By Jessica Jung Cover version's
Set me free
Let me be
I don't wanna fall another moment into your gravity
But you're on to me and all over me
Something always brings me back to you and never takes too long
Berulang kali aku menatap jam yang berdenting di dinding. Berharap waktu berhenti sejenak tuk mundur. Apakah aku harus melepas dirimu dan perasaanku padamu?
Aku ingin membawa waktu mundur saat kita bertengkar hebat malam itu. Malam dimana kita tak lagi saling menatap dengan tatapan yang sama. Di mata kita hanya ada amarah dan kekecewaan.
Kamu mengucapkan kata-kata yang tak pernah aku banyangkan. Kata-kata kasar yang tak pernah sekalipun ketika kamu kesal atau marah, kamu keluarkan. Tapi di hari itu, kata-kata itu keluar dari mulutmu. Dan aku mendengarnya.
Lalu aku pun mengucapkan kata-kata yang paling kamu takutkan. Kata-kata yang juga tak pernah ingin kamu dengar keluar dari mulutku. Kata-kata yang bisa membuatmu gila ketika aku mengatakannya. Kata-kata yang juga aku takutkan keluar darimu. Kenyataannya kata-kata itu keluar melalui lidahku. Dan kamu mendengarnya.
Hati kita sama-sama hancur lebur. Tak tahu harus bagaimana lagi. Akhirnya kamu keluar dari pintu itu dengan semua yang kamu miliki. Meninggalkan aku di balik pintu dengan apa yang aku punya. Tapi kita sama-sama kehilangan satu hal malam itu, yaitu perasaan kita.
Aku ingin membawa waktu mundur saat kita berteduh karena hujan dengan sebuah es krim di tangan kita masing-masing. Aku ingat kamu yang memesan rasa yang paling aku benci, vanila. Dan aku memesan rasa yang paling kamu benci, strawberi.
Tapi saat itu kita beranggapan bahwa waktu yang paling tepat untuk memakan es krim adalah ketika hujan turun dengan lebat. Es krim dan udara di sekitar kita akan membekukan kita. Tapi kita sangat menyukai saat-saat ketika otak kita seperti membeku sejenak akibat sensasi jilatan es krim itu.
Aku ingin membawa waktu mundur saat aku berada di sampingmu. Menemanimu ketika perempuan pertama mu harus pergi untuk selamanya. Pertama kali aku melihat dirimu yang biasanya kuat, hancur saat menerima kabar buruk itu.
Ketika tanganmu yang gemetar memegang erat tanganku. Saat itu aku pun terluka. Air mataku turun tanpa ku perintahkan. Isakan mu makin nyata saat tanah mulai menutupi lubang itu. Tubuhmu yang kekar merosot meninggalkan tubuh kecil milikku yang masih berdiri kokoh. Ketahuilah saat dirimu kehilangan. Aku juga merasa kehilangan.
Aku ingin membawa waktu mundur saat kita harus terpisah jauh. Ribuan kilometer di benua yang berbeda. Saat pagiku jadi malammu. Saat itu kita sama-sama hilang. Tugas-tugas yang menumpuk alasannya. Tanggungjawab kita berada di ujung tanduk. Kita menjadi sangat profesional. Meski hati kita mulai dingin karena merindu.
Namun saat liburan itu tiba. Kita tanpa harus berkomunikasi, kita bertemu di tempat yang sama. Tempat yang menjadi pelepas ke 'dingin' an itu. Tempat yang selalu jadi alasan kita, sejauh berapapun kita pergi. Rumah kita.
Aku ingin membawa waktu mundur saat kita mengadakan pertemuan orangtua. Hari berkesan dimana orangtuamu mengajak orangtuaku tuk makan malam bersama. Rasa tegang terlihat jelas dari wajah kita. Tapi kita saling memandang dan tertawa. Kita menertawakan tingkah kita yang seperti anak SMA ketahuan berpacaran.
Aku ingat wajahmu yang penuh keringat. Beberapa kali aku menyekanya. Lalu tanganmu yang hangat berulang kali basah karena menggenggam tanganku yang terus mengeluarkan keringat dingin. Padahal di pertemuan pertama orangtua kita, mereka sudah merencanakan tentang kita di masa depan.
Aku ingin membawa waktu mundur saat kita bertengkar pertama kali pada hari jadi kita yang pertama. Pertengkaran hebat karena kesalahpahaman kita. Aku yang terus memandangmu salah. Dan dirimu yang menyatakan aku yang bersalah.
Pikiran kita seolah buntu. Tak ada kata yang ku keluarkan selain isakkanku. Dan kamu yang terus menghela nafas. Tapi saat itu ada rasa untuk menemukan jalan keluar untuk kita. Bukan secara individualis, kamu sendiri dan aku sendiri. Melainkan dengan cara 'kita'.
Mungkin ada kata yang menyakitkan. Tapi saat itu juga kita sembuh dengan perlahan. Kita saling menyembuhkan dan membangkitkan. Hingga kita saling meminta maaf, memaafkan, lalu menertawakan amarah kita yang lalu.
Tapi dari semua itu aku ingin waktu kembali ke pertemuan awal kita. Dimana kita dua orang yang saling tidak mengenal dipertemukan oleh waktu yang sama. Saat itu ada takdir yang seolah mengikat kita. Dua orang asing yang mulai berkenalan dan membuka diri.
Hubungan kita lalu berlanjut ke tahap pertemanan. Dimana kita mulai mengenal satu-sama-lain pada tahap awal. Lalu berlanjut pada lingkungan sekitar kita. Aku menyukai apple pie buatan ibumu. Dan kau menyukai risotto buatan ibuku.
Hingga kau mengajak ku kencan. Kencan pertama yang masih ku ingat jelas seperti baru terjadi kemarin. Saat dimana restoran yang kita kunjungi justru terbakar, saat pramusaji menyajikan makanan utama di atas meja kita. Saat semua orang mulai panik dan berhamburan keluar. Saat itu kau menggenggam tanganku dan membawaku keluar, ketempat yang menurutmu jauh lebih aman.
Saat itu kita hanya tertawa. Tertawa karena dari banyaknya restoran di kota ini, kenapa harus restoran kita yang terbakar di kencan pertama kita dan menghancurkan semua rangkaian kencan yang kau susun. Masih dengan perut yang lapar, kita berdua justru makan mie instan tepat di sebrang restoran itu.
Hari ini aku merindukan mu. Entah mengapa saat lagu ini berputar aku mengingatmu. Aku masih menggunakan bajumu saat tidur. Aku juga kadang masih dapat merasakan pelukkan hangatmu yang menenangkanku.
Minuman ini semakin membawa kerinduanku padamu. Aku juga ingin mendengar suaramu meski hanya lewat telefon. Setidaknya aku pernah memenangkanmu. Aku mencoba mengingatkan hal itu.
Dulu hal-hal yang membuatku bersyukur adalah kehadiranmu. Sekarang semuanya sudah berubah. Kita tak lagi menjadi kita. Sekarang kita menjadi kamu dan aku. Sekarang juga tak ada lanjutan kisah kita. Masa kita telah berakhir. Aku sadar aku harus melepasmu. Meski masih ada perasaan ku untuk mu yang masih tersimpan. Yang haus dengan kasih sayang mu pada aku yang kini telah kamu ganti dengan dia, orang lain yang kini menjadi kalian.
Kini saatnya aku melepas diri dari bayangmu. Melepas diri dari kenangan yang telah kita ukir dulu. Saatnya aku melangkah ke jalan ku sendiri. Aku tidak ingin lagi terbayang olehmu. Setidaknya aku mencoba. Meski semuanya masih terlihat membayang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerpen Alphabet
Short StoryFor Oneshot lovers. This is short love stories from the A till Z. Alphabet is sad, happy, sorrow, crazy, pain full and never ending love story. Karena setiap lagu punya cerita di tiap penggalan liriknya. Entah kenangan atau kehancuran.
