Ana POV
"Tunggu sini bentar ya, gue mau ganti."
"I-iya."
Azka ninggalin gue sendirian di ruang tamunya yang segede gudang bulog ini. Eh ga deng, bagusan ini jauh. Diatas gue ada lampu kristal besar. Disudut lain, ada bagian dinding yang dipasangi beberapa frame foto. Karena bosen, gue pengen liat-liat dinding penuh foto itu. Dan, kalian tau? Ada foto Azka pas MOS SMP. Culun gila! Hahaha. Gimana bisa foto kayak gini di pajang diruang tamu coba?
Di ujung lain gue lihat foto sebaris orang berpakaian jas putih khas dokter. Pasti ada papanya Azka nih.. eh, kayaknya gue kenal sama orang ini. Siapa ya..? Wajahnya familiar banget sih. OH MY GOD! demi apa ini foto mama?
"Mama..?!" Gue kaget, cengo. Mama gue.. Mama gue dokter? Demi apa? Kenapa gue gak pernah tau?
Btw kenapa POV gue bahasanya jadi gaul gini yak? Bhak, pergaulan kota metropolitan bener-bener merusak kepolosan gue.
********
Tiba-tiba, ada tangan di pundak gue.
"Ana, lo kenapa teriak?" Anjir ternyata itu tangan Azka. Gue kaget.
"Err, gak papa kok." Gue gak mau bilang dulu ke Azka. Biar gue tanya ke mama langsung aja.
"Oh, yaudah ayo mulai prakteknya. Gue ambil alat bahannya dulu."
Author POV
"Ma, mereka sudah sampai London. Mama jaga Ana baik-baik disana. Jangan sampai mereka berhasil dapetin Ana. Disini Kevin akan coba mengalihkan perhatian mereka."
Suara di ujung telepon terdengar khawatir.
"A-apa? Tapi bagaimana bisa?" Carla tak bisa menahan kekagetannya. Bagaimana bisa para Hunter mengetahui keberadaan Ana di London?
"Mereka punya mata-mata disekolah Ana. Dan Kevin yakin cepat atau lambat pasti mereka akan tau bahwa Ana sudah tidak di London. Ma, lebih baik mama persiapkan Ana.. kasih tau dia yang sesungguhnya ma."
"Baiklah nak, jaga diri baik-baik ya.. I love you." Suara Carla terdengar sedih. Ia khawatir mereka akan menyakiti Kevin.
"I love you too, Ma."
Kevin memutus sambungan teleponnnya.
********
Di sisi lain, Dr. Johan sedang berdiri sendirian di ujung jalan terpencil, menunggu seseorang.
Tak lama kemudian sebuah Land Cruiser hitam berhenti tepat didepannya. Dari mobil tersebut keluar seorang laki-laki berumur sekitar 45 tahun dengan setelan tuxedo hitam mewahnya. Laki-laki itu tersenyum kecil pada Dr. Johan kemudian menghampirinya. Kali ini wajahnya berubah serius. Laki-laki itu berbisik kecil pada Dr. Johan.
"Mereka ada di London, mulai menemukan jejak yang satunya" Ucap laki-laki bertuxedo hitam tersebut.
"Ya, aku tau. Memang cepat atau lambat pasti mereka akan mengetahui keberadaan Azka dan Ana." Dr. Johan menjawab dengan tenang. Ia sudah mendapat kabar tentang itu.
"Kau tau keberadaan anak perempuan itu?" Lelaki bertuxedo hitam itu tampak kaget.
"Ya, itulah hal penting yang ingin kukatakan padamu. Dia berada disini. Di satu sekolah yang sama dengan Azka." Ucap Dr. Johan.
"Bagaimana kau bisa tau?" Lelaki itu mengernyitkan dahinya.
"Kau pikir aku juga tak punya mata-mata hah? Meskipun aku hanya seorang dokter biasa namun aku paham betul seberapa pentingnya anak seperti Azka."
"Kau tahu bila mereka berada di tempat yang berdekatan maka tak akan sulit bagi para hunter menemukan mereka."
"Iya iya.. Mana aku tahu kalau ia akan pindah kesini."
"Jo, kau harus persiapkan mereka berdua.. Beritahu siapa mereka sebenarnya dan bahaya apa yang mengancam hidup mereka." Wajah lelaki bertuxedo hitam itu semakin kaku.
"Baiklah, Arnold. Akan kuberitahu mereka secepatnya. " Dr. Johan menepuk punggung laki-laki bernama Arnold tersebut kemudian membiarkannya masuk ke dalam Land Cruiser hitamnya.
Kini Ia tengah dilanda dilema. Mampukah Azka menerima penuturannya nanti?
********
Ana menyentuh icon berwarna hijau di Smartphone-nya yang berdering.
"Halo, Ma ada apa?"
"Kamu dimana?"
"Ini lagi dirumah temen, Ma."
"Oh. Kamu bisa pulang sekarang? Mama tunggu di dirumah secepatnya ya." Carla mengakhiri percakapan.
"Siapa?" Azka yang sedang mengukur kapasitas volume pernapasan serangga menoleh pada Ana yang sedang menerima telepon.
Ana menggerakkan bibirnya dan tanpa suara membentuk kata "Mama."
"Ohh" Azka hanya manggut-manggut lalu melanjutkan kegiatannya.
Ana berjalan menghampiri Azka yang sedang asyik dengan praktikumnya.
"Ka, gue disuruh pulang nih."
"Loh, kan belum selesai." Protes Azka.
"Yaelah, gue juga tau lo itu sebenernya jenius. Gak usah praktek pun lo udah bisa Ka. Jangan manja gini deh." Ana memutar bola matanya.
"Hehe, ya kan biar gue ga gitu keliatan pinter makanya gue praktek beneran."
"Halah, alasan. Yaudah gue duluan. Kayaknya nyokap mau ngomongin hal penting." Wajah Ana tampak khawatir karena tak biasanya ibunya menyuruh cepat pulang.
"Lo mau gue anter?" Azka menawarkan bantuan.
"Thanks, Ka. Tapi gue bisa naik taksi kok." Ana yang tidak mau merepotkan Azka menolak tawaran Azka dengan halus.
"Oh, yaudah. Hati-hati ya.." Azka tersenyum kearah Ana. Yang dibalas dengan anggukan dan senyum simpul dari Ana.
Sesampainya dirumah, Ana langsung menuju kamar mamanya. Ia mengetuk pintu di depannya.
"Ma.. mama nyariin Ana?" Ia berkata sambil mendekatkan bibirnya ke pintu.
Kemudian, seorang perempuan cantik nan dewasa membuka pintu kamar itu dan langsung memeluknya.
"Ada apa sih ma?" Ana bertanya keheranan.
"Kamu nggak apa-apa kan? Ada hal penting yang mau Mama bicarakan." Ucap mamanya serius. Ana semakin penasaran dengan tingkah laku aneh mamanya. Ada apa?
Mereka berdua duduk berhadapan diujung sebuah ranjang klasik berwarna merah marun.
"Ana, mama yakin kamu sudah siap mengetahui segalanya. Kamu sudah dewasa, Nak." Carla tersenyum lembut sambil mengelus pundak Ana.
"Kamu ingat kejadian waktu kamu SMP dulu? Waktu itu kamu sedang diganggu oleh kakak-kakak kelasmu dan kamu coba melawan padahal kamu nggak pernah bisa beladiri. Hasilnya, beberapa dari mereka masuk rumah sakit."
Ana mencoba mengingat-ingat kejadian yang diceritakan mamanya. Ya, di saat-saat tertentu ia memang bisa jadi sangat kuat. Dan tenaga beberapa kakak kelasnya waktu itu bukanlah tandingannya.
"Terus, dulu kamu pernah dilempari bola sama temen-temen kamu yang iri karena kamu selalu jadi juara kelas dan bola-bola itu malah berhasil kamu hindari semua. Dan akhirnya, kau malah dijadikan pemain Dodgeball." Carla sedikit tertawa mengenang kejadian itu, kemudian melanjutkan ceritanya.
"Kamu tahu? kenapa kamu bisa begitu kuat? Kenapa kamu bisa begitu mudah memelajari pelajaran saat SMP padahal kamu hilang ingatan dan tak ingat pelajaran SD atau pengetahuan dasar lainnya?" Carla berbicara sambil menatap mata gadis yang duduk di depannya. Gadis di depannya hanya menggeleng pelan.
Perlahan, Carla menggenggam jari jemari Ana. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Ana dan berbisik lembut.
Bisikan lembut yang membuat Ana menggeleng tak percaya.
"Kamu lebih dari manusia-manusia lainnya, Nak. Kamu seorang Genoid."
*******
Hunter? Genoid? Ana Genoid? Apa bahaya yang sedang mengejar Ana dan Azka? Mama Ana seorang Dokter?
Kalo penasaran bagi vote + comment dong.. :(
jangan jadi silent reader..
Kalo banyak yang comment Lanjut Inshaallah gue lanjutin. Dan di part selanjutnya bakalan gue kasih tau semuaaa jawaban dari pertanyaan yang nggantung di part ini :)
KAMU SEDANG MEMBACA
PROMISES
Science FictionKetika hati telah lelah, ketika hati ingin menyerah melepaskan apa yang selama ini dipertahankan. Kekuatan kata-kata manis yang dirangkai menjadi sebuah kalimat yang dinamakan janji mengubah segalanya. Tapi, manusia bisa saja dengan mudah mengingkar...
