Fighting and Farewell

8 1 2
                                        

Mei....

Dua bulan sudah berlalu, kini saatnya pertempuran ini di mulai. Semua siswa kelas IX sudah siap untuk menghadapi ini, karena persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Hari ini adalah hari pertama Ujian Nasional. Jujur, aku takut sekali dengan hari ini, tapi seseorang pernah berkata bahwa tak perlu takut akan hari itu, karena jika kamu berani, makan hari itu akan takut padamu. Ya seseorang pernah mengatakan hal itu padaku. Seseorang yang sangat spesial untukku. Someone itu adalah Tama. Sejak malam itu, aku dan Tama menjadi saling menguatkan satu sama lain. Tama yang lebih sering memberikan aku motivasi agar tidak takut untuk menghadapi hari ini.

Dua minggu sebelum UN, Tama sering kerumah aku. Kami sering belajar bareng. Sebenarnya dia yang lebih sering mengajari aku, terutama pelajaran Matematika dan IPA. Aku ingat satu hari itu, saat aku dan Tama belajar bareng. Aku sempat ngambek karena aku frustasi dengan materi itu. Aku gak bisa materi itu, materi itu cukup membuat aku frustasi dan merasa otak aku ini sudah terbakar. Tapi Tama masih saja sabar mengajari aku. Dia selalu buat pelajaran itu menjadi mudah dan menyenangkan.

Oke lanjut ke UN tadi...

Di pagi hari saat pertempuran itu, aku sering berpapasan dengan Tama di depan kelas, tapi kami tidak saling bertegur sapa. Aku terlalu takut memikirkan hari ini sehingga tak ingin menyapanya. Aku sempat melirik dia saja, dan begitu pula dengan dia.

Kkkkrrriiiinggg..... Kkkrrriiinggg... Kkkkrriiingg...

Bel berbunyi, tanda kami harus segera berbaris di samping kelas masing-masing. Aku dan Tama beda ruangan ujian. Dia ada di ruangan satu, dan aku diruangan dua. Sebelum aku berbaris di samping ruanganku, aku sempat membuang sampah susu yang tadi sempat aku minum. Kebetulan tempat sampah itu ada di depan ruangannya Tama. Saat aku sedang membuang sampah, aku melihat ada seseorang yang mendekat padaku.

"Gausah tegang gitu, Vit. Biasa aja. Masih hari pertama masa udah takut gitu. Ini masih Bahasa Indonesia. Gue tau lu bisa kok. Inget, ngerjainnya tenang, gausah panik. Gausah buru-buru, yang penting fokus sama teks itu", ucapnya padaku sambil meraut pensil nya.

"Hufft ini juga lagi coba untuk tenang tau. Semoga aja lancar deh hari pertamanya. Sukses ya buat kita", kataku sambil tersenyum masam padanya.

"Aamiin. Gue tau elu bisa ngelewatin hari in dengan lancar kok", tambahnya seraya tersenyum kepadaku dan pergi meninggalkan aku.

***

Tak terasa sudah hari keempat Ujian Nasional. Hari Pertama sampai hari ketiga aku lalui dengan lancar. Aku yakin Matematika akan mendapat nilai yang bagus. Untuk pelajaran IPA, aku kurang yakin sih, tapi masih ada keyakinan bahwa nilai aku gak jelek. Di hari keempat ini aku merasa takut, karena hari ini adalah pelajaran Bahasa Inggris. Aku paling gak bisa pelajaran ini. Jujur aku gak suka sama Bahasa Inggris. Jadi, entahlah bagaimana nanti. Tama bilang sama aku untuk tetap fokus. Jangan sugesti kalau hari ini akan susah. Aku mencoba untuk menuruti perkataannya. Aku mencoba untuk tenang dan fokus.

Saat sudah memasuki ruang ujian, jantungku mendadak berdegup lebih kencang. Tanganku gemetar. Semoga saja soalnya banyak yang sama dari yang sudah aku pelajari, Aamiin, Doaku dalam hati sambil mencoba untuk tetap tenang. Saat soal itu sudah ada ditanganku, aku merasa tak sanggup untuk membukanya. Dan saat aku buka, aku melihat soal yang asing. Aku belum pernah mempelajari soal ini, tapi aku mencoba untuk tetap mengerjakannya. Di tengah-tengah soal, aku mendapati soal yang sama dengan soal-soal latihan Try Out yang di berikan oleh sekolah tempo lalu. Aku sempat merasa tenang dan lega karena aku masih sangat mengingat jawabannya. Setidaknya ada soal yang aku yakin betul jawabannya.

Waktu berlalu, bel pun berbunyi tanda waktu mengerjakan sudah selesai. Keluar dari kelas, aku nangis, aku memeluk Nida, teman satu ruanganku itu. Aku merasa tidak mengerjakan soal itu dengan baik. Banyak yang aku isi dengan asal. Aku sedih sekali. Di sisi lain, aku melihat Tama keluar ruangan dengan tenang. Entah kenapa dia selalu saja memasang tampang tenang itu terus. Aku sampai tak bisa menebak apa yang dia rasakan jika dia terus saja memasang tampang tenang itu. Saat aku lihat Tama memandang ke arahku, aku langsung menghapus air mataku. Aku tak ingin dia melihatku sedang menangis seperti ini.

RegretTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang