Sandra's POV
Alarm handphoneku berbunyi membuatku bangun, ini masih jam 6 pagi. Untuk apa aku bangun pagi, toh ini hari minggu.
Wait, mengapa aku berada dikamar? Sepertinya semalam aku tidur di sofa. Aku mencoba mengingat kejadian semalam, aku bangun dan menangis dipelukan harry dan aku tak ingat apa yang terjadi setelah itu. Lalu tak lama aku merasakan ada tangan yang mendekap pinggangku.
"Tidurlah, ini masih pagi" Kudengar morning voice harry. Tunggu, jika harry ada disampingku, berarti aku tidur 1 kasur dengan harry? What?! This can't be happening.
"What are you doing harry?" Aku mengubah posisi tidurku menjadi menghadap harry. Betapa kagetnya aku melihat harry bertelanjang dada seperti ini. Sungguh, aku tidak bisa bergerak sedikitpun. Ini terlalu... Kau tahulah maksudku.
"Semalam kau tidur dipelukanku, aku tak tega membangunkanmu. Yasudah, aku bawa kau ke kamarmu dan menidurkanmu disini" Jelas harry. Lucu sekali ia, berbicara tetapi masih menutup matanya. Aku merasa kasihan kepadanya, pasti ia sangat lelah.
"Lalu mengapa kau ada disini?" Tanyaku bingung. Kau pasti bingung, ia berkata ia hanya ingin membawaku ke kamar namun mengapa ia juga ikut tidur bersamaku? Aneh.
"Tadinya aku tidur di sofa tempat kau tidur semalam, namun kudengar kau menjerit ketakutan. Aku langsung panik dan menghampirimu. Baru saja saat aku ingin kembali ke sofa untuk tidur, kau berteriak lagi. Dan semalam badanmu panas. Aku mecari obat penurun panas, namun tidak ada. Yasudah, aku diberitahu liam jika ada orang demam, kau harus memeluknya dengan keadaan half naked. Yasudah, aku lepas saja bajuku lalu aku memelukmu. Dan benarkan? Suhu tubuhmu sudah menurun sekarang." Aku diam tak bisa berkata apa-apa. Harry benar-benar seperti itu padaku? Setelah sekian lama? Setelah aku meninggalkannya? Mengapa ia memiliki hati seperti malaikat? Sedangkan aku memiliki hati seperti iblis. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa lagi setelah tahu perlakuan harry, ia masih peduli denganku.
"Why? Mengapa kau diam? Did i do something wrong? I'm sorry sandra, aku panik semalam, maaf sudah lancang memelukmu seperti semalam" Terlihat jelas dari ekspresi dan suara harry bahwa ia sangat panik dan sedikit... Merasa bersalah mungkin?
"Bukan harry, bukan. Aku tak marah padamu. Ya, kaget sebenarnya. Namun mendengar alasanmu, aku harusnya berterimakasih padamu hazz. Namun aku ingin bertanya sesuatu harry" Dengan begitu,bia langsung mengubah posisinya menjadi bersandar, setengah duduk. Dan menolehkan kepalanya kearahku.
"Apa? Katakan padaku, aku akan menjawabnya" Harry menatapku bingung, aku menghela nafas.
"Mengapa kau masih peduli padaku? Setelah aku meninggalkanmu?" Akhirnya aku dapat menanyakan itu semua. Mataku panas, ingin menangis -lagi- tentunya.
"Kau ingat semalam aku berkata apa padamu? Aku ingin memperbaiki semuanya sandra. I want to start it all over again. I already forgive you sandra" Tanpa sadar harry mendekapku kedalam pelukannya, sungguh nyaman dapat merasakan pelukannya lagi.
"But harry, aku tak pantas mendapat ini semua. Aku sudah meninggalkanmu tanpa alasan, dan aku meminta maaf padamu dan kau---" Omonganku terhenti saat jari telunjuk harry berada diatas bibirku yang sudah basah karena air mata.
"Look at my eyes, sandra" ia memegang daguku dan mengarahkan wajahku agar aku dapat melihat dan memandang matanya emeraldnya.
"Aku tak peduli apa yang kau lakukan padaku waktu dulu. Itu hanya masa lalu kan? Toh kau juga meninggalkanku karena suatu alasan. No more tears, okay? Aku tak suka melihatmu menangis, kau tahu kan?" Aku menganggukkan kepalaku.
"I'm such a bitch, harry. Kau tak pantas berlaku seperti ini terhadapku"
"Sandra, look!" Ia membentakku. Aku menatap matanya, kali ini matanya dipenuhi amarah. Sama seperti dulu waktu aku selalu menjelek jelekan diriku sendiri dihadapannya.
YOU ARE READING
Fake Relationship ( Harry Styles Love Story )
FanfictionBagaimana jika management mengharuskan Harry Styles berpacaran dengan sahabat kecilnya? Sahabat yang dulu sempat meninggalkan Harry... Bagaimana jika Sandra juga tidak mengetahui bahwa management memaksa ia berpacaran (berpurapura) dengan seorang Ha...
