terjawab, mamanya berbicara lagi.

Pernyataan berikutnya semakin membuat dunia Ana serasa dijungkir-balikkan.

"Iya nak. Sebenarnya juga, kamu bukan anak kandung mama."

Kali ini, Ana mulai meneteskan airmatanya. Ia belum siap dengan kebenaran barusan ia terima.
Kemudian mama Ana mulai menceritakan semuanya dari awal.

"Dulu, pada tahun 2004, sekelompok ilmuwan dunia mengadakan experimen rahasia yang diketuai oleh seorang berkebangsaan perancis yang bernama Xavier Hadeon. Experimen ini tidak disetujui pemerintah. Namun, mereka tetap bersikeras melaksanakannya tanpa izin pemerintah dan akhirnya, semua aset penemuan mereka di sita oleh pemerintah. Xavier yang waktu itu telah mengerahkan semua yang dimilikinya, tidak terima dengan perlakuan pemerintah. Ia mencoba mempengaruhi para ilmuwan lain untuk melakukan eksperimen berbahaya ini. Akhirnya, banyak ilmuwan serta dokter yang terbujuk oleh Xavier waktu itu termasuk Mama, dan Damian Cesairè, ayah dari Azkanio Cesairè atau yang kamu kenal dengan Azkanio Ardhian."

*Flashback 22 Januari 2004

CNA Research Office, Russia.

"Jadi, bagaimana denganmu Damian? Apakah kau setuju?"
Xavier dan para ilmuwan lain memutuskan eksperimen ini dilaksanakan di suatu tempat milik Damian yang tersembunyi di pulau Borneo karena mereka merasa disitulah tempat yang paling aman.

"Baiklah kalau itu bisa membantu kalian."
Damian menyetujui permintaan rekan-rekannya meskipun ia tau betul resiko yang akan di terima olehnya apabila kegiatan mereka diketahui pemerintah setempat. Apalagi pemerintah Russia.

"Ah, kau benar-benar bisa diandalkan. Persiapkan diri kalian semua. Minggu depan kita berangkat ke Indonesia."

********

"Papa, who are they?"

Seorang anak laki-laki bermata biru keabu-abuan setinggi empat kaki delapan inchi bergelanyut di lengan ayahnya. Ia merasa asing dengan orang-orang berpakaian aneh yang lalu lalang didepan bangunan yang akan mereka masuki.

"Mereka teman-teman ayah. It's okay, you'll be fine." Damian mencoba menenangkan anak semata wayangnya itu.

Suara langkah kaki mereka memecah keheningan disepanjang lorong sepanjang 10 meter. Damian menarik daun pintu kaca didepannya. Di dalamnya, beberapa dokter dan rekan-rekan ilmuwannya sudah siap dengan pakaian khas dokter bedah dan berbagai peralatan operasi. Tak hanya itu, disana juga terdapat tabung-tabung berisi cairan berwarna hijau yang terhubung dengan selang warna-warni.

"Here you are Damian! Kami sudah menunggumu. Oh, Hey little boy.. Kau pasti yang bernama Azka bukan?"
Xavier maju menyalami Damian dan kemudian sedikit menunduk untuk menyetarakan tingginya dengan Azka serta kemudian menjulurkan tangannya untuk menyalami tangan kecil Azka.

"Iya.. aku, aku Azka"
Anak laki-laki itu menjawab dengan gugup sambil kemudian menatap ayahnya dengan penuh pertanyaan.

"Tidak apa-apa Azka, dia teman Ayah."
Damian menjawab seolah tau pertanyaan apa yang dipikirkan anaknya. Azka lalu menyambut tangan Xavier.

PROMISESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang