5. teman?

61 5 0
                                    

Yang belum baca prolognya yu baca dulu biar seru. Telat bikin prolognya wkwk. Udah di edit ke bagian awal👄

*

Setelah selesai mengobati memar memar di wajah Iqbal. Aku membiarkannya tertidur. Yap, dirumahku tentunya. Tepatnya rumah pemberian Steffi. Tidak juga sih, aku akan membayar rumah ini. Hanya saja aku sedang berusaha.

Aku sebenarnya ingin membawa Iqbal pulang kerumahnya. Tapi aku tidak tahu dimana rumahnya. Bahkan aku juga tidak mengenalnya lebih jauh. Yang aku tau ,namanya Iqbal, dan dia pria yang sedang patah hati ditinggal mati kekasihnya.

"Makasih Stef udah bantuin gue gotong Iqbal"

Aku memberikan senyuman ku pada sahabat ku itu. Steffi tak mendengarkanku. Ia melamun lagi. Semenjak aku menemukan Iqbal di pinggir jalan Steffi banyak melamun. Bahkan ketika diperjalanan, Steffi hampir menbuat nyawa kami melayang.

"Stef??"

Dia tak mendengarkan ku

Pletaaaak!!!

"Awwww... ih veeeeeeeee" Steffi Meringis memegangi keningnya yang aku sentil tadi. Aku gemas dengannya. Suruh siapa mengabaikanku?

"Lagian dari tadi gue panggilin ga nyaut nyaut. Lo kenapa si? Sakit?"

Steffi menggeleng. Ada yang aneh. Mungkin Steffi galau? Entahlah Steffi sepertinya tidak ingin berbagi cerita padaku.

Setelah Steffi berpamit pulang. aku menguci pintu karena ini sudah tengah malam. Aku berjalan menuju kamar. Iqbal tampak tertidur dengan tenang di ranjangku. Dengkuran halus bisa aku dengar dengan baik.

Baiklah dimana aku harus tidur?
Dikamarku memang ada sofa yang berukuran cukup panjang di dekat tv. Aku akan tidur disana. Setidaknya aku bisa mengawasi Iqbal jika tiba tiba ia mengeluh sakit. Tunggu , sejak kapan aku perduli dengannya?

***

6 oktober 2014

Aku terbangun setelah mendengar suara bising dari dapur. Rasanya sofa lebih empuk ketimbang tadi malam. Aku mengumpulkan Nyawaku terlebih dahulu. Ini... Ranjangku? Seingatku aku tidur di sofa. Kenapa bisa disini. dan Iqbal, mana dia?

Suara bising dari dapur memecahkan lamunanku. Aku berjalan gontai menuju dapur. Seseorang sedang memunggungi ku. Ia terlihat bergulat dengan sesuatu benda.

"Iqbal?"

Iqbal mematikan kompor sebelum akhirnya ia menoleh ke padaku. Ia memberikan senyuman walaupun memar biru masih menghiasi wajahnya. Terlihat sangat, tampan. Entah mengapa darah ku berdesir cepat saat itu juga.

"Gue bikinin lo sarapan nih. Cuci muka sama sikat gigi sono"

Setelah membasuh wajah dan menyikat gigiku. Kini kami sedang sibuk dengan sarapan masing masing. Iqbal membuat nasi goreng. Rasanya enak

Tak ada suara pun yang memecahkan keheningan. Tapi sebelumnya Iqbal berterima kasih padaku karena telah mengobatinya. Dan memberinya tidur semalam di ranjangku.

Dia mengubah kosa katanya yang biasanya aku-kamu. Menjadi lu-gue. Berbeda saat pertama kali kami bertemu. Ia lebih nyablak dari sebelumnya. Entahlah tapi aku nyaman ia seperti ini.

Iqbal berdeham setelah membalikan garpu dan sendok setelah selesai makan. Etika yang baik. Aku memandang ke arahnya. Menunggunya mengucapkan sesuatu.

"Emm.. Bisa kita mulai semuanya dari awal?"

Aku mengerutkan dahiku. Mulai semua dari awal? Apa maksudnya? Menurutku ini memang awal. Awal aku berinteraksi baik dengannya(?)

"Aku,Kamu,Bisa kita jadi temen? Temen emm.. Sahabat mungkin?"

Aku mengerjap beberapa saat. Berteman? Dengan Iqbal? Aku memang tipe orang yang eassygoing tapi aku merasa aneh jika berteman dengan Iqbal. Dia masih asing bagiku.

"Kenapa?"

"Kenapa?" dia malah mengulang pertanyaanku.

"Iya kenapa emangnya?"

"Kenapa emangnya apanya?" aku berdecak. Dia seperti Steffi.

"Lo tuh kaya Steffi yahh" aku menghela nafas panjang. Dia seperti Steffi. Lemot

"Steffi?"

"Iyaa Steffi. Sahabat gue. Pokonya dia orang yang paling gue sayang di dunia ini"

"Loh.. Orang tua lo?"

"Eng... Maksudnya setelah orang tua gue" aku sungguh tidak ingin membahasnya. Sungguh...

"Steffi juga sama kaya lo. Lemot"

Aku bisa melihat tubuhnya menegang. Ia membuang pandangannya. Meraih susu lalu meneguknya dengan cepat.

"Lo kenapa?"

Iqbal menggeleng lalu tersenyum hambar. Setelah sarapan ku habis. Aku mengambil piring Iqbal juga lalu mencucinya. Setelah selesai aku berjalan menuju Iqbal yang duduk di sofa sembari menonton berita.

Aku meraih toples berisi kripik kentang di meja sebelum akhirnya aku mendaratkan bongkongku di sofa. Di samping Iqbal.

"Suka banget berita ya??"

Ujarku tanpa menoleh ke arah nya. Bisa aku lihat dari mata faset ku ia mengangguk. Setelah chanel itu menayangkan iklan iklan. Iqbal menyerukan namaku lembut.

"Veleria.." Aku menoleh. Dia tidak memanggilku Ana lagi? Tumben

"Nama lo Veleria kan?"

"Yap... Tapi panggilnya ve aja. Kepanjangan" Iqbal memanggut manggut. Tangannya masuk kedalam toples yang berisikan keripik kentang yang sedang aku peluk dan menyomotnya. Toplesnya memang besar maka dari itu aku memeluknya. Aku suka ini, keripik kentang

"Gimana?"

Ujarnya lagi setelah memasukan keripik kentang kedalam mulutnya. Ia masih menggunakan pakaian semalam. Aku tidak punya baju laki laki untuk aku pinjamkan. Baju oblongku pun kecil si tubuhnya. Tentu saja, tubuhku kecil dan tubuhnya besar. Bukan gendut. Maksud ku ototnya...Cukup ideal

Aku mengerti apa maksudnya. Aku mulai berfikir. Sebenarnya aku sudah memikirkannya sejak aku mencuci piring tadi.

Memang aneh sebenarnya. Pertama, aku menolong Iqbal yang jelas jelas aku bukan orang terdekatnya. Kedua, aku begitu khawatir melihatnya terluka. Ketiga, aku membiarkan orang asing berada di rumah ku bahkan tidur di ranjangku. Keempat, aku merasa begitu dekat dengannya. Aku merasa bahwa aku memang mengenalnya. Kelima, aku nyaman berada di dekatnya. Aku merasa dia tak akan menyakitiku seperti di berita berita kriminal yang ada di tv tv.

"Oke gue mau"

Ia mengubah posisinya menjadi berhadap padaku. Ia tersenyum lebar.

"Teman?"

Ia mengangkat jari kelingkingnya. Dan menggerak gerakannya. Menunggu jariku mengait di jari kelingkingnya. Aku menatap matanya dan kelingkingnya bergantian. Aku tertawa kecil.

"Teman"



Bersambung...
Yuu yang belum baca prolognya baca dulu. Telat bikin prolognyaaa wkwk. Udah di edit ke bagian pertama. Baca dulu yaaa biar seru!!
Ig:ana.mdewi
Emang gajelas sih ceritanya tapi makasih yang udah baca😂😂😂 Jangan lupa baca cerita gue yang lainnya. "Don't touch my girl" cek profile.

Pain (Secret Time)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang