Aku tidak akan kalah!

446 25 0
                                    

     Suara kicauan burung di pagi hari terdengar memilukan di telingaku. Mengapa? Aku juga tidak tahu. Kulitku yang hampir membeku kedinginan disapa oleh sinar hangat sang mentari. Rasanya seperti aku enggan untuk bangun. Bangun dari kenyataan yang pahit itu.

Tapi tunggu dulu..

Dimana aku?

"SASUKE-KUN!" Teriakku ketika pertama kali aku membuka mataku. Ninja patroli Konoha yang sedang berlalu lalang menantapku bingung, beranggapan bahwa aku telah berada dalam sebuah mimpi buruk tadi malam.

Ya asal kalian tahu itu bukan mimpi!

Kejadian tadi malam nampaknya akan membawa bencana baru..

Bagi hatiku, maupun desaku..

-oOo-

"Tsunade-sama!" Sapa ku dengan nafas tidak teratur. Wajar, karena aku berlari cukup jauh, dari perbatasan Konoha sampai ke tengah jantung Konoha, gedung Hokage.

"Hei-hei tenangkan dirimu nak. Ada apa menggangguku pagi-pagi?" Tanya Tsunade santai.

"Sasuke..."

"Mengapa dia? Belajar jutsu baru? Biarkan saja itu bagus untuk perkembangannya."

"Sasuke-kun.."

"Jangan bertele-tele Sakura.."

"Dia pergi dari Konoha, semalam aku sempat menahannya sebentar dan kami terlibat suatu konflik percakapan.. Sepertinya dia memukul titik syaraf saya sehingga saya pingsan. Karena ketika tadi pagi saya terbangun, ternyata saya tertidur di dudukan semen dekat pintu perbatasan." Jelasku serinci mungkin. Bukan main respon terkejut dari sang Hokage Kelima itu. Dia membelah mejanya menjadi dua akibat kemarahannya.

"Kuso! Uchiha memang selalu merepotkan!" Amuk Tsunade.
"Shizune sekarang siapkan semua unit ANBU maupun shinobi yang sedang tidak bertugas untuk mencarinya! Dia pasti belum terlalu jauh!" Perintah nya.

"Sakura kau boleh keluar, terimakasih infonya." Ucap Tsunade sembari memasang senyum palsunya yang bermaksud mengusirku segera. Saat aku hendak menutup pintu, kulirik wanita tangguh itu sedang memijit-mijit kepalanya. Dia pasti stress berat. Tentu saja, seorang Uchiha.. Satu-satunya Uchiha yang tersisa di Konoha, melarikan diri dengan begitu mudahnya.

     Dengan kondisi fisik yang masih terkulai lemas, aku memutuskan untuk pergi memberi kabar kepada Kakashi-sensei secara langsung, dengan cara bertamu kerumahnya.

Di sisi lain..

     Sesosok pria bermata sharingan dengan ganas memandang sesosok ANBU konoha di hadapannya.

"APA KAU SERIUS?" Bentaknya. Lupakan soal harga diri Uchiha, toh yang kini tersisa dapat dihitung dengan jari saja.

"Benar, Itachi-sama. Uchiha Sasuke melarikan diri malam tadi. Intel kami dapat langsung melalui salah seorang rekan setim nya yang sangat spesial dimatanya. Haruno Sakura merupakan saksi dari kepergian Uchiha muda." Ucap ANBU tersebut dengan menutup matanya, wanita bersurai ungu yang mukanya di tutup oleh topeng khas ANBU itu sebenarnya sedang berada dalam ketakutan. Bagaimana tidak? Dia berhadapan satu lawan satu dengan Uchiha yang paling jenius sepanjang sejarah untuk menyampaikan informasi penting. Dan kini si sulung Uchiha itu sedang tidak dalam kesadaran total karena kemarahannya. Sharingan miliknya aktif secara tiba-tiba ketika mendengar nama sang adik tercinta.

     Ya, sebut saja dia Uchiha Itachi. Mantan ketua ANBU Konoha yang diduga membunuh Uchiha Shisui, sahabat seperjuangannya. Beserta seluruh anggota Klan Uchiha. Sesosok penghianat kejam yang sebenarnya adalah pelindung Konoha di balik bayang-bayang.

     Dia satu-satunya Nukenin yang di beri akses untuk keluar masuk Konoha dengan mudah semenjak zaman Hokage Ketiga. Tidak ada yang tahu alasannya selain Hokage, dirinya, dan Kamisama yang maha tau.

     Bahkan Uchiha yang satu ini diberikan suatu fasilitas untuk memantau adiknya serta desa, melalui seorang ANBU kepercayaan Hokage Ketiga, Yugao. Sekali lagi, tidak ada yang mengetahui hal ini.

"Apa yang anda ingin untuk saya lakukan, Itachi-sama?" Tanya Yugao dengan menahan semua bulu kuduknya yang seakan mau berdiri karena merasakan aura di sekitarnya sangatlah gelap.

"Teruslah berusaha mencari informasi tentang keberadaan Sasuke. Jika kau sudah mendapatkannya kabarkan aku. Jangan lupa untuk menjaga dirinya dari jauh." Ucap Itachi singkat dan lalu menghilang dengan wujud burung-burung gagak. Yugao sudah tahu kemana si sulung Uchiha itu akan pergi.
    
     Tentunya mencari lokasi adik tercintanya dengan mata dan kepala sendiri. Sekalipun ia memiliki Yugao yang merupakan bawahan pribadi nya, Itachi bukanlah tipikal orang yang dengan mudah menggantungkan harapannya pada orang lain.

     Setelah kepergian Itachi, Yugao menghela nafas lega. Namun beberapa menit kemudian kembali berekspresi lesu.

"Misi macam apa ini..."

     Oh Yugao yang malang, salahkan nasib sialmu yang terpilih menjadi bawahan pribadinya.

-oOo-

NORMAL POV

TOK
TOK
TOK

"Masuk."

"Tsunade-sama.."

"Hn?"

"Jadikan aku murid mu!" Ungkap gadis berhelai merah jambu dengan ekspresi yang sangat tegas, serius, dan terlihat mematikan.

'Hn, aku suka ekspresimu. Dan sepertinya kau memang cocok mewarisi ilmuku. Aku tahu kau tidak ingin kalah dari Sasuke dan Naruto' Batin Tsunade menyeringai.

"Baiklah, kau ku terima." Jawabnya sembari mempertahankan Seringainya.

"Terimakasih." Balas Sakura sembari menunduk hormat dan lalu bergegas keluar dari ruangan guru barunya itu.

"Tunggu."

"Ada apa Tsunade-sama?" Tanya gadis itu kikuk.

"Pelajaran kita mulai besok.." Tsunade seakan memenggal katanya.

"Jika kau tidak mau kalah dari mereka berdua." Seringai Tsunade yang membuat Sakura melongo heran. Bagaimana bisa Shisou nya ini mengetahui niatannya?

"Ha'i, Shisou."

     Tsunade menatap kepergian Sakura masih dengan seringainya. Sementara Shizune yang berada di sampingnya bergidik ngeri.

'Apakah ini efek dari kebanyakan meminum sake?'

"Nona, apa kau baik-baik saja?" Tanya nya khawatir.

"Iya kau tidak perlu cemas begitu Shizune."

"Lantas mengapa anda terlihat seperti itu?"

"Aah aku hanya senang bisa mewarisi ilmu ku. Dia memiliki tekat yang kuat, kau tahu? Dia ingin Sasuke mengakui kemampuannya suatu saat ketika mereka dipertemukan kembali. Itu yang dapat ku baca untuk sementara ini." Jawab Tsunade santai dan lalu kembali fokus ke pekerjaannya.

Keesokan harinya..

"Hei Sakura kau makan dulu!" Tegur Mebuki.

"Tidak usah, Kaa-san. Aku sedang terburu-buru." Jawabnya yang kini sudah berada di depan pintu rumah.

"Memangnya kau mau kemana pagi-pagi begini?"

"Aku kan juga butuh belajar." Ucapnya mengerlingkan sebelah mata sembari berpamitan kepada sang ibu terkasih.

"Berhati-hatilah..."

     Langkahnya menyusuri dengan cepat pertokoan Konoha demi menggapai impiannya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Tsunade berikan untuk belajar, sehingga nantinya dia bisa berdiri sejajar dengan teman-temannya dalam tingkat kekuatan yang imbang.

"Lihat saja, aku tidak akan kalah dari kalian, Naruto.. Sasuke!!"

'Naruto..
Lain kali aku akan berada di sisimu..
Berjuang bersamamu..
Untuk menggapainya kembali.'

-oOo-
Bersambung~
Ditunggu vote dan reviewnya yaa, Minna-san!💞

The Pain of Sadness (Sasusaku)Where stories live. Discover now