Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan telah ku lewati sebagai seorang murid di akademi Konoha dengan standar biasa saja. Tidak seperti Sasuke, dengan kejeniusannya. Ataupun Naruto, dengan kebodohannya.
Namun seperti apapun tingkat kecerdasannya, kami hanyalah tiga orang manusia biasa yang dengan niat tak niat dan mau tak mau mengikuti pelajaran demi satu tujuan inti yang sama, untuk menjadi seorang Ninja, sama seperti tujuan murid lainnya.
Hingga tiba saatnya ujian final akademi, kami pun ternyata tetap duduk bertiga. Sesuatu yang tidak dapat dipungkiri bukan?
Tanpa di tanya pun semua orang sudah dapat memperkirakan skor kami masing-masing. Sasuke dengan kehebatannya pastilah mendapat nilai sempurna, aku dengan otak yang pas-pasan juga mendapat nilai pas-pasan, sementara Naruto dengan kebodohanny mendapat nilai 0.Namun sebelum Sasuke mengumpulkan jawabannya, ia sempat melemparkan sebuah remasan kertas ke wilayah mejaku. Dan lalu pergi begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa.
Dengan hati-hati ku buka perlahan kertas tersebut. Takut kalau aksi mencurigakanku terlihat oleh panitia ujian.'Sakura, sejujurnya aku sangat malas membantumu. Namun akan sangat menyedihkan jika kau tidak dapat ikut lulus denganku. Aku akan memberikan kode jawaban di balik jendela pojok depan agar guru Iruka tidak mencurigaimu. Penglihatanmu masih bagus kan?'
'Ck menyebalkan! Tentu saja masih, Shannaro!' Batinku kesal sembari mengangguk dan lalu membaca kelanjutan isi kertas yang ternyata adalah surat tawaran bantuan itu.
'Kau tidak perlu khawatir soal Naruto, setidaknya jika aku mendapatkan nilai sempurna, kau nilai cukup, dan dia nilai nol, maka kita masih dapat lulus. Itu perkiraanku.
-Uchiha Sasuke'
Akupun hanya mengangguk-angguk ria tanda mengerti dan lalu dengan seribu langkah hati-hati ku masukkan surat dari Sasuke ke dalam laci mejaku. 'Lumayan jika disimpan, buat kenang-kenangan, jarang-jarang kan seorang Uchiha mau repot-repot menulis surat sepanjang ini?' Batinku senang.
Ku lirikkan mata ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, serta ke sudut. Untuk memastikan bahwa aku aman. Setelah itu ku miringkan sedikit kepalaku agar dapat menjangkau kode dari Sasuke yang ternyata sudah menungguku dengan tampang kesal dibalik jendela.
Akupun hanya memberikan cengiran kuda terbaikku sembari mengacungkan jari telunjuk serta tengah yang bermaksud 'gomen'.-oOo-
Dengan cekatan aku bertanya kepada Sasuke nomor-nomor yang sangat sulit dijawab. Namun Sasuke menggeleng. Dia mengatakan melalui kode jari bahwa jika aku menjawab soal yang sulit, maka Sensei akan mencurigaiku. Akupun mengangguk mengerti dan menanyakan soal dengan tingkat kesulitan: sedang.
Setelah beberapa menit berkomunikasi dengan Sasuke yang berada di balik jendela dengan ngenesnya, (kenapa ngenes? Karena dia pasti pegel linu berdiri hampir 30 menit di luar sana) aku pun dapat mengerjakan soal tingkat mudah dan sedang. Sengaja ku tinggalkan soal-soal tingkat sulit agar Sensei tidak curiga seperti yang dikatakan Sasuke.
Setelah dirasa akan membantu keselamatan lulusnya tim kami, aku pun mengumpulkan jawaban dengan mantap yang disertai tatapan bingung dari seisi kelas, termasuk Naruto.
Namun, ketika aku sudah meraih gagang pintu dan ingin menggesernya, suara Iruka Sensei menahanku. Ku lirik sekilas Sasuke yang masih mengintip disana ikut terkejut. Dapat kupastikan Sasuke berfikir bahwa aku ketahuan nyontek."Sakura, mengapa ada soal yang tidak kau isi? Waktunya masih lama." Tanya Iruka bingung.
"Saya memang tidak bisa menjawabnya, Sensei. Itu diluar kemampuan saya. Dan lagi pula jika saya tetap berdiam diri disini sementara saya memang benar-benar tidak bisa, malah akan membuat saya gelisah dan akhirnya Sensei pasti mencurigai saya." Jawabku tenang yang sukses membuat seisi ruangan melongo. Sementara Sasuke diluar sedang tersenyum bangga ke arahku.
'Ternyata si Cherry itu tidak terlalu lemah juga.' Batinnya senang.

YOU ARE READING
The Pain of Sadness (Sasusaku)
Fanfiction"Seharusnya dari awal aku sadar diri, bahwa cintamu takkan pernah untukku. Namun biarkanlah aku tetap berfantasi seolah kau milikku, setidaknya hal itulah satu-satunya cahaya kebahagiaanku." -Haruno Sakura (Sasusaku)