Azka's Side

220 11 0
                                        


Ana masih bergeming, ia menyandarkan kepalanya di bahu Carla. Kedua lengan Carla merengkuh bahu Ana, mendekapnya dalam pelukannya. Tangan lembut Carla mengelus perlahan rambut Ana. Suasana di kamar Carla begitu hening hingga yang terdengar hanyalah sisa-sisa isakan Ana. Mereka berdua terdiam dalam keheningan yang menyesakkan dada. Terdiam dengan pikiran masing-masing tentang kenyataan yang tidak pernah terpikirkan oleh Ana.

Dulu, Ana merasa hidupnya begitu sempurna. Ia layaknya gadis remaja normal yang memiliki keluarga kecil bahagia yang menyayanginya meskipun ia tidak memiliki ayah. Ia merasa layaknya gadis remaja biasa meskipun ia sedikit berbeda. Ia berbeda, dan Ia mengetahui itu di dalam hati kecilnya. Sejak kecil, banyak hal-hal luar biasa yang terjadi pada hidupnya, pada dirinya. Namun, Ana kecil tidak pernah memikirkan hal itu lebih lanjut hingga kenyataan yang selama ini ia takuti terpapar nyata dihadapannya. Dan kini, mau tidak mau Ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia adalah genoid.

Dan Azka? Tak jauh beda dengan Ana, Azka juga baru saja mengetahui kenyataan tentang dirinya yang berbeda.

*Flashback from Revealed*

"Jo, kau harus persiapkan mereka berdua.. Beritahu siapa mereka sebenarnya dan bahaya apa yang mengancam hidup mereka." Ucap seorang lelaki bertuxedo hitam. Wajah lelaki itu semakin kaku.

"Baiklah, Arnold. Akan kuberitahu mereka secepatnya. " Dr. Johan memeluk laki-laki bernama Arnold tersebut kemudian membiarkannya masuk ke dalam Land Cruiser hitamnya. Setelah itu, Dr. Johan kembali ke rumahnya, beliau berniat memberitahu Azka secepatnya.

****

Ana berjalan menghampiri Azka yang sedang asyik dengan praktikumnya.
"Ka, gue disuruh pulang nih."

"Loh, kan belum selesai." Protes Azka.

"Yaelah, gue juga tau lo itu sebenernya jenius. Gak usah praktek pun lo udah bisa Ka. Jangan manja gini deh." Ana memutar bola matanya.

"Hehe, ya kan biar gue ga gitu keliatan pinter makanya gue praktek beneran."

"Halah, alasan. Yaudah gue duluan. Kayaknya nyokap mau ngomongin hal penting." Wajah Ana tampak khawatir karena tak biasanya ibunya menyuruh cepat pulang.

"Lo mau gue anter?" Azka menawarkan bantuan.

"Thanks, Ka. Tapi gue bisa naik taksi kok." Ana yang tidak mau merepotkan Azka menolak tawaran Azka dengan halus. Akhirnya Azka hanya mengantarkan ana sampai gerbang rumahnya.

"Oh, yaudah. Hati-hati ya.." Azka tersenyum kearah Ana. Yang dibalas dengan anggukan dan senyum simpul dari Ana. Sepulangnya Ana, sebuah mustang hitam meluncur ke arah gerbang. Tumben ayah sudah pulang, batin Azka.

Dr. Johan tersenyum menghampiri Azka setelah memarkir mobilnya di garasi.

"Ayah, kok udah pulang? nggak di rumah sakit?" Azka memberondong ayahnya dengan sejumlah pertanyaan.

"Enggak. Hari ini lagi ada dokter ganti jadi ayah boleh pulang." Ucap Dr. Johan sambil tersenyum simpul.

"Mm Azka, ada hal penting yang mau Ayah bicarakan sama kamu. Sebaiknya kita bicarakan di dalam saja."

Kemudian Azka mengikuti ayahnya masuk ke dalam rumah. Mereka berjalan ke arah taman samping rumah, tempat Azka melakukan praktikumnya bersama Ana tadi. Di sana ada sepasang kursi santai yang terbuat dari rotan. Mereka duduk berdampingan menghadap taman kecil di depan mereka. Dr. Johan menarik nafasnya dalam-dalam. Sedangkan Azka terdiam dengan berbagai pertanyaan yang muncul di benaknya.

"Azka.." Dr. Johan menatap mata biru keabu-abuan Azka lekat-lekat.

"Mungkin kamu akan sedikit kaget mendengar apa yang akan Ayah katakan, namun Ayah percaya bahwa kamu sudah cukup dewasa untuk menerima penuturan Ayah. Yang perlu kamu sadari adalah bahwa, Ayah sangat menyayangi kamu dan apa yang Ayah lakukan adalah untuk melindungi kamu."

Azka mengerutkan dahinya pertanda tidak tahu maksud pembicaraan ayahnya. Seakan tahu maksud Azka, Dr. Johan memperjelas penuturannya.

"Ehmm jadi.. yang pertama, kamu sudah tau bahwa kamu bukan anak kandung Ayah, tapi tentu kamu tidak ingat tentang masa lalu kamu, dan sungguh, selama ini Ayah bukannya mau menyembunyikan masa lalumu. Ayah hanya menunggu waktu yang tepat. Dan sekarang, Ayah rasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya."

Azka membelalakkan matanya karena kaget sekaligus senang. Selama ini, ayahnya tidak pernah mau memberitahukan apapun tentang masa lalunya. Meskipun Ia berusaha mencari tahu, tetap saja hasilnya nihil. Bahkan Ia pernah mencoba menggeledah seisi rumah demi mencari file yang berhubungan dengan masa lalunya. Namun tetap saja, ia tak menemukan apapun. Dan beberapa detik dari sekarang, Ia akan mengetahui semua yang ingin Ia ketahui tentang masa lalunya.

"Jadi, ayah kandungmu bernama Damian Cesairè, Ia adalah teman ayah. Seorang dokter sekaligus ilmuwan dari Perancis. Ia sangat mirip denganmu, terutama, Ia mewariskan warna matanya padamu. Kemudian ibumu, seorang berkebangsaan Indonesia. Ia cantik, tentu saja. Dan kau mewarisi senyumnya."

"Dulu, pada tahun 2004, sekelompok ilmuwan dunia mengadakan experimen rahasia yang diketuai oleh seorang berkebangsaan Perancis yang bernama Xavier Hadeon. Damian beserta Ayah adalah anggota dari kelompok ilmuwan itu."

Kemudian Dr. Johan menjelaskan semuanya kepada Azka dari awal sampai akhir. (A/N: Penjelasannya kurang lebih sama kayak di Chapter Revealed)

********

"Jadi aku.. aku... Genoid?" Azka bertanya tak percaya.

"Jadi selama ini, itu alasan kenapa aku bisa melalukan hal-hal yang tak mungkin dilakukan remaja sepertiku? Jadi itu alasan kenapa aku tidak pernah sakit? Jadi itu alasan aku punya bekas jahitan aneh di tengkukku. Itu semua.. karena aku bukan manusia? Iya kan, Yah?" Tanya Azka dengan suara bergetar.

Dr. Johan menelan ludahnya mendengar pertanyaan Azka.
"Azka..! Tatap mata Ayah. Dengar, kamu itu manusia, sama seperti ayah, sama seperti teman-teman kamu.. tapi kamu lebih dari mereka, Nak. Kamu memiliki kemampuan. Jangan pernah berpikir bahwa kamu bukan manusia, kamu hanya berbeda. Tidak semua yang berbeda itu buruk.."

Azka menelungkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya. Ia tak tau apa yang harus Ia katakan. Ia tak tau apa yang harus Ia lakukan. Ia merasa hal ini terlalu berat untuk Ia hadapi sendiri. Dan, mengapa masa lalunya begitu jauh dari apa yang ia kira sebelumnya? Mengapa kehidupan masa lalunya jauh lebih rumit dari bayangannya? Kini, Ia harus berhadapan dengan kenyataan itu. Kenyataan yang ia pikir lebih baik tidak ia ketahui.

Dr. Johan berdiri menghadap Azka. Direngkuhnya pundak Azka, membuat Azka mau tidak mau harus berdiri menatap ayahnya.

"Azka, kamu nggak sendirian. Ada Ayah disini yang akan selalu bersama kamu. Ayah sayang kamu, Nak. Jangan pernah berpikir bahwa kamu akan menghadapi semua ini sendirian karena Ayah akan selalu bersama kamu dan kamu akan selalu jadi anak Ayah apapun yang terjadi." Ucap Dr. Johan dengan mantap.

Azka tersenyum pedih menatap ayahnya. Ya, Ia tak sendirian. Ia punya Ayah yang selama ini bersamanya dan akan selalu bersamanya apapun yang terjadi. Dan apapun yang terjadi, kini Azka, Ana, Dr. Johan dan Carla akan menghadapinya bersama.


(A/N: Part 7 ini cuman semacam "bridge" buat cerita selanjutnya, jadi di part ini belum ada kejutan-kejutan ataupun masalah lain yg lebih kompleks. Anyway, thanks for 1,8K Readers 😀💕 Thanks buat yang udah mau baca, votes, dan komen di cerita ini. Really, Y'all made my day! Kalau kalian mau request sesuatu ataupun mau kasih kritik/saran buat part ini maupun part selanjutnya, boleh... gue bakal seneng banget kalo ada yang mau ngritik atau ngasih saran tulisan gue :)"

~With lots of love,
Pollokitty

PROMISESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang