Agak Pendek dan typo masih betebaran. Semoga bisa dinikmati. Selamat membaca.
**
DARA keluar kota. Satya mendapat informasi itu secara tidak sengaja. Seorang pegawainya yang bernama Raihan menyebutkan nama Dara dalam rombongannya yang berangkat meninjau lokasi siang ini. Katanya dua hari. Jadi gadis itu baru akan kembali ke kantor senin depan. Satya menghitung dalam hati. Sekarang kamis. Jumat sore mereka baru akan kembali kembali ke Makassar. Sabtu libur.
Satya belum tahu bagaimana dia akan bicara dengan Dara. Ada beberapa skenario yang muncul di benaknya. Tapi tidak ada yang benar-benar diyakininya akan berhasil. Melihat reaksi Dara kemarin, pembicaraan mereka memang tidak akan mudah. Sorot ketakutan bercampur kebencian itu masih menyala-nyala. Dia tidak bisa menyalahkannya. Ada hal-hal yang memang tidak lekang dimakan waktu. Sama seperti rasa bersalahnya.
Pintu diketuk dan Bu Santi masuk dengan setumpuk map. "Ini file yang mungkin Bapak perlu ketahui. Proyek-proyek yang sedang dan akan kita kerjakan." Dia meletakkan map-map itu di atas meja Satya.
"Yang mana file proyek yang sedang ditinjau Pak Raihan..." Satya mencoba mengingat-ingat. "Di pare-pare?" Dia tidak sungguh-sungguh ingin tahu. Dia hanya mencari jalan untuk bicara tentang Dara pada Bu Santi tanpa membuat wanita itu curiga.
"Sebentar." Bu Santi menunduk dan mulai mencari di antara tumpukan map yang baru saja dibawanya. "Ini dia." Dia mengulurkan map berwarna merah pada Satya.
"Duduk dulu, Bu." Satya menunjuk kursi di depannya. Pembicaraan ini mungkin bisa lebih lama, dan membiarkan wanita setengah baya itu berdiri tidak sopan.
"Terima kasih." Bu Santi duduk dengan patuh. "Ada yang Bapak ingin tahu tentang proyek itu?"
"Siapa yang bertanggung jawab?"
"Arsiteknya Dara, dan Raihan yang mengerjakan pembangunannya."
Seperti keinginan Satya, nama Dara akhirnya disebut. Dia hanya perlu memancing lebih jauh. "Dara yang mengerjakan interior rumah yang akan kutempati?"
"Oh..." Bu Santi seperti teringat sesuatu. "Rumah Bapak akan dikerjakan Rita, Pak."
"Memangnya kenapa dengan Dara? Kata Bu Santi dia yang akan melakukannya, kan?"
"Rita juga bagus, Pak. Pak Satya tidak perlu khawatir," jawaban Bu Santi tidak sesuai keinginan Satya.
Dia tidak khawatir soal interior. Selama ada tempat tidur untuk meluruskan tubuhnya, dia tidak peduli soal tata letak perabot. Tidak saat ini. Dia tidak datang ke tempat ini untuk ribut soal interior rumah.
"Aku yakin Rita pasti bisa mengerjakannya dengan baik." Satya memberi senyum, menenangkan. "Dara sibuk, ya?" Dia mencoba cara lain.
"Iya, Pak. Sepulang dari Pare-pare dia mengambil cuti tahunan."
"Cuti?" Satya tidak suka mendengarnya. "Dara sudah merencanakan cutinya?" Dia sungguh tidak ingin terdengar seperti pimpinan yang ingin tahu semua urusan pribadi karyawannya. Tapi kali ini dia harus tahu. Dia tidak peduli lagi jika Bu Santi curiga karena kalimat-kalimatnya yang mendesak.
"Dia baru mengatakannya tadi. Katanya ada acara keluarga di luar kota. Pasti acara penting karena dia tidak pernah mengambil cuti atau izin sebelumnya." Nada Bu Santi terdengar membela Dara. "Tadi dia terlihat kurang sehat. Dia memang butuh liburan. Pak Satya tidak perlu khawatir, Dara sangat bertanggung jawab pada pekerjaannya. Dia tidak akan membiarkan pekerjaannya telantar karena cuti."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia (Yang Kembali)- TERBIT
ChickLitKehadiran pria itu seperti mimpi buruk yang menjelma nyata bagi Dara. Mungkin jauh lebih mengerikan daripada mimpi buruk, karena alam mimpi selalu bisa ditinggalkan saat terjaga, tapi bagaimana menghindari dunia nyata? Dia kembali. Layaknya menggar...
