PERFECT WIFE
2014 >AHMEED SHAHRIAR POV
WEDDING DAY You're the light, you're the night
You're the color of my blood
You're the cure, you're the pain
You're the only thing I wanna touch
Never knew that it could mean so much, so muchYou're the fear, I don't care
'Cause I've never been so high
Follow me to the dark
Let me take you past our satellites
You can see the world you brought to life, to lifeSo love me like you do, lo-lo-love me like you do
Love me like you do, lo-lo-love me like you do
Touch me like you do, to-to-touch me like you do
What are you waiting for?"Ya Ahmeed Shahriar bin Habibi Shahriar uzawwijuka 'ala ma amarollohu min imsakin bima'rufin au tasriihim bi ihsanin, ya Ahmeed Shahriar bin Habibi Shahriar?"
"Labbaik"
"Anakahtuka wa zawwaj-tuka makhthubataka Aisyaqila Ariana Ahmad binti Adi Sanjaya Ahmad bi mahri mushaf alquran wa alatil 'ibadah haalan?"
Aku bersiap mengatakan sumpah sehidup matiku dalam satu tarikan nafas. "Qobiltu nikaahahaa wa tazwiijahaa bil mahril madz-kuur haalan."
Bapak penghulu tersenyum dan mengedarkan pandangan kepada segenap hadirin.
"Sah?."
"Saaaahhhhh."
Semua menjawab kencang termasuk Trio Kampret, sahabatku semasa kecil hingga bujang di belakangku.
"Congrats Riar..." Bharata menyodok rusukku keras. Erwin dan Yulian terbahak-bahak di belakangku. Setan! Mereka pasti merekam wajah pucat pasiku dengan telak. Aku yang menikah belakangan dibandingkan mereka.
"Sekarang bacakan Ar-Rahmaan untuk istrimu...," perintah bapak penghulu. Dengan gemetar aku menerima sebuah Mushaf dan mulai membacakan Ar-Rahmaan untuk bidadariku yang sedang duduk manis di atas sana di lantai dua, sudah empat puluh hari aku tidak diperbolehkan bertemu dan berkomunikasi dengannya. Bukan penasaran lagi, tapi rindu, rindu yang teramat sangat kurasakan padanya. Aisya....
Semuanya terjadi begitu cepat.
Satu bulan setelah perkenalan, aku berani melamarnya.
Enam bulan kemudian, pernikahan ini terjadi.
"Kalau Aa serius, tinggal lamar aja Aisya, nggak perlu pakai lama," kata gadis itu setelah pertemuan ketiga kami.
Aku melihat pancaran canda dalam tatapannya, tapi aku menanggapinya serius.
"Besok malam, kubawa orang tuaku menemui orang tuamu."
Memang benar, dia mengira aku bercanda, orang tuanya hanya menyangka ini hanya perkenalan biasa dan tidak ada persiapan apapun.
Tapi aku sudah mempersiapkan semuanya.
Aku sudah menunggunya selama seperempat abad lebih, masihkah aku harus menunda lagi dan lagi?
Saat melihat tanggal kelahirannya yang sebenarnya, aku tertawa.
Tanggal lahirnya selisih satu hari denganku, aku tanggal 8 dan dia 9 di bulan yang sama, tahun kami hanya selisih satu tahun, lebih tua aku tentu saja. Tuhan sudah mengatur tanggal-tanggal cantik itu untuk bertautan dan kami memilih tanggal tujuh untuk hari pernikahan kami.
Trio Kampret benar-benar tidak mau membiarkanku melihat wajah istriku walau sejenak. Mereka menyeretku menemui tamu lelaki di aula bawah dan Aisya menemui para tamu perempuan di lantai dua.
Agak siang, aku sudah bersiap dan berangkat ke hotel tempat resepsi. Aisya akan menyusul setelah berdandan.
Saat aku hendak keluar ruangan, kulihat seorang perempuan bergaun putih. Aisya, dia tengah berjalan anggun di koridor lantai dua, tiba-tiba kulihat seorang wanita bergaun hijau menghadang langkahnya, menyeret Aisyaku menuju ke suatu tempat. Mungkin temannya?
"Ayo bergegas," ayah menepuk bahuku dan aku menahan rinduku, sekali lagi, meninggalkan gadisku di sini, nanti kami akan bertemu di pelaminan, mungkin dia butuh berdandan juga.
---
"Ayo pak sopir, jalan....," ayahku memberi pengarahan pada sopir kami dan mobil berjalan keluar dari gerbang rumah keluarga Aisya. Kami akan melewati jalan setapak yang cukup panjang sebelum benar-benar keluar gerbang. Saat aku melihat ke arah belakang, aku melihat wanita bergaun putih itu lagi, Aisya? Sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang, aku melihat sesosok lelaki berbaju serba hitam di depannya.
Aku ingin menghentikan mobil, tapi mungkin itu bukan apa-apa.
Akhirnya aku membiarkan mobil berjalan dengan hati tetap bertanya-tanya.
Siapa lelaki itu?
---
PERFECT WIFE
2014 >AISYAQILA POV
WEDDING DAY

KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Wife
HumorAisyaqila Ariana Ahmad. Empat tahun yang lalu, saat si tomboy itu kuliah di Teknik Informatika UPN Yogyakarta, teman-temannya melihat dia sebagai anak lelaki cantik, berrambut pendek dan doyan memakai jeans belel. Bahkan nama panggilannya jauh dari...