Kejadian tadi di sekolah benar-benar membuat Azka tidak fokus dalam segala hal. Bekas luka itu, bekas jahitan itu.. kenapa Ana juga mempunyainya? Apakah itu bekas luka yang sama atau.. hanya kebetulan saja? Sedari tadi hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang muncul di kepalanya.
Azka menghadap cermin besar di kamarnya, ia melepaskan dasi abu-abu dan kemeja putih yang tengah ia kenakan dan membalik badannya menghadap kaca. Ia memperhatikan bekas jahitannya itu. Jari-jari panjangnya meraba tengkuknya, perlahan bergerak membentuk empat sudut sesuai dengan pola bekas jahitannya. Memang, sekilas bekas luka itu tak terlalu terlihat. Namun, indra perabanya masih bisa merasakan keloid tipis yang ditimbulkannya. Azka berjalan ke ranjang king size-nya dan merebahkan diri. Sejenak ingatannya mengembara.
*4 tahun yang lalu*
"A.. Anda siapa? Dimana ini?" Ucap seorang anak laki-laki berumur 12 tahun yang baru saja membuka matanya yang bermata biru keabu-abuan. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing karena baru bangun dari tidur panjangnya selama hampir 1 bulan, deep coma.
"Hai Azka.. akhirnya kau bangun juga" Seorang laki-laki berpakaian dokter dengan tag nama Johan Ardhian tersenyum kearah Azka.
"A-azka..?" Anak itu bertanya keheranan.
"Iya, namamu Azka. Azkanio Ardhian. Kau baru saja selamat dari kecelakaan yang menimpa keluargamu. Hanya kau seorang yang bisa kuselamatkan. Tapi sayang, kau harus kehilangan ingatan. Ah, aku turut berduka atas orang tuamu.. tapi tenanglah, mulai sekarang, akulah ayahmu."
Sejak itu, Azka menjadi anak angkat Dr. Johan. Azka tumbuh menjadi remaja yang cemerlang. Ia memiliki kemampuan lebih dari remaja-remaja lainnya. Kemampuan refleks dan ketahanan tubuhnya begitu luar biasa. Maka dari itu, ia jago dalam segala bidang olah raga mulai dari lari, basket, renang hingga sepakbola. Tidak ada olahraga yang tidak ia kuasai.
Anehnya, meski sering olahraga tubuhnya tetap kurus dan kulitnya pucat seperti orang sakit. Ia dapat berlari 2 hingga 4 kali lebih cepat dari anak seusianya, menyelam hingga bermenit-menit lamanya tanpa alat bantu, ia bahkan dapat menangkap lalat yang sedang terbang dihadapannya dengan sangat mudah.
Tak hanya fisiknya saja yang luar biasa, namun, otaknya juga menakjubkan. Bayangkan saja, diumurnya yang ke 13 tahun ia sudah selesai mempelajari buku-buku kedokteran milik Johan. Kemampuan Azka dalam mengingat sesuatu memang sangat baik.
Tentu saja Johan menyadari kemampuan anak angkatnya ini. Dan, ia khawatir apabila Azka menonjol karena kemampuan-kemampuannya, hal ini akan menimbulkan bahaya bagi Azka. Ia khawatir, apabila Azka terlalu menonjol dengan kemampuannya, mereka akan dengan mudah menemukan Azka. Maka dari itu, Johan selalu berpesan pada Azka untuk tidak menunjukkan kelebihannya dihadapan orang lain dan berpura-pura menjadi anak yang biasa-biasa saja.
*flashback off
SMA PELITA HARAPAN BANGSA
Azka memantulkan bola berwarna orange dengan garis keemasan di tangannya beberapa kali, beberapa anak berseragam sama dengannya berusaha merebut bola itu darinya. Namun dengan lincahnya Azka melewati beberapa orang dihadapannya dan melemparkan bola ditangannya kedalam ring. Bingo! 3 poin tambahan untuk tim Azka.
Peluit berbunyi lagi dan permainan berlanjut.
"Ndre, tangkep woy!"
Azka meneriaki orang yang akan di oper-i bola. Andre yang sedang tak fokus tidak siap menerima bola dan alhasil malah melemparnya dengan kuat keluar lapangan.
"Huuuu payah lu ndre!!" Dito mencibir.
Tanpa diduga, bola yang dilempar Andre mengarah ke seorang gadis yang tengah berjalan dipinggir lapangan. Mata Andre menatap khawatir kepada gadis itu, khawatir bola yang ia lempar akan membentur tubuh gadis itu. Namun sedetik kemudian bola mata Andre dan beberapa pasang mata lain menatap takjub. Bagamana tidak? Gadis itu dengan santainya menangkap bola yang datang kearahnya padahal Andre yakin tadi arah gadis itu berjalan berlawanan dengan arah datangnya bola. Bagaimana bisa?
"Heyy! Be careful please.. huh, untung gak kena gue" Gadis yang tampak sebal itu melempar kembali bola di tangannya kearah lapangan dan berjalan kembali. Yap, gadis itu adalah Ana. Tak butuh waktu lama bagi Ana untuk menyesuaikan bahasanya yang formal menjadi bahasa khas anak metropolitan.
"Wihh, si anak baru cuy. Lo tadi liat ga sih dia jalan dari mana?" Andre masih takjub.
"Tadi bener Ana kan?" Azka ikut berbicara.
"Perasaan tadi bola lo dari belakang deh Ndre, kok refleks dia bisa bagus gitu yak?" Dito menimpali.
"Jadi kiper cocok tuh kayaknya.. haha"
"Hush, ayo maen lagi! Tuh anak-anak nunggu. Gara-gara elu sih!" Ucap Dito sambil menjitak kepala Andre. Mereka lalu melanjutkan permainan. Tapi sepertinya Azka sudah tidak berminat, Ia memilih berhenti dari permainan dan menyusul Ana ke kelas.
"Do, gantiin gue ya. Gue mau ke kelas dulu."
"Tumben lo Ka.. oke deh."
Aldo bersedia menggantikan posisi Azka. Azka mengambil baju gantinya dan berjalan ke kelas dengan masih menggunakan jersey ungu tuanya.
Azka POV
Cewek itu bikin gue makin penasaran.. kayaknya gue harus ngajak ngobrol dia nih sekali-kali. Oke, gue bakal nyusul dia.
"Do, gantiin gue ya. Gue mau ke kelas dulu." Gue minta tolong Aldo buat gantiin gue basket.
"Tumben lo Ka.. oke deh." Aldo setuju buat gantiin gue. Dengan santainya gue jalan ke kelas masih pake jersey gue yang penuh keringat. Gapapa deh ya, gue gak bau-bau amat kok.
Author POV
Azka menghampiri Ana yang sedang membaca buku setelah meletakkan baju ganti beserta sepatunya di loker.
"Ehm, lo tadi gapapa kan?" Azka berbasa-basi.
"Eh, Gapapa kok. Tadi lo ya yang nglempar ke gue?" Ana menatap Azka yang mengenakan jersey basket dengan curiga.
"Eh enggak ya.. itu si Andre tuh." Elak Azka.
"Oh.. gue gapapa kok." Ana tersenyum sebentar lalu melanjutkan membaca bukunya.
"Ann.. gue boleh nanya sesuatu gak?" Kali ini Azka sedikit mengurangi volume bicaranya.
"Hmm, boleh. Mau nanya apa?" Ana mengernyitkan dahinya, ia sedikit heran karena tak biasanya Azka mau berbicara dengannya.
"Itu.. lo punya bekas jahitan ya? Itu yang di belakang leher lo.."
"Oh, ini?" Ana membalikkan badannya sebentar dan menunjukkan bekas jahitannya pada Azka.
"Kenapa? Ada yang salah sama bekas jahitan gue? Lucu ya bentuknya?" Ana membalik badannya lagi menghadap Azka.
"Err, enggak sih. Tapi.." Azka menggantung kalimatnya dan kemudian membalik badannya membelakangi Ana. Ia menarik bagian belakang jerseynya dan menunjukkan Ana bekas jahitan yang sama persis dengannya baik pola maupun ukurannya.
Azka membalik badannya kembali. Mata birunya menatap dalam menembus bola mata Ana. Azka dan Ana memiliki bekas jahitan dengan pola yang sama, di tempat yang sama persis. Mereka saling menatap dengan keheranan. Pikiran mereka sama-sama mengembara, mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan serupa. Bagaimana bisa?
*********
Hey, ini part ketiganya gue bikin khusus buat Azka + ada foto Azka (Luca Chikovani) di multimedia.
Sesuai deskripsi, Azka itu kurus, pucat, dan warna matanya biru keabu-abuan. So, gue pilih Luca Chikovani buat jadi tokoh Azka. Any recommendation for Ana? Gue masi bingung siapa yg bakalan gue jadiin tokoh Ana. Kalo ada saran just comment, okay? Thankyouu ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
PROMISES
Science FictionKetika hati telah lelah, ketika hati ingin menyerah melepaskan apa yang selama ini dipertahankan. Kekuatan kata-kata manis yang dirangkai menjadi sebuah kalimat yang dinamakan janji mengubah segalanya. Tapi, manusia bisa saja dengan mudah mengingkar...
