YNK - 4

447 117 42
                                    

4. Teror misterius.

   Motor ninjanya mendarat. Menurunkan ratu tebeng tepat di depan istananya.

   Laki-laki yang berselimut helm berwarna hitam dan dilengkapi senjata mengemudi yang serba hitam itu menoleh pada perempuan yang sedang bersandar di punggungnya. Tidak malah menjauh, Gadis itu memegang erat baju putih yang dikenakan Langit.

  Kedua tangannya menahan bahu Langit, sebagai penyangga turun, berusaha menahan agar tidak jatuh. Yang seperti ini, Langit sangat suka. Rasanya ingin menahan cewek itu agar tetap berada pada posisi sebelumnya.

  "Lo disini aja,"

  "Lah, lo kesambet? Kan udah sampe rumah gue!"

  "Ya gue puter-puterin gitu kek biar lama. Kan lama lo ga nebeng gue. Jadi kangen—"

  "Jadi kangen apa?!"

  "Jadi kangen lo nebeng gue. Hih!" Langit gemas sekaligus geregetan.

  Sore itu menjelang petang. Tidak mendung, tidak juga terang. Di sisi lain, beterbangan burung-burung merpati yang hinggap pada untaian kabel listrik. Lalu bercengkrama satu sama lain.

  Obrolan mereka diramaikan oleh kebisingan kendaraan besar yang berwarna merah itu. Belum lagi semerbak bunga melati yang baunya menyeruak sampai ke tulang hidung.

   Langit menghela nafas. Bergelimung dalam gundah kelana.

   Rumah itu mengingatkannya pada masa lalu. Kali ini, Langit benar-benar ber-nostalgia. Sesekali, memorinya kembali pada tiga tahun ke belakang. Perempuan yang mengisi kekosongan hatinya dulu.

  Entah apa yang meracuni fikirannya. Tak habis fikir apakah boleh dia jatuh cinta pada saat itu, nanti, atau selamanya. Bukan seperti resiko yang tidak terukir sebelumnya.

  Dalam tiga tahun itu pula semuanya terasa singkat, berlalu begitu saja. Di dalamnya terisi kenangan yang berat dirasa, kenangan indah yang mungkin sulit dilupakan. Terasa berat untuknya sekarang. Walaupun dulu seakan-akan tidak bisa dipungkiri, entah.

   Saat ia masih bersama Bulan, bukan gadis yang lebih muda daripada Bulan, Kejora.

   Tidak, bukan itu yang ia mau sekarang.  Langit sudah nyaman, ingin terus begini. Tidak ingin ada yang mengganggunya, mengganggu Kejora, ataupun mengusik kehidupan mereka. Mengumbar kedekatan yang sengaja ia tumbuhkan selepas kepergian cintanya yang antisejati.

   "Tante Din—?,"

   "Ah, gampang. Ntar gue pamitin." Langit mengangguk. "Mau titip salam?"

   "Enggak,"

   "Lah, terus?"

   "Ya enggak terus. Cuma mau bilang, udah lama gak ketemu, jangan kangen sama calon menantunya."

   "For my twin sister?" ujar Kejora parau. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Langit mengernyitkan dahi.

   "Bulan?" gadis itu mengangguk. "Nggak."

   "Nggak apa?"

   "Ya nggak usah, bacot. Udah gue tutup, di sini, ama di sini." Langit menunjuk dada dan pelipisnya yang membuat seseorang di hadapannya linglung, gagal faham.

   "Maksud lo?" Langit memandangi langit yang berwarna ke oranye-oranyean seakan-akan tidak ada apa-apa di antara mereka.

   "O, gue tau. Lo mau ketemu Bulan?"

   "Ya nggaklah! Gila kali. Udah punya yang baru, kan?"

   "Tapi, jujur. Lo kangen?"

   "Gak, biasa aja."

You (Never) KnowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang