part 6

26 4 1
                                    

" Jangan mengikutiku terus!! Kau pergilah mencari mamamu!" teriak Claudia ketika keluar dari bandara. Stieve mengikuti di belakangnya. Ia terlihat tak membawa barang apa pun. Hanya baju, jaket dan celana yang menempel di tubuhnya.

Claudia menyeret kopernya dengan sedikit berlari karena Stieve terus saja mengikutinya.

" Kau enyahlah!!" teriak Claudia kesal.

" Aku tak membawa apapun ke negara asing ini. Hanya pasport, Visa dan beberapa lembar uang. Ijinkan aku untuk ikut denganmu. Hanya kau yang aku kenal." Stieve pasang wajah memelas dan memohon pada Claudia.

" Apa kau gila! Bagaimana mungkin anak orang kaya sepertimu tak membawa kartu debit? Kau tak membawanya juga?" seru Claudia kesal.

" Aku bawa. Tapi jika aku gunakan kartu ini semua orang akan tau aku di sini. Oh ya... Mereka juga akan tahu kau bersamaku. Bukankah kau sedang kabur juga?" Stieve melirik Claudia dan tersenyum sengit.

" Baiklah. Aku ijinkan kau ikut denganku. Tapi kau tak boleh protes." Ancam Claudia.

Merekapun keluar bandara secara beriringan. Di terminal kedatangan seorang wanita berambut panjang juga feminim sudah menunggu kedatangan Claudia. Wanita itu melambaikan tangannya ketika melihat Claudia.

" I miss u...." ucap Claudia yang mendekati wanita itu lalu memeluknya erat.

Stieve terheran melihat kedua wanita itu berpelukan.

" Apa kalian akan mengbaikanku?" sela Stieve sambil memisahkan mereka.

" Siapa sih nih cowok!" ucap kesal wanita itu.

" Dia Stieve." kata Claudia memperkenalkan Stieve dengan raut kesal.

" Oh... Stieve tunanganmu itu ya...." ucap wanita itu yang kemudian mulutnya di bekap oleh Claudia.

" Jangan dengarkan dia!" ucap Claudia sambil terus membekap temannya.

Wanita itu menepis tangan Claudia dengan kuat.

" Aku Risa... Teman baik Claudia." ucapnya sembari mengajak Stieve bersalaman.

" Sudah basa- basinya. Ayo pulang!" ajak Claudia agak jeles.

" Tunanganmu ikut dengan kita?" tanya Risa yang melihat Stieve yang terus saja berada di belakang Claudia.

Claudia hanya mengangguk.

" Asik..." teriak Risa yang langsung merangkul Stieve dengan mesra.

" Jangan seperti ini. Aku tak enak hati." kata Stieve sembari menepis tangan Risa dengan wajah setengah jijik.

Jakarta pusat.

David bersiap di depan gedung yang akan di buat pesta perayaan ulang tahun grup D.S. Karpet merah pun sudah siap di gelar. Semua tamu juga sudah datang dan berkempul di satu ruangan pesta. Dengan pesonanya, David berjalan di atas karpet merah. Semua tamu menyambut David dengan meriah. Lalu giliran ayahnya yang melintasi karpet itu. Suara tepukan tamu makin rame menyambut.

Pria setengah baya itu langsung naik ke atas panggung.

" Selamat malam semuanya. Di ulang tahun grup D.S kali ini saya akan memperkenalkan pewaris grup ini sekaligus memperkenalkan calon istrinya. Saya akan panggilkan, Stieve dan Claudia. "

Semua tamu menoleh menatap pintu masuk. Namun tak ada siapa pun di sana. Salah seorang pengawal mendekati pria itu dan berbisik ke telinganya.

" Sepertinya tuan muda kabur dan tunangannya juga menghilang." bisik pengawal itu.

Pria itu melirik ke arab David dan melotot marah. Ia seakan menyalahkan jika Davidlah penyebab Stieve pergi.

" Sepertinya anak saya dan tunangannya masih malu-malu. Saya akan umumkan pernikahan mereka di kesempatan mendatang. Semarang nikmatilah makanannya dan pesta hari ini." Ucap pria tua itu kemudian meninggalkan panggung dan berjalan meninggalkan ruangan itu.

Swiss.

" Welcome to home." ucap Risa ketika membuka pintu rumah.

Claudia langsung masuk ke dalam di ikuti Stieve.

" Sepertinya tak percuma aku memberi rumah ini." Kata Claudia santai sambil menaiki anak tangga ke lantai dua. Stieve dan Risa mengikuti langkahnya.

Claudia membuka salah satu pintu kamar. Ia menatap isi kamar itu dengan takjub. Kamar yang cukup besar dan mewah. Soffa merah, tv bak layar bioskop. Kasur mewah seperti putri raja. Jendela yang mengarah langsung ke pemandangan swiss. Kamar mandi dalam yang super mewah.

" Kau rajin membersihkan kamarku kan?" tanya Claudia sembari duduk di soffanya.

Risa hanya mengangguk.

" Nona- nona... Kalau boleh tahu di mana aku bisa tidur?" tanya Stieve mendadak.

" Aaaaa... Aku lupa bilang. Di sini hanya ada 2 kamar. Kamarku dan kamar Risa. Dan yang lainnya kamar pembantu." Ucap Claudia dengab tersenyum kejam.

" Apa kau bercanda? Aku anak dari pemilik grub D.s dan aku kau suruh tidur di kamar pembantu? Kau kejam sekali." Stieve melakukan penolakan.

" Aku serius. Itu pun kalau kau mau. Kalau kau tak mau, silahkan kau pergi dari rumah ini! " Ancam Claudia sembari menatap Stieve.

Stieve melangkahkan kaki mendekati Claudia duduk. Lalu ia sedikit menekuk tubuhnya dan menatap wajah Claudia. Kedua Tangannya menekan kedua bahu Claudia.

" Kekayaanmu ini adalah uangku! Kau tak akan menjadi kaya jika bukan karena perjodohan itu. Satu hal lagi, sepertinya kita sudah dinikahkan sewaktu kecil. Aku masih menyimpan fotonya." Kata Stieve tegas yang membuka dompetnya dan di perlihatkan seorang anak kecil perempuan berusia 5 tahun mengenakan gaun pengantin putih dan bersanding dengan seorang anak laki- laki berusia 8 tahun mengenakan jas hitam.

Claudia melotot menatap foto itu. Begitu pula Risa yang sangat terkejut.

" Kita bisa berbagi kamarkan?" Kata Stieve yang kemudian mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Claudia hingga Claudia terdiam kaku.

-------------------Bersambung--------------------

Thanks udah baca...
Jangan lupa Voment ya guys..
Please jangan jadi pencuri.

Yang kepo silahkan kepoin semua storyku ya..
Hahahahahah

Help Me, Iam Falling In Love (Slow)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang