[PART 5] Perfect Storm

2.4K 183 5
                                    

PERFECT WIFE
2013 >AISYAQILA POV

"Bagaimana jika kita bertemu di D'Caffe?."
Aku memandang ruang chat di Facebook dan tersenyum.
Jujur aku tidak pernah jatuh cinta walaupun menjalin hubungan dengan beberapa lelaki. Mungkin karena kata-kata Fanny juga, pria yang sejak kecil menjadi sahabatku itu pernah berkata.
"Jika kau tidak ingin sakit hati, pastikan cintamu untuk Tuhan sebelum kau menikah, jangan pernah memberikan hatimu pada siapapun. Berikan hatimu, saat detik pertama setelah ijab qabul bersama orang yang berhak."
"Bagaimana caranya?," tanyaku.
"Kau boleh membina hubungan secara ta'aruf, sebelum menikah, pastikan, jangan sampai kalian bersentuhan walau seujung jaripun. Cinta, berasal dari sentuhan, baik sentuhan pandangan yang tidak terjaga atau sentuhan ragawi yang lain," kata Fanny. Aku semakin mengagumi Fanny dan merasa, jika diperbolehkan, mungkin aku menginginkan lelaki yang seperti Fanny, tapi perasaan diantara kami memang tidak bisa dipaksakan, hubungan kami, terkoneksi seperti saudara, mendekati saudara kembar identik mungkin, selisih lahir kami hanya beberapa detik, pada jam, tanggal, bulan dan tahun yang sama. Aku dan Fanny seperti dua garis yang sejajar, sama persis, walaupun setiap orang melihat kami serasi dan sempurna sebagai pasangan, tapi kami terlalu sama, terlalu mirip, warna kami sama sehingga kami merasakan kebosanan saat aku tahu yang dia pikirkan dan dia tahu apa yang kupikirkan. Kami mentok menjadi dua orang sahabat sehidup semati, hahaha.
Tahun 2007. Dialah yang mengusulkan aku bertaubat dan memakai jilbab, ternyata aku memang menyukai memakai jilbab seterusnya. Memakai jilbab menyenangkan. Seolah Tuhan menjagaku seutuhnya. Aku berterimakasih padanya akan usulnya yang satu itu saat hidupku berada di puncak kegalauan. Jilbabi tubuhmu dulu, nanti hatimu akan terjilbabi secara perlahan, katanya, melawan teori-teori ustadz terkemuka. Lakukan, baru biasakan!
Aku berkonsultasi sebentar pada Fanny. Tentang dua orang yang Kopdar di cafe apakah diperbolehkan.
"Ajak salah satu kakakmu, jika memungkinkan, kenalkan kakakmu sekalian Rik, jika tidak cukup kakakmu mengawasi kalian saja."
Akupun menyetujui ajakan lelaki itu untuk Kpdar di cafe dan menyogok kakakku, Daffa agar membuntuti kami diam-diam.
"Cie, adik gue, akhirnya mau usaha jual diri juga," kmentar Daffa sadis, aku mendengus.
"Inget usia, udah dua lima, perawan tua tuh itungannya, lima tahun lagi kepala tiga, jatahnya dapet duda tuh," Daffa terbahak, sial, seharusnya aku tidak mengajaknya.
"Please deh kak, kayak kamu laku aja," aku memutar bola mata. Bahkan ketiga kakakku yang lain sudah menikah, malah lelaki paling tampan di keluargaku ini masih santai dengan kesendiriannya.
"Eh, paling enggak, aku udah punya calon yang udah kenal sama bapak sama ibu, lha kamu? Setiap kali ta'aruf bubar jalan?."
Aku cemberut.
"Tuhan ngasih aku visi tentang lelaki itu dalam mimpiku hanya sampai alamat tingkat kecamatannya saja, aku nggak tahu dia tinggal di desa mana, RT atau RW berapa, karena itu aku hanya berkencan berdasarkan inisial nama dan asal kecamatan lelaki itu," gerutuku. Daffa hanya terkekeh pelan.
"Ini jaman modern, masa kamu mempercayai mimpi mimpimu yang absurd?."
Aku mengerdikkan bahu melanjutkan perburuan isengku. Bagaimanapun mimpiku terlihat nyata, sehingga terkadang aku asal sambar, asalkan teman kencanku berasal dari kecamatan M, dengan inisial AS, kadang aku gelap mata dan Kopdar, dengan pengawasan kakakku tentu saja.
"Apa salahnya yang ini dicoba juga?," kataku pada Daffa.
Kakakku menghela nafas panjang. "Mending shalat hajat, taubat dan istikharah kamu dek, setelah Ardi Susanto, Ahmad Shiddiq, Achmad Salihin, sekarang siapa lagi?,".
Aku menghela nafas menyebut nama pria itu dalam hatiku.
Ahmeed Shahriar.
Seperti apa dia? Apakah dia tampan? Minimal setampan Fanny Gunawan ku? Fanny yang kata orang mirip Channing Tatum? Denagn dagu persegi dan mata tajam cerdasnya? Hei, jangan Fanny dong menjadi patokan! Aku menepuk kepalaku. Udahlah, apa beratnya sih Kopdar, tidak cocok ya lupakan, cocok ya Alhamdulillah. Yang penting enggak dijodohin sama anak rekan kerjanya Ayah!
---
"Aisya?," aku sedang asyik menulis beberapa resep di netbookku saat merasa seseorang berdiri di dekatku.
"Aisya?,"....
Deg!
Aku tidak sengaja menengadah dan melihat mata tertajam yang memandangiku. Kenapa ada mata yang lebih menusuk dibanding tatapan seorang Fanny Gunawan?. Kenapa tampaknya ada aura yang berbeda melingkupinya? Tadi pria itu bertanya apa? Aku merasa otakku tiba-tiba hang, macet, tidak mampu berfikir sementara pria itu menampakkan giginya yang berderet putih rapi dan tangannya menyeka rambutnya yang basah. Eh? Di luar hujan ya? Aku menoleh melihat ke jendela luar cafe dan melihat hujan turun dengan derasnya. Tadi pria ini ngomong apa ya?
"Kerudung pink...kamu Aisya?," pria itu bertanya padaku.
Hampir aku menepuk jidatku.
Iya, aku bukan Arik.
Aku Aisya....
---
"Supaya kencan lo enggak gagal lagi, stop bertingkah kayak preman jalanan!gue udah muak ada orang cantik menyia-nyiakan paras cantiknya!"
Nefertari, sahabatku sejak jaman kuliah di UPN melepas kerudung hitamku dan jacket kulitku.
"Lo, bukan Arik Sanjaya Ahmad tapi Aisyaqila Ariana Ahmad. Lepaskan jubah serba hitam kamu, kalau kamu ingin melupakan masa lalu kita yang penuh kegelapan, lepaskan semua atributmu yang penuh penyesalan itu."
Aku memandang Nefertari tidak mengerti.
"Hitam adalah kostum D'Wired, bukan? Walaupun kita masih anggota D'Wired dengan sumpah kelompok rahasia kita itu, tapi kita sudah lama bukan lagi kelompok peretas, lupakan rasa bersalah itu Rik, jika kau ingin memperbaiki hidupmu, jadilah Aisya...pakai nama depanmu, lupakan nama tengah 'truble maker' mu...."
Lalu Nefertari yang cantik seperti ratu, membantuku berubah.
No black again in my life.
Warna-warna pastel dan gambar bunga-bunga mungil menghiasi wardrobe ku. Untuk meninggalkan masa laluku, aku seperti bermain drama, dari seorang ksatria, menjadi seorang putri jelita yang lemah lembut, terlalu lemah bahkan, entah sampai kapan, aku menyembunyikan sikap ksatriaku. Aku tidak tahu.
---
"Eh, maaf, iya saya Aisya," aku tersenyum manis, aku sudah berlatih bersikap manis, semoga pria ini terkesan.
Tapi entah kenapa, di hadapannya, tiba-tiba sikap yang belum dan tidak pernah ada sebelumnya, tiba-tiba bertunas, muncul bahkan tumbuh subur.
Hatiku berharap, saat terpaku pada tatapan matanya.
Menurutku, dia tidak terlalu rupawan.
Biasa saja dengan batik dan celana hitam yang dikenakannya, matanya sipit tapi bersorot tajam, rambut hitamnya jabrik, hidungnya tidak mancung, tapi proporsional, dagunya lebar dan bibir tipisnya berwarna kemerahan seperti perawan saja, uh, bibirku saja tidak sebagus itu, tapi secara keseluruhan dia tampak keren. Mungkin karena aku terlalu lama bergaul dengan Eldorado dan Bumblebee yang nama aslinya Edo Allardo dan Bhumi Bayusetra, mereka lelaki cosmo seksual yang berpenampilan cantik, pria manly seperti Shahriar seperti bayangan asing tentang lelaki bagiku. Mungkin bagi orang lain, pria seperti Shahriar tampan. Tapi aku tidak mau mengakui ketampanannya, kalau aku belum jatuh hati kepadanya. Tidak sekarang, mungkin....nanti?
Dia seorang guru di sebuah SMP paling favorit di kota kami. Aku memperkenalkan diri sebagai salah satu guru Tata Boga di suatu sekolah putri.
Pembicaraan kami seputar pendidikan, kurikulum dan perangkat pembelajaran. Seperti MGMP saja, lalu aku mengajaknya bicara sedikit seputar politik, dia cukup cerdas, sedikit ekonomi, luar biasa, dia bicara tentang teori ekonomi yang aku tidak sangka.
"Saya hanya guru biasa, dengan kehidupan yang biasa saja, tapi saya berfikir karena ekonomi negara kita yang cukup kacau, saya lebih suka menginvestasikan penghasilan saya untuk membeli tanah," dia terkekeh. "Daripada membeli saham."
Cukup cerdas.
Tiba-tiba aku menyadari, baru kali ini aku tidak menguap bosan mendengar lelaki bicara, tidak berkomentar menyakitkan, tidak memasang wajah muak, secara keseluruhan, aku mencoba bersikap sangat manis di depannya. Tertunduk malu-malu, tersipu-sipu dan melirik sekilas saat dia bicara, lalu tersenyum dan tertawa sopan, tidak terbahak-bahak. Sial, ada apa denganku? Lelaki ini tidak rupawan menurutku, tapi dia lelaki termanis yang pernah kukenal. Dia memiliki kharisma yang membuatku merasa nyaman walaupun tidak menjadi diriku yang sebenarnya.

Perfect WifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang