"How would you feel
If i told you i loved you
It just something i want to do
Taking my time, spending my life
Falling deeper in love with you." -HWYF by Ed Sheeran
Perempuan itu dengan senyum cerahnya menjadi salah satu alasan diriku bertahan. Matanya yang ikut tersenyum seolah berkata bahwa ia baik-baik saja meski aku tahu tidak.
Delapan bulan berlalu dengan lambat. Terutama saat ku temukan dirinya tergeletak tak berdaya di dapur dengan wajan panas mengepul hitam diatas kompor yang masih menyala. Dia pingsan.
Tak ada yg bisa ku lakukan selain mencoba untuk tidak panik saat itu juga. Ku matikan kompor lalu membawanya ke tempat tidur sambil berusaha menelfon bantuan. Mereka datang dengan cepat. Aku masih menggenggam tangannya yang lemah itu sambil memohon pada Tuhan sebuah keajaiban bukan petaka.
Di hari yang sama ketika dokter mengajak ku berbincang bersama kerabat atau anakku. Gadis perempuan ku, anak sulung ku yang berusia 18 tahun yang menemaniku. Bersamanya ku mencoba mencerna dengan baik perkataan lelaki yang memakai jas itu. Bersamaan pula dengan kemarahanku yang memuncak akibat perkataannya yang tak masuk akal.
Terdapat tumor dikepala istriku.
Hal terkonyol yang membuat darahku mendidih. Pasalnya beberapa jam yang lalu ia dengan tubuh sehatnya masih tertawa bersama keluarga besar ku saat pernikahan adikku. Satu jam yang lalu ketika kami pulang saat ia merasa lapar dan hendak memasak spaghetti kesukaannya. Beberapa menit yang lalu sebelum ku menemukan tubuhnya pucat dan terbaring di lantai.
Gadisku menggenggam tangan ku erat. Ku lihat air matanya yang turun perlahan seraya menyadarkanku. "Ayah," katanya. Ku peluk tubuhnya dan kembali berdoa bahwa ini hanya mimpi di tidur soreku.
"Berdoa dan berjuang, kami akan terus berusaha yang terbaik. Masih ada kemungkinan hanya tumor, sehingga kami dapat membersihkannya atau yang terburuk jika itu kanker." Perkataan yang juga terus menggema di kepalaku hingga saat ini.
Waktu berlalu cepat, pergi pagi pulang malam, bersamanya kulewati semua proses. Melihatnya menahan rasa sakit yang luar biasa saat ia harus menjalani kemoterapi yang kesekian kali. Rambut hitamnya yang dulu menjuntai dengan apik kini dapat di hitung jari helaiannya. Wajahnya yang selalu tersenyum bebas dan bahagia kini terlihat menahan rasa sakit. Aku? Yang dapat kuperbuat hanya berdoa bahwa ku ingin pulang dengannya kerumah kami tanpa merasa sakit dan menderita.
Perjuangannya membuatku ingin menemaninya hingga akhirku. Bersama gadis sulungku yang kini dengan dewasanya menemaniku dan menyemangatiku. Bersusah payah membantu kedua adiknya yang terus bertanya tentang ibu mereka.
"Kau bahkan tak perlu disini selalu. Menunggu ku seperti keledai bodoh. Kau bisa pergi sekarang," kekehnya dengan candaan yang aku tahu ada maksud dibalik itu. Yang ku perlukan hanyalah memengang tangannya dan memeluknya yang langsung menangis mengutuk keadaan.
Mencintai seseorang adalah karunia. Memilikinya adalah kesempatan.
Meninggalkannya adalah kebodohan.
Maka ku putuskan untuk paling tidak menepati janjiku pada Tuhan untuk setia dalam berbagai keadaan, sebagaimana upah dari aku yang dapat mencintai dan memilikinya karena Tuhan.
Yang memuatku terus jatuh cinta padanya.
Yang membuatku tak akan menyerah dengan keadaannya.
Yang membuatku belajar bahwa mencintai bukan hanya karena kehebatannya, tetapi kelemahannya.
Disini tempatku, disisinya sebagaimana seharusnya hingga waktu kami habis tuk saling mencintai. Hingga waktunya atau waktuku yang habis. Ku harap kisah kami kan berlanjut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerpen Alphabet
Short StoryFor Oneshot lovers. This is short love stories from the A till Z. Alphabet is sad, happy, sorrow, crazy, pain full and never ending love story. Karena setiap lagu punya cerita di tiap penggalan liriknya. Entah kenangan atau kehancuran.
