Polisi dipanggil malam itu juga ke rumah Su Ni. Namun yang terjadi adalah Su Ni mengatakan ia tidak tahu apa yang telah dilihatnya. Berlawanan dengan cerita Ji Tae, Su Ni berkata Ji Tae yang telah merusak rumah dan berusaha menyerangnya.
Ji Tae mengeluarkan serenceng kunci rumah. Ini adalah rumahnya. Untuk apa ia merusak rumahnya sendiri?
“Kau bahkan tidak tahu siapa penyerang dan siapa korbannya!” teriaknya marah pada para polisi.
“Hei, kau tahu siapa yang membayar tagihan rumah sakitmu? Apakah kau tahu siapa yang memberikan rumah, jalang!” Ia memaki Su Ni.
“Ayahku!” ujar Su Ni. “Ayahku yang menemukan bisnis dan sesudahnya kau bergabung. Setelah kematian ayahku kau mencuri aset perusahaan dan hidup dengan baik. Aku tahu yang sebenarnya. Meski kau bergumam tentang pensiun dan taguhan medis, itu tidak akan membantumu sedikit pun. Jadi tutup mulutmu!” Su Ni memelototi Ji Tae dengan penuh kebencian.
Ibu Su Ni berusaha menenangkan Su Ni. Ji Tae tak bisa berkata-kata mendengar tuduhan Su Ni yang sepertinya benar. Ia mengancam akan mengeluarkan Su Ni dan keluarganya dari rumah ini jika mereka tidak mengeluarkan Chul Soo. Tapi Su Ni tidak takut. Ia malah menantang pergi bersama-sama ke kantor polisi.
“Pak polisi, apakah kau melihat pisau dan tongkat yang ia pakai? Mari kita pergi ke sana dan memeriksa dengan benar!”
Ia menantang Ji Tae memanggil ayahnya. Ia juga memiliki banyak pertanyaan untuk mantan rekanan bisnis ayahnya itu. Jika Ji Tae tak berani, maka sebaiknya Ji Tae tidak lagi menganggunya, keluarganya, maupun Chul Soo.
Su Ni berjalan pergi dengan marah. Chul Soo mengikutinya. Ji Tae langsung mengamuk dan membanting semua barang yang ada, termasuk gitar Su Ni. Mendengar suara gitarnya, Su Ni terhenti. Pak polisi lalu datang untuk memborgol Chul Soo dan membawanya pergi.
Bukan hanya Chul Soo yang dibawa ke kantor polisi, Ji Tae dan teman-temannya pun diinterogasi. Keadaan tidak menguntungkan bagi Ji Tae. Selain ceritanya “tidak masuk akal”, Ji Tae juga kedapatan habis minum minuman keras.
“Kudengar jika seseorang banyak minum minuman keras, ia tidak bisa mengenali orangtuanya sendiri,” kata polisi.
“Kau tidak percaya?!” bentak Ji Tae sambil menggebrak meja.
Tentu saja polisi semakin tidak simpatik dengan sikap Ji Tae yang begitu arogan. Ji Tae berusaha menjelaskan kalau apa yang ia lakukan bukanlah apa-apa. Chul Soo yang telah melemparkan segalanya dan membunuh orang.
“Kau harus memenjarakan monster itu!” katanya sambil menunjuk Chul Soo.
“Tidak ada yang terbunuh, itu hanya luka ringan,” kata polisi dengan tenang. Ia lalu memarahi teman-teman Ji Tae. Teman-teman Ji Tae tak berani membantah. Mereka menunduk ketakutan saat melihat Chul Soo.
Polisi berkata Ji Tae telah melakukan vandalisme, masuk tanpa izin, dan memicu tindak kekerasan. Ia juga menyinggung tuduhan Su Ni tadi. Intinya polisi ingin menyelesaikan masalah ini dengan damai.
Maka Chul Soo pun kembali ditempatkan di gudang luar rumah. Ji Tae yang menyebalkan pura-pura ingin berbaikan dengan Su Ni dan keluarganya. Bukankah ia akan tetap menikahi Su Ni pada akhirnya?
Ia berkata Chul Soo adalah monster yang berbahaya. Tidak boleh dikeluarkan dari ruangan di ujung gudang.
Saat membersihkan gudang, ibu Su Ni mengeluarkan barang-barang peninggalan pemilik terdahulu. Ji Tae melihat salah satu surat. Nama yang tertera adalah Park Jeong Du.
Ji Tae lalu mendatangi seorang profesor bernama Kang Tae Shik. Profesor Kang sepertinya mengenal Profesor Park (pemilik rumah terdahulu yang mati karena serangan jantung). Ji Tae berkata ia telah menemukan hal yang sangat menarik dan mungkin Profesor Kang ingin mengetahuinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
A Werewolf boy
RomanceA werewolf boy Bercerita tentang seorang gadis yang bertemu dengan manusia serigala di sebuah rumah. dan kemudian diceritakan ia jatuh cinta dengan pria tersebut ! Banyak Intik dan Polemik ada Kisah Cinta Segitiga Dll Penasaran bagaimana Kelanjutan??