Enchanted

12 1 1
                                        

Matanya menatap seakan menyihirku tuk tetap di tempat. Waktu seakan berhenti. Bahkan irama jantungpun terdengar indah.

Mata biru itu seakan membawaku le samudra yang luas. Mengajakku tuk tinggal dan tenggelam dalam birunya. Dia indah. Terlalu indah. Hingga aku beberapa kali menelan ludah karena gugup. Ingin rasanya mendekat. Tapi kakiku seakan terpaku pada lantai.

Dan aku melihatnya lagi.

Kemarin dia berada di pesta. Dengan suit yang nampak memeluknya erat. Membuat ku iri pada benda mati. Kali ini dia dengan pakaian santainya. Berjalan sambil tertawa dengan beberapa orang yang nampak tak asing baginya.

Aku?

Aku rasa bertemu dia untuk kedua kali sudah cukup. Meski ada rasa ingin mengenal lebih.

Tunggu!

Dia menatap ku.

Melayangkan sebuah senyum sambil menatapku.

Apa aku bermimpi?

Tuhan, tolong jangan bangunkan aku.

Hari ini cuaca nampak memusuhiku. Awalnya cerah kini bahkan hanya gelap dan jutaan bulir air yg turun menyambutku. Tidak ada payung maupun jas hujan. Jangan bertanya tentang kendaraan kalau jarak rumahku yang sebenarnya sudah berada diujung jalan ini.

Akhirnya aku mulai berjalan. Buliran itu mulai membasahi kepala. Lalu baju, hingga aku benar-benar kuyub. Aku menunduk memperlambat langkah. Sudah kuyub tak perlu buru-buru.

"Setidaknya kamu bisa berlari agar tidak sakit," aku menoleh kebelakang mendapati seseorang seperti mendengar ucapan dalam kepalaku. Terkejut, aku membelalakkan mata hampir berteriak.

Lelaki bermata sebiru samudra dengan payung semerah wajahku-kuyakini-saat ini.

"Terlalu deras untuk bermain hujan, meski alirannya seakan mengajak menari bersama." Apa?

"Sebenarnya, terpaksa. Tapi ya, alirannya seperti candu. Saat datang selalu dibenci tapi saat hilang kecewa." Tambahku.

"Meski tak selalu ada pelangi, tapi udaranya pun dingin memeluk hangat, membuat kita lupa bahwa hujan itu basah dan dingin."

"Tapi ikut terlelap dalam pelukkannya, seolah enggan beranjak keluar, karena dingin tak selamanya terasa beku dan menusuk, kadang dingin pun sehangat secangkir coklat panas." Mata biru itu menatapku. Lalu lengkungan bibirnya terangkat seakan terpuaskan. Seperti menular, aku pun ikut melakukan hal yang sama.

"Terima kasih atas tumpangan payungnya? Hmm kurasa?" Ucapku saat tak sadar aku sudah berada di pagar hitam bertembok nila.

"Terima kasih juga atas puisi singkatnya, kamu jelas punya bakat!" Aku tersipu saat di puji.

"Arnold, ya sepertinya sebuah ketidak sengajaan bahwa kita tinggal berdekatan dan saya relasi kerja papamu," aku mengangguk mengiyakan. Antara beruntung atau sial. Mataku sudah melihatnya sejak minggu peresmian kantor cabang papa di Jakarta.

"Claire, kurasa nama dari ketidak sengajaan itu adalah takdir,"

"Yap, takdir yang beruntung atau menyesatkan. Sampai bertemu sabtu depan, Claire." Dia lalu melangkah berbalik memungguiku. Lebih dari 5 menit kami saling memandang dan bertukar kata.

Oh Tuhan!

Rasanya seperti mimpi. Entah ini yang mereka katakan sebagai cinta pada pandangan pertama atau hanya sebuah oasis di padang gurun, tapi sejak aku menatap mata birunya, saat itu pula aku tersihir tuk ingin mengenalnya.

Namun dari semua hal. Aku hanya berharap satu hal yang paling utama. Satu hal yang tidak dapat menghancurkan keinginanku.

Ku harap tak ada orang yang tersihir olehnya seperti aku padanya.

Ku harap.

Cerpen AlphabetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang