PERFECT WIFE
2015 >AHMEED SHAHRIAR POVAku sedang mengerjakan lemburan perhitungan aset negara di laptopku seperti biasa dan sejenak menikmati aroma macchiato yang lembut menggoda inderaku, menyesapnya sedikit dan kembali fokus pada lemburanku.
Maafkan aku sayang.
Istriku mungkin sedang sibuk di rumah menina bobo kan putri kami yang jelita sambil bernyanyi lagu lembut "Tidurlah Intan", yang dinyanyikan Sundari Soekotjo, lagu lawas nan lembut yang menggambarkan dirinya.
Dia cantik, dia sempurna, dia penurut. Istriku.
Tapi kenapa aku berada di sini? Kelembutan dan kepatuhan bisakah terasa menyesakkan? Terkadang aku menggoda dan menjahilinya, dia hanya tertawa kecil dan tersenyum lembut. Saat menikah dengannya, aku menemukan kembang sempurna yang memerah malu saat tatapanku menelusurinya. Perawan yang manis. Tapi terlihat rapuh dan aku selalu berhati-hati terhadapnya, takut merusaknya dengan kekuatan tanganku. Setiap kali aku sedikit berkata keras padanya, kupikir aku bisa meremukannya. Melihat airmata di sudut matanya, bisa membuat hatiku rapuh. Aku benci tapi aku harus mengakui, aku tidak menyukai kesempurnaannya. Saat aku mencium bibirnya berusaha mengendalikan diriku selembut mungkin, karena tubuhku ingin meremukannya, sekuat tenagaku, seliar pikiranku. Aku ingin dia nakal, aku ingin dia membara di bawah sentuhanku, tapi dia sangat sopan dan manis. Aku benci bersikap munafik, aku bukan malaikat, tapi harus bersikap seperti malaikat yang terhormat di depannya. Istriku, berprofesi sebagai guru yang mungil dan manis, manja dan menggemaskan. Pandai dan lembut dalam bertutur kata, awal pertama menikah dengannya, dia sempurna, tapi sekarang aku bosan.
Tapi, aku bukan lelaki yang tidak setia. Tidak seperti itu. Aku tetap setia, hanya dia yang ada dalam hatiku, aku hanya berselingkuh dengan pikiranku saja, pernah aku mencoba mengajaknya sedikit berbuat nakal. "Nonton blue film yuk?."
"Apa?", dia memandangku dengan tatapan polosnya.
Aku berbisik nakal, tapi dia bersemu merah.
"Ti...tidak bisa...itu dosa Aa...."
Ah, sayangku yang manis.
Aku mengutuk diriku saat melihat wajahnya yang polos tertidur di sampingku. Apakah aku begitu jahatnya? Jika aku ingin berbuat sesuatu yang sangat liar padanya? Aku bersyukur pada Tuhan, otakku hanya menginginkan istriku dan tidak pernah berfantasy pada wanita lain, tapi pikiran ini cukup menyiksaku.
---
"Aku? Sama my Hubby?", suara seorang wanita di seberang mejaku membuatku menoleh, suara itu terdengar familiar. "Kita berdua memang cocok, kayak tai! Lengket dimana-mana, hahaha....."
Hmm, mungkin aku salah, suara itu persis mendayu sexy seperti suara yang kukenal tapi terdengar lancang dan jalang. Wanitaku tidak mungkin bersikap seperti itu. Sekilas aku memandang dari balik kerai pembatas ruang privat ku karena penasaran.
Wanita itu memakai jeans dan kaos yang cukup panjang menutup sampai lutut dan berlengan panjang, semua tertutup warna hitam, wajahnya tidak jelas tertutup jemper hitam. Ada dua orang lelaki dan seorang perempuan mengelilinginya.
"Apa kamu mencintainya?", tanya seorang wanita di sebelahnya.
"Cinta? Entahlah, pernikahan kami bukan pernikahan biasa, you know, kami tidak saling mencintai, kami ditinggal tunangan kami dan orang tua kami terdesak kebutuhan memiliki cucu", wanita berjemper hitam itu tertawa. "Aku tidak tahu cinta itu apa, tapi aku bersedia mati untuknya, dia manis sekali, lelaki termanis yang pernah kukenal."
"Azzael....apa kamu bahagia?", tanya lelaki di sampingnya.
Wanita itu terlihat menghela nafas panjang.
"Untuk orang sepertiku, bahagia yang dia berikan terasa tidak layak kuterima, dia tidak tahu siapa aku sebenarnya, dia tidak tahu dan aku takut mengungkapkan semua kejahatan yang pernah kulakukan, aku takut dia akan berhenti menjadi lelaki termanisku, jika dia tahu perbuatanku di masa lalu, aku, sangat-takut", wanita itu mendesah.
"Dia, tidak tahu masa lalumu?", pria itu berdecak. "Tidak penting Azzael, pernikahan adalah masa depan, bukan masa lalu."
Wanita itu menggeleng pelan. "Please Do, bagaimanapun pernikahan harus berjalan tanpa kebohongan, oke aku memang tidak pernah berbuat jahat dengan tubuhku, saat menikah dengannya, bibirnya adalah bibir pertama yang menciumku, tubuhnya adalah tubuh pertama yang menyatu denganku, hatiku, hanya terisi namanya dan nama Tuhan. Tapi yang menikah dengannya, bukan aku yang sebenarnya, dia hanya menikah dengan separuh bagian diriku, tapi dia tidak mengetahui kegelapanku. Perbuatan brutal masa mudaku, keisenganku menerima tantangan pertarungan dunia maya, menyebabkan banyak perusahaan kolaps dan entah berapa manusia yang kehilangan pekerjaan bahkan bunuh diri karena tempat kerjanya bangkrut. Dia menikahi seorang pengecut!", wanita itu terengah penuh emosi.
"Dia....kehilangan pekerjaan bonafidnya di salah satu perusahaan swasta terkemuka dan kehilangan tunangannya mungkin karena aku juga sehingga sekarang dia hanya bekerja sebagai pegawai negeri biasa...kadang aku merasa bersalah karena secara tidak langsung, akulah yang menghancurkannya di masa lalu. Dia sangat mencintai tunangannya, kau tahu? Setiap kali aku menanyakan tentang wanita itu, aku tahu mata suamiku masih menyebut namanya."
"Wow, drama queen banget hidup lo", pria berjacket biru yang satunya terkekeh melihat wanita itu. "Terus, apa lo mau serahin suami lo ke wanita itu jika elo tahu kenyataan kalau suami elo masih cinta sama cewek di masa lalunya?."
"Entahlah....gue pernah mau mengakhiri semua drama ini, gue tahu By, pernikahan ini rapuh, dia bisa ninggalin gue kapan aja kalau dia masih cinta sama mantannya, gue udah selidikin wanita itu, sedang mengajukan gugatan cerai ke PA. Mereka bisa kembali kapan saja, tapi gue juga usaha, itu enggak akan terjadi, selain demi anak gue, demi diri gue sendiri juga...", wanita itu meminum kopinya dan melihat pergelangan tangannya.
"Shit! Udah pukul setengah sepuluh, suami gue sejam lagi pulang....gue harus bergegas dan pura-pura tertidur di ranjang meluk anak gue...hmm, thanks traktirannya By, lo yang terbaik! Bye Eldorado...Nefertari, Bumblebee....."
"Azzael...Gue anter?", tanya Bumblebee. Wanita itu melambaikan tangan.
"Gue bisa sendiri By....."
Aku melihat siluetnya pergi dari lorong longue yang remang-remang. Aku memberi kode pada pelayan dan membayar minumanku, memasukkan laptopku dan mengikuti wanita itu diam-diam.
---
Wanita itu berjalan cepat dan mengontak taxi untuk membawanya pulang. Sebentar lagi suaminya pulang. Ah, betapa menyebalkannya sebuah rahasia, hidupnya penuh kebohongan karena rahasia itu membutuhkan banyak sekali kebohongan untuk menutupinya. Sesekali diliriknya jam tangan sambil menunggu taxi yang di pesannya.
Wanita itu terkesiap melihat sesosok bayangan tepat terlihat di sampingnya. Apakah dia diikuti penguntit? Sejak kapan? Kenapa dia tidak mendengar langkah kaki barusan? Apakah kewaspadaanya sudah luntur.
"Menunggu taxi?", suara tenor lembut itu membuat bulu kuduk si wanita berdiri, wanita itu melirik sejenak, memastikan.
Tidak. Lelaki berjacket hitam dan bercelana jeans cokelat itu tersenyum miring ke arahnya.
Wanita itu seperti melihat hantu.
Pria itu menatap tajam tepat di pupil iris si wanita.
Walaupun wajahnya tertutup jemper dan masker, pria itu tidak mungkin salah mengenali iris belahan jiwanya.
---
Aku melihatnya mundur.
Jeans, jemper dan sepatu boot hitam.
Aku tidak pernah membayangkan ada barang seperti itu di rumahku.
Aku hanya tahu wanitaku memakai gaun-gaun lembut berwarna pastel, sepatu-sepatu mungil yang feminin, jilbab warna-warni yang melambangkan jika dia adalah bunga yang rapuh dan indah, bukan mawar hitam berduri yang tangguh.
Dia kembar?
Tidak! Jika dia kembar, maka wanita ini tidak akan berlari menjauh dariku. Sisi hitam diriku tiba-tiba keluar, memburu mangsaku.
"Aduh Aa, larinya jangan kencang-kencang dong...", istriku selalu memprotes saat kami lari pagi di alun-alun dan aku hanya tertawa melihatnya rapuh, terengah-engah sambil memandangku dengan wajah memelas, aku tersenyum dan menghapus keringat di pelipisnya yang serapuh porcelain dengan lembut. Menggenggam tangan mungilnya yang berkeringat dingin dan berjalan pelan bersamanya, mendudukannya di kursi taman dan membelikannya minuman. Dia rapuh, sering sakit dan lemah.
Dia tidak bisa berlari kencang, tidak bisa berkelit dan tidak bisa...whoa? dia melompati tembok setinggi dua meter di kegelapan malam?
"Damn...", aku menggigit bibirku dan melakukan hal yang sama, semoga tidak dikira maling. Aku mengejarnya, gerakannya luwes seperti kucing hitam dan aku tersenyum, mengatahui dengan pasti ada apa di depan sana!
Jalan buntu.
Dia melihat tembok lima meter di depannya dan saat dia berusaha berfikir keras, aku sudah tepat berada di depannya. Kutangkap tubuhnya dan dia berkelit. Aku lebih cepat, meraih pinggangnya dan damn, dia menendangku dengan cukup keras. Aku menghentakkan tubuhnya dan dia dengan lincah bersalto membuat jarak hendak kabur lagi dariku.
"Stop it, My...."
Mymy ... yang artinya milikku, panggilan kesayanganku padanya, membuatnya berhenti melangkah. Dalam detik yang menentukan itu aku kembali meraih tubuhnya. Dia tersadar dan melawanku dengan jurus karate yang bisa kubaca. Uraken. Luar biasa, dia mampu memberiku pukulan yang cukup menggetarkan di kegelapan malam. Sekuat tenaga aku melompat ke dinding dan memantul menghadang langkahnya, meraih tubuhnya dalam pelukanku.
Srak! Kubuka paksa masker wajahnya dan purnama yang sejak tadi menghilang tertutup awan, kini menampakkan wajahnya, memantulkan cahayanya di wajah wanita cantik yang sedang tertegun memandangiku, sorot matanya terlihat tajam, tapi tiba-tiba meredup.
Aku memandangnya tajam.
Meraih dagunya yang runcing dan memandangnya dengan seksama.
Musuh bebuyutanku di masa lampau.
Bibirku menyebut nama Tuhan dan beristighfar.
"I'll carry you home,....Azzael."
Tubuh dalam pelukanku bergetar dan memberontak.
Aku menjilat bibirku dan menggertakkan gigi.
"Tapi sebelumnya kita harus bicara..."

KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Wife
HumorAisyaqila Ariana Ahmad. Empat tahun yang lalu, saat si tomboy itu kuliah di Teknik Informatika UPN Yogyakarta, teman-temannya melihat dia sebagai anak lelaki cantik, berrambut pendek dan doyan memakai jeans belel. Bahkan nama panggilannya jauh dari...