"Apakah teman itu penting? Tapi bagaimana kalau di dunia ini memang tidak ada teman sejati dan abadi? Untuk apa ada teman kalau ujung-ujungnya akan berpisah? Bukankah itu hanya menyakitkan? Terlebih ketika mereka yang begitu mendapatkan teman baru...
"hosh.. hosh.." Nafasku sampai terdengar ngos-ngos'an akibat di ajak lari oleh Ryosuke.
"Ryo... suke.. hosh.. Mereka sudah.. hosh.. nggak ikutin kita lagi kok." ucapku yang akhirnya dapat berhenti berlari.
"Maaf Sakura, gara-gara aku.. kamu jadi ikut capek."
"Nggak usah di pikirin... Kamu pasti sudah terbiasa lari seperti ini ya..?!"
"Yah, begitulah.. Aku tidak mau tertahan terus di antara mereka. Karena sekalinya aku memberi foto pada satu orang, atau tanda tangan, yang lain akan memintanya juga.. terus dan terus seperti itu. Bahkan, orang-orang yang tengah lalu lalang pun ikutan meminta foto dan tanda tanganku juga.. Tiada habisnya. Hingga aku lelah sendiri dalam menghadapi mereka."
"Haha, aku mengerti."
"Maaf melibatkanmu."
"Tidak masalah kok. Aku suka lari-lari." balasku agar tidak membuat Ryosuke semakin merasa bersalah. Tetapi Ryosuke malah hanya diam dan menatapku.
"Berarti lain kali, kamu perlu pakai jengot." alihku yang lalu tertawa. Mengingat penyamaran yang telah Ryosuke lakukan gagal. Padahal ia sudah terlihat berusaha agar tidak di kenali oleh fans-fansnya dengan memakai topi, kacamata hitam dan kumis palsunya.
"Habis kumismu kan nggak mempan.. Ato di tebalin lagi aja kumisnya. Pakai spidol, wkwk. Itu tipis banget.. Ah, buat brewok aja sekalian." sambungku yang lalu tertawa kembali. Benar-benar konyol.
"Haha, lucu.." ujar Ryosuke sambil mencubit kedua pipiku.
"Aduh, sakit tahu!" ucapku sambil mengusap-usap kedua pipiku yang di cubit.
Tetapi Ryosuke malah diam dan mencium sebelah pipiku.
"Sudah nggak sakit kan?" Ryosuke berhasil membuatku mematung. Sikapnya memang sulit di tebak.
"Sakura?"
"Eh, ah.. u, udah nggak kok."
"Hmph, kamu harus lebih membiasakan diri setelah ini.. Karena ini masih bukan apa-apa." Senyum Ryosuke kemudian.
"Eh? Ma, maksudnya.." Pikiranku jadi mengelantur kemana-mana akibat ucapan Ryosuke.
Maksudnya ia akan sering menciumku???!
"Kamu bisa pulang sendiri? Aku ada pekerjaan setelah ini."
"Tentu. Yang semangat ya?"
"Hanya ciuman yang dapat membuatku semangat." ucapnya sambil menepuk-nepuk pipinya dengan jari telunjuknya.
"A, apaan sih?" Sepertinya, pipiku telah memerah. Bagaimana tidak..? Setelah apa yang telah Ryosuke perbuat dan katakan..
"Haha, baiklah.. Kalau begitu, aku saja." ucapnya yang lalu mencium keningku.
"Bye Sakura.. Nanti malam, kita line-an oke?" teriaknya sambil melambai ketika berjalan mundur sejenak.
Setelahnya, ia pun menghilang di balik taksi yang di panggilnya.
Aku hanya tersenyum dan pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak dapat ku gambarkan apa artinya. * * *
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Name : Yamada Ryosuke Age : 18 tahun Blood type : A Birthday : 25 Juni Zodiac : Cancer Likes : Menyanyi, Mendengarkan Lagu/Musik, Travelling Dislikes : Flu, Batuk