Pagi esoknya, aku bangun pagi - pagi sekali. Kami ada kegiatan kunjungan ke tempat wisata alam sekaligus outing class. Aku menyiapkan bekal makan siangku dibantu bunda, tapi aku juga mempersiapkan bekal tambahan nasi goreng yang dibungkus dengan telur dadar.
Aku harus tiba ke sekolah lebih cepat hari ini. Perjalanan kami kali ini akan mengunjungi sebuah perkebunan teh sekaligus belajar mengenai proses pembuatan teh mulai dari proses pemetikan, hingga ke pabrik. Sekolah kami selalu mengadakan outing class setiap tahunnya, hal ini guna mengembangkan pengetahuan para siswa supaya dapat belajar secara langsung dan mendapatkan pengalaman, tidak hanya melalui buku. Perjalanan kami akan menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk sampai ke lokasi, karena itu kami harus berangkat jam 06.30 wib agar dapat sampai sebelum pukul 11.00 wib. Semua siswa kelas XI ikut serta, termasuk Galang.
Ah, aku masih ingat pertemuan semalam, aku bingung dan tidak bisa menemukan kalimat untuk memulai pembicaraan. Sekarang semua serba terbalik, bahkan mengobrol seperti biasa saja aku tidak bisa, bagaimana aku mau mendekatkan diri ke dia. Aku bergegas pamit pada bunda dan berangkat ke sekolah diantar ayah. Setiba disekolah, suasana sudah ramai dipenuhi siswa kelas XI IPA dan IPS. Kami akan segera berangkat 15 menit lagi, aku hampir saja terlambat.
" Arinnnn lu telat banget sih" Gisel menghampiriku yang kebingungan.
" Haha iyah, tadi sibuk nyiapin bekal dulu Sel"
" 15 menit aja lu telat, ditinggal tau. Eh katanya kita bebas pilih bangku, lu duduk bareng gua aja ya jangan duduk bareng Rama oke. Biar aja dia duduk bareng temennya."
"Oke bos, siap."
Perjalanan pun dimulai, aku punya kebiasaan selalu tertidur tiap melakukan perjalanan jauh. Kali ini juga, mataku mulai pelan - pelan meredup, ocehan Gisel perlahan terdengar memelan, sebelum benar - benar tertidur aku melihat wajah Rama. Dia menghampiriku, memberikan aku bantal tidur dan membelai rambutku. Aku tertidur selama hampir dua jam lebih, saat terbangun kami sudah hampir sampai di tempat tujuan.
" Arin, bangun buruannnn"
" Eh emang udah sampai ya? Aduuh gua pusing .."
" Makanya kalau tidur jangan kelamaan, ga liat pemandangan sih."
" Kan ngantuk Sel, eh siapa ni yang naro bantal."
" Siapa lagi pangeranlu Rin, dimana gua nemu pangeran kayak gitu ya.."
" Siapa? Rama ya? "
" Iyalah. Eh akhirnya sampai juga.. Senangnya, yuk siap - siap turun Rin."
" Ok."
Guru pengawas kami mulai mengatur siswa-siswa agar dapat membentuk kelompok sesuai bus yang ditumpangi. Kami berangkat dengan 5 bus, termasuk guru - guru pengawas. Satu kelompok berisi 35 orang, semuanya akan menjalani aktivitas yang sudah dijadwalkan selama di wilayah perkebunan ini. Udara segar mulai dapat tercium, memang udara di area pegunungan terasa bedanya dari perkotaan. Rasanya menyegarkan bisa sesekali refreshing ke tempat seperti ini.
Kelompok kami ternyata akan dibarengi dengan kelompok IPS 2, kelasnya Galang. Aku melihat nya di barisan belakang, memakai jaket parasut dan tas ransel, aku rasa melihatnya dari sini sudah cukup untuk saat ini. Terlalu memaksakan diri untuk dekat dengannya pasti akan membuat dia merasa risih, atau bahkan menganggapku cewek agresif. Aku tidak ingin dia berfikiran seperti itu, terlebih aku juga harus menjaga perasaan Rama, ah Rama, betul aku juga belum menemukan cara untuk menjelaskan ke Rama. Pastinya dia tidak akan langsung percaya kan dengan ceritaku, Gisel saja masih belum percaya 100%, apalagi Rama. Yang jelas, aku harus segera meluruskan situasinya, pertama aku harus mengakhiri hubunganku dengan Rama dan berusaha mencari jalan agar lebih dekat dengan Galang sekaligus mencari tahu alasan kembalinya aku ke sepuluh tahun yang lalu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Ripley Project
RomanceBerlatar belakang kisah cinta masa SMA, Arindi ingin mengulang kembali masa SMA nya untuk dapat memperbaiki masa lalu. Kembali ke jaman SMA setelah sepuluh tahun melewatinya, Arindi mendapati bahwa kenyataan tidak seperti yang ia bayangkan. Dia haru...