1. veleria ranova

120 7 0
                                    

Yang belum baca prolognya. Baca dulu yuu. Telat dibikin prolog wkwk. Udah di edit ke bagian awal.

*

28 september 2014

Aku berjalan sembari menyeret koper besarku. Entahlah harus kemana kaki ini melangkah. Hingga akhirnya aku menyerah. Teriknya matahari membuat keringatku meluncur bertubi tubi. Aku berteduh sekaligus mendudukan bongkong ku di halte yang penuh coretan ini. Terlihat sangat tua dan tidak terawat.

Aku melepas tas yang mengait di bahuku. Mengambil sebotol air mineral yang aku beli tadi lalu meneguknya.

Hah sungguh melelahkan. Aku baru saja di usir dari kostan ku. Akibat sudah empat bulan aku menunggak. Ibuku tak lagi mengirimi aku uang untuk uang saku, apa lagi biaya kuliah ataupun membayar uang kost.

Entahlah kemana wanita tua itu sekarang. Seingatku 2 tahun yang lalu wanita tua itu meninggalkan sepercik surat yang berisikan bahwa ia akan merantau ke amerika untuk menunjang karirnya di dunia design. Dan ia berjanji akan mentransfer uang tiap bulannya.

Dan benar saja. Setiap bulan uang di rekeningku bertambah tiap bulan. Namun semenjak empat bulan lalu. Ibu tak lagi mengirimiku uang. Alhasil aku tidak bisa membayar uang kost lagi dan uang kuliah.

Nomor handphonenya pun sudah tidak aktif. Aku tidak tau dimana ia sekarang. Bahkan aku tidak tau ibuku masih hidup atau tidak. Yang jelas aku merasa aku hanya sendirian sekarang.

"Kamu abis di kena gusur yaaa?"

Aku menoleh kearah kananku. Seorang pria yang mengenakan jas hitam dengan kemeja hitam di dalamnya. Apa dia tidak merasa kepanasan? Bahkan aku yang memakai hotpans dan baju tanpa lengan pun masih merasa panas.

"Bukan urusan kamu"

Aku membuang pandanganku ke arah jalanan yang terlihat lenggang. Jarang jarang kendaraan yang berlalu lalai. Sedikit sepi. Aku meng ayun-ayun kan kakiku.

"Ka- kamu bisa liat aku?!"

Aku yang masih memandang ke arah jalan mengerutkan dahiku. Perlahan aku menoleh ke arah pria itu lagi dengan alis yang bertautan.

"Kamu bisa liat aku ?!" Dia mengulang pertanyaannya. Dia ini sedang mengajak ku bergurau atau bagaimana?

"Yailah aku bisa liat kamu. Emang kamu itu hantu? Arwah gentangan? Engga kan?!"

Oh ayolah aku hanya ingin beristirahat. Bukan berbincang dengan orang bodoh seperti dia.
Aku beranjak lalu pergi meninggalkan tempat itu. Hatiku masih menggerutu. Tunggu, Ada sesuatu yang menggangu fikiranku. Aku menghentikan langkah kakiku.
Aku menoleh kearah belakang. Ke arah halte tadi.

Deg

Pria itu tidak ada. Apa dia hantu? Astaga tuhan aku baru saja berbicara dengan hantu. Aku merasakan lututku lemas. Aku memegang dahiku dan sedikit tersungkur. Mimpi apa aku semalam? Tapi dia tampan. Tak menyeramkan seperti hantu yang ada di film horor. Hanya saja dia memang pucat. Ohh tuhan aku tidak menyangka.

aku masih menyeret koper ku dengan otak yang masih berfikir bagaimana bisa pria itu menghilang begitu cepat? Padahal aku baru beberapa langkah dari halte itu tapi ia sudah menghilang. Bagaimana mungkin? Kepalaku terasa pusing.

"Ve....!"

Aku menoleh kesamping kananku. Wanita berambut coklat yang tertutup helm dan mengendarai motor scooternya itu berhenti tepat di samping kananku. Aku mengerjap beberapa kali.

"Steffi? Steffi !!!!!"

Aku memeluknya erat dan sedikit melompat kegirangan. Akhir aku bertemu seseorang yang aku kenal disini. Steffi ,teman kecil ku. Namun ketika akan memasuki SMA dia pindah ke luar kota entah mengapa. Dan kini kami kembali satu kota? Sungguh rencana Tuhan luar biasa. Mungkin aku bisa meminta tolong pada Steffi.

"Astaga Ve lepasin... gila kali yaaa"

Aku hanya menyengerai. Aku senang sekali bertemu sahabat lama ku. Aku akan menceritakan semuanya, semuanya yang aku alami hingga detik ini pada Steffi. Hari ini benar-benar gila.

***

Aku membuka pintu rumah ini. Nyaman, tapi sangat sepi. Dimana orangtua Steffi? Kakak Steffi? Rumah ini terlihat sedikit berdebu. Rumah ini juga tidak terlalu besar. Yang aku tau Steffi adalah orang kaya. Bukannya merendahkan tapi aku yakin ini bukan rumah milik keluarga Steffi. Aku tau betul Steffi tidak akan betah tinggal dirumah seperti ini meskipun sebenarnya rumah ini sangat bagus bagiku, bukan bagi Steffi.

"Ini rumah siapa Stef?"

"Oh ini? Ini rumah yang gue beli satu bulan yang lalu"

Ahh yaaa Steffi memiliki banyak uang. Tentu saja ia akan membeli apapun yang ia inginkan.
Aku hanya memanggut manggut. Lalu duduk di salah satu sofa bersebrangam dengan Steffi. Steffi terlihat sibuk mengutak-atik ponselnya.

Baiklah, jadi aku diabaikan?

Fikiran ku berputar pada kejadian di halte tadi. Aku masih bingung bagaimana bisa dia menghilang secepat itu. Atau dia bukan hantu, mungkin dia vampire-vampire seperti yang ada di film twilight? Ahh Veleria... Didunia ini mana ada vampire.

"Ve.. Gue cabut dulu yaaa? Ada urusan" ujarnya membuat lamunanku buyar.

Steffi terlihat merapihkan tasnya lalu berjalan menghampiri pintu. Oke baiklah dia akan pergi. Lalu bagaimana denganku?

"Steff !" Steffi menoleh

"Gue?" ujarku menunjuk batang hidung ku yang lumayan mancung ini.

"Kenapa?"

"Gue gimana?"

"Gimana apanya?" aku memutar bola mataku. Steffi memang seperti itu. Dia tulalit. Tetapi dia cantik, baik, dan sebenarnya dia cerdas. Hanya saja dia terlihat lemot.

"Yaaa gue gimana stef... Lo kan mau pergi. Lah gue? Ini rumah siapa? Gua di tinggal gitu?"

"Ohh itu.." Steffi seperti mencari sesuatu di dalam tasnya. Dia mengeluarkan sebuah kunci dan melemparkannya padaku. Untung saja aku berhasil menangkapnya. Jika tidak..

"Itu kunci rumah. Ini rumah buat elo. Gua cuma iseng aja beli ni rumah. Kali aja suatu saat ke pake. Dan bener kan sekarang kepake" apa katanya? Iseng? Membeli rumah dia bilang iseng?

"Gue pergi dulu yaaa. Rumahnya emang aga berantakan. Lo bersihin ajaaa oke? Kalo ada apa apa lo hubungin aja gue. Tadi lo udah simpen nomor gue kan? Gue buru-buru Ve dadah!!!"

Suara beduman pintu sangat keras. Aku hanya bisa mengerjapkan mataku. Rumah ini untukku? Yang benar saja.

Bersambung...
Yang belum baca prolognya yu baca dulu di bagian awal.. Udah di edit. Telat bikin prolognya wkwk
Ig: ana.mdewi

Pain (Secret Time)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang