Yang belum baca prolognya baca dulu yuu biar seru. Telat bikin prolognya wkwk. Udah di edit kebagian awal👄
*
1 oktober 2014
Dihari pertama aku bekerja. Semua berjalan lancar. Aku bekerja di kafe milik kakak Steffi. Aldi namanya. Terakhir aku melihat Aldi ketika aku dan Steffi berumur 12 tahun. Ketika itu aldi harus melanjutkan studynya di kanada. Aldi berpaut lima tahun dari Steffi. Itu berarti dulu aldi masih berumur 17 tahun.
Ketika itu Steffi menangis meraung-raung ketika Aldi menaiki mobil menuju bandara. Steffi dilarang ikut sampai bandara oleh ayahnya. Aku juga ikut menangis melihat Steffi menangis seperti itu. Bunda Steffi berusaha menenangkan Steffi agar tidak menangis lagi.
Aldi hanya diam melihat Steffi , adik kecilnya yang menangis seperti itu. Yang aku tau Steffi dan Aldi sangat dekat. Aldi memandang tajam ke arah ayahnya. Aku bisa lihat dengan jelas bahwa Aldi tidak ingin pergi ke Kanada. Ia ingin disini, bersama adik kecilnya. Mungkin ia di paksa oleh ayah Vero untuk melanjutkan study kesana. Aldi juga menatapku sendu. Matanya teduhnya menatap kearahku penuh arti. Namun aku tak mengerti apa artinya.
Steffi bilang aldi sudah kembali ke Indonesia dan memegang sahamnya yang di beri oleh ayahnya. Termasuk kafe ini. Sebenarnya Steffi melarangku bekerja karena ia bilang aku bisa menggunakan uangnya saja. Tapi aku tidak mau terus merepotkan Steffi. Bagaimanapun aku harus bekerja.
Walaupun hanya menjadi pelayan. Tapi aku senang. Steffi bilang ia akan meminta pada Aldi untuk menaikan gajiku ketimbang pegawai lainnya. Itu membuatku terkikik. Padahal aku tidak menghasut Steffi seperti itu.
Di hari kedua ini. Aku sudah mulai berteman dengan para pegawai kafe. Tapi yang seumuran dengan ku hanya Salsa dan Gio. Mereka satu universitas dan sudah berteman dengan lama. Aku nyaman dengan pekerjaan ku ini. Steffi memang teman sejatiku. Dia bagaikan pelangi setelah hujan. Dia selalu menjadi penyelamatku. Terimakasih Steffi.
"Ve.. Lo anterin ini ke meja nomor 8 yah. Gue di panggil pak Aldi keruangannya" ujar Salsa sembari memberikan nampan yang berisikan jus jeruk, salad buah, nasi goreng, dan sate sapi.
Aku mengangguk dan berjalan menuju meja nomor 8. Seorang pria dengan pakian casual terlihat sedang membaca koran dengan kaki yang terangkat ke lutut satu nya yang menjadi topangan. Sepertinya tampan.
"Permisi, ini pesanannya"
Aku menaruh lalu menata makanan itu diatas meja. setelah selesai, Aku berucap sopan untuk permisi dan pria itu hanya memberi dehaman. Dasar orang kaya.
"Tunggu !" aku menoleh ke sumber suara. Apa pria tadi memanggilku? Aku menoleh ke berbagai arah. Alih alih bukan aku. Namun matanya tertuju padaku. Ia berjalan mendekat. Wajahnya terlihat bahagia. Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. Perlahan tangannya meraih tanganku
"Ana..." Aku menautkan alisku. Ana? Siapa ana? Aku pikir dia salah orang.
"Maaf tuan saya bukan Ana. Saya Veleria" ujarku sopan. Bagaimana pun dia pengunjung disini. Dia adalah raja. Walaupun sebenarnya raja tidak mungkin makan di kafe. Oke, never mind
"Aku kangen kamu na... Aku hampir gila gaada kamu di samping aku"
Aku semakin bingung dibuatnya. Dia terlihat berantakan. Seperti telah ditinggal mati kekasih nya. Siapapun bisa menebak bahwa kini ia sedang frustasi.
"Maaf tuan nama saya Veleria. Saya bukan Ana. Mungkin anda salah orang" aku berusaha melepaskan genggaman pria itu yang sangat kuat. Tangan ku mulai terasa sakit. Ohh astaga pasti lenganku memerah. Aku juga bisa merasakan darah ku tidak bisa mengalir.
"ANA !!!!"
Aku tersentak. Bahkan semua pengunjung menatap kearah kami. Air mata ku sudah menumpuk di pelupuk mataku. Aku tidak pernah di bentak, bahkan oleh ibuku. Siapapun tolong aku.. Aku sungguh takut. Dia gila.
Dia semakin erat menggenggam jemariku. Dia terlihat ingin menangis. Dia terus menggeleng gelengkan kepalanya dan bersikekeh bahwa aku adalah ana. Siapa Ana? Persetan dengan ana. Aku sama sekali tidak tau dengan ana. Dan siapa pria ini? Berani beraninya membentakku
"Ada apa ini?" suara pantopel aldi diikuti Salsa berlari menghampiri kami. Seperti nya teriakan pria ini sangat kencang sehingga terdengar hingga ruangan Aldi.
"Bal lo kenapa sih?" ujar Salsa yang sepertinya mengenal siapa pria gila ini. Dan pria itu masih menatapku sayu.
"Maaf tuan apa ada masalah?" ujar Aldi sekali lagi. Aku menoleh ke arah Aldi dengan tatapan memohon, terpampang jelas di keningku yang mungkin bertuliskan 'help me'
"Sa, dia Ana kan? Dia Ana gue kan sa?" Salsa menggeleng
"Bal. Dia bukan Ana, bal. Dia veleria, dia bukan Ana lo" Dasar orang gila. Sudahku bilang aku bukan Ana kenapa tidak percaya. Tapi ya Tuhan... Dia sangat tampan.
Bersambung...
Yuu yang belum baca prolognya baca dulu. Telat bikin prolognyaaa wkwk. Udah di edit ke bagian pertama. Baca dulu yaaa biar seru!!
Ig:ana.mdewi

KAMU SEDANG MEMBACA
Pain (Secret Time)
RomanceSeorang pria yang tiba-tiba muncul di hidupnya. Membuat kehidupannya semakin rumit. Hingga akhirnya sebuah takdir mengejutkan sebuah dongeng itu. Semuanya begitu rumit. Ia bahkan tak tahu siapa dia sebenarnya. Apakah dia nyata atau tidak. Dia juga t...