Setelah menghabiskan waktu selama kira-kira 15 menit untuk mandi, aku segera mengambil pakaian secara sembarangan dari lemari untuk dipakai. Tidak terpikirkan olehku untuk memilih-milih pakaian terbagus dan berdandan.
Aku segera keluar dari kamar dan menjumpai mama.
"Sakura??! Ini kamu kan, nak?" Mama terlihat kaget.
"Ada apa sih, ma?"
"Kamu ini, apa kamu lupa hari ini hari apa?!!" Mama mengguncang-guncang pelan badanku, entah ingin menyadarkanku akan hal apa.
"Hari Minggu kan?"
"HARI KENCAN KAMU DENGAN YUUTA!" Mama meneriakiku, yang tentu saja membuatku secara refleks menutup telinga.
Oh ayolah, aku ingat kok.. lalu memangnya kenapa?
"Kamu sudah seperti mayat hidup, tahu nggak?! Nggak ada semangat-semangatnya, juga nggak ada bahagia-bahagianya! Padahal kan dimana-mana tuh.. kalau yang namanya kencan, pasti semangat dan senang, hingga mematut diri di kaca selama berjam-jam untuk memilih pakaian terbaik dan berdandan sebaik mungkin untuk dapat tampil sempurna atau berbeda dari biasanya! Tapi kenapa kamu malah enggak, sayang??!"
"Bukan kencan kok, ma, jalan bareng aja." bantahku.
"Tidak, tidak, ini tidak boleh dibiarin! Kamu harus pakai pakaian yang sudah mama pilih dan berdandan!"
"A-apa?"
Segera setelah itu, mama menyeretku ke kamar. Membuatku harus ikut melangkah mengikuti mama mau tidak mau.
"Kamu duduk disana dulu, ok? Mama mau lihat baju di lemarimu dulu!"
Aku hanya diam, menatap kosong punggung mama yang mencari baju 'terbaik' di lemariku.
Ayolah... apa ini perlu?
Lagipula.. ini masih terlalu cepat untuk bersiap-siap bukan?
Masih pukul 8 pagi.. Dan kurasa ini masih terlalu cepat.
Yuuta baru akan datang jam 10 pagi kan?
Kenapa harus sesibuk ini sekarang?
Ketika kuputuskan untuk melangkah keluar dari kamar diam-diam, mama menegurku,
"Yumihara Sakura!"
Ah, ya.. aku ketahuan..
Tentu saja langkah kaki ini langsung terhenti ketika mendengar mama yang telah menyebut nama lengkapku.
Jikalau mama telah memanggilku dengan nama lengkap seperti itu, tensi darah mama sudah ingin naik tandanya.
"Mau kemana kamu?" Mama menatap tajam manik mataku.
"Ke kamar mandi, haha." Tawaku kaku.
"Kenapa harus yang ada di luar? Kamarmu kan juga ada kamar mandi. Jangan bohongin mama deh!"
"Ma.. apa ini harus?" alihku pelan tanpa menatap mama.
"Apa maksudmu? Tentu saja. Mama juga dulu saat kencan pertama dengan papa berusaha tampil secantik mungkin."
"I-itu.. itu kan mama. A-apa untukku yang tidak pernah berdandan itu tidak terlihat aneh?"
"Percayakan sama mama, ok?" Seulas senyum terbentuk di wajah mama, dengan tangan mama yang telah memegang kedua bahuku. Meyakinkanku.
"Uhm.. baiklah." Akhirnya aku pasrah.
"Bagus."
Mama pun mendudukanku di kursi rias. Lalu melanjutkan kembali mencari baju 'terbaik' yang aku ada untuk kupakai di kencan nanti.
˚
Setelah menemukan dress selutut biru yang baru pernah kupakai sekali di waktu pernikahan teman papa dulu, mama pun memintaku untuk segera mengenakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[SUDAH TERBIT] Friends
Teen Fiction"Apakah teman itu penting? Tapi bagaimana kalau di dunia ini memang tidak ada teman sejati dan abadi? Untuk apa ada teman kalau ujung-ujungnya akan berpisah? Bukankah itu hanya menyakitkan? Terlebih ketika mereka yang begitu mendapatkan teman baru...
![[SUDAH TERBIT] Friends](https://img.wattpad.com/cover/64960128-64-k297011.jpg)