Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Honey(Bunny)moon 1

27.9K 955 54
                                        

AIZA

Ih, sebel. Sebel sama si tour guide sok kecantikan di depanku dan Adam yang mau-maunya digelayutin tuh monyet.

Aku melirik ke arah pantai Tanah Lot. Di sebelah utara Pura Tanah Lot, sebuah pura lain yang dibangun di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan Pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan. Pura ini, yang kata bli Joko, Pura Karang Bolong namanya. Kirana nggak masih info sama sekali, kerjaannya foto-foto selfie sama Adam melulu. Ngapain juga sih Dio nyewa orang kayak gitu?

Enakan jalan-jalan dan nyari obyek foto daripada ngikutin mereka. Pemandangan yang keren, pura yang megah, karang dan tebing yang indah, bahkan bule-bule ganteng yang lewat nggak luput dari jepretan DSLR-ku. Masa bodoh, Adam juga nggak nyadar waktu aku menyelinap pergi.

Segerombolan anak SMA yang kayaknya lagi study tour berseragam dan bergrup-grup gitu menyerbu pantai. Banyak juga yang pagi-pagi udah pacaran dan berfoto mesra. Aku duduk-duduk di pasir dan memandangi hasil perburuan fotoku. Lumayan. Bergelut di dunia arsitektur bikin aku hobi sama fotografi dan bisa dijadiin inspirasi konsep juga. Atau sekedar relaksasi, mengenal alam lebih dalam.

"Kak, airnya lagi pasang nggak itu?"

Aku mendongak mendengar pertanyaan seorang gadis SMA dan beberapa temannya. Mengikuti arah tunjuknya, ke sebuah gua di bawah tebing yang terpisah air laut dangkal.

"Nggak terlalu pasang kayaknya, kalian mau nyeberang?"

"Nggak apa-apa nih, Kak?"

Aku terkekeh dan mengangguk. "Nggak apa-apa. Yang penting saling pegangan yang erat," kataku mengantar mereka pada sekumpulan orang yang juga mau menyeberang. "Tuh. Ombaknya lagi surut. Buruan nyeberang."

Terdengar pekikan-pekikan senang mereka saat ombak menyapu kaki mereka. Kuangkat kameraku dan memotret ekspresi mereka.

Tanpa sadar kayaknya aku udah masuk ke bagian pasang. Kakiku lumayan goyah pas sebuah ombak besar dan cukup kuat menghantamku.

"Eh!"

Ada yang menarik tanganku ke belakang tiba-tiba. Aku terkejut mendapati Adam menatap tajam padaku. Lenganku dicengkeramnya, sebelah tangannya menarik pinggangku.

Aduh, Mas Adam, please dong, jangan pegang sembarangan. Jadi deg-degan nih.

"Lo hati-hati dong kalau berdiri. Keseret ombak trus Lang, gue nggak tanggung jawab ya," katanya terdengar sedikit kesal. Aku memutar bola mata.

"Gue 'kan cuma mau ngambil gambar tadi, gue udah pernah ke sini kok. Gue juga udah pernah nyeberang," kataku santai. Adam berkacak pinggang.

"Bukannya lo phobia laut?"

Badannya memang masih kering nggak kena air sama sekali. Padahal bajuku udah setengah basah gara-gara main air di pinggiran pantai tadi. Dia berdeham dan gelagatnya kayak baru inget.

"Si-Siapa bilang?" katanya songong.

Aku mencibir.

"Gu-Gue cuma nggak bisa berenang. Ngeri doang."

Ih, ngeles!

"Eh. Tapi gue pengen cuci muka di sana ah, biar awet muda dan lancar jodoh," kataku bersiap-siap.

"Lo mau ke mana?"

Aku menunjuk ke gua tadi. Airnya cuma sebatas lututku.

"Mau nyeberang. Lo di sini aja sama si Monyet-eh Kirana," kataku menunggu ombak surut.

Pelan-pelan dan hati-hati aku mulai menyeberang. Sepertinya nggak ada rombongan yang lagi mau nyeberang. Agak ketar-ketir juga sih sendirian. Aduh, ada ombak tiba-tiba, aku butuh pegangan.

Nikah Tender [HOLD]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang