Bagian 5

473 37 0
                                    

Sejak hari itu, setiap hari aku membuatkannya bekal makan siang. Dia selalu menikmati bekal buatanku. Itu membuat hatiku senang. Mungkin apa yang kulakukan ini bisa meringankan beban masalahnya.

“Kamu ini selalu saja membuatkanku bekal yang enak, aku jadi tidak enak.”kata Lukas.
“Tidak apa-apa, asal kamu senang dan kamu menikmatinya, itu juga membuatku bahagia.”ujarku.
Lukas tersenyum.
“Mungkin seharusnya aku menceritakan hal ini lebih awal, tetapi aku tidak ingin membebanimu.”
“Kamu tidak membebaniku sama sekali, kalau ada masalah ceritakanlah padaku! Kita ini sahabat kan? Aku tak pernah merasa terbebani olehmu!”
“Sebenarnya keadaan di rumah saudaraku baik-baik saja. Om dan tanteku sangat baik kepadaku.”
“Lantas kenapa kamu murung saat aku menanyakan soal keadaan di rumah saudaramu?”
“Karena kebaikan mereka, aku jadi merasa tidak enak. Aku hidup menumpang bagai benalu. Aku sebenarnya ingin bisa hidup sendiri dengan menyewa kos. Akan tetapi orang tuaku tidak mampu jika harus menyewa kos. Maka dari itu, om dan tanteku dengan senang hati memberikan tumpangan padaku. Mereka bilang, aku sudah dianggap seperti anak sendiri karena mereka sendiri belum mempunyai anak. Kehidupan mereka sebenarnya berkecukupan. Akan tetapi tetap saja aku ini tidak enak dengan mereka. Yang aku lakukan di rumah hanya belajar dan belajar. Tante selalu membawakan cemilan dan susu untuk menemaniku belajar. Mereka selalu memberiku semangat agar aku bisa berhasil. Mereka sudah sangat baik padaku, tetapi aku belum memberikan apa-apa untuk mereka.”

Aku menepuk pundak Lukas.

“Mereka bilang kau sudah dianggap seperti anak sendiri, itu berarti mereka menyayangimu seperti orang tuamu menyayangimu. Mereka kan juga keluargamu, aku yakin mereka pasti senang saat melihatmu sukses. Kalau kamu belum bisa berbuat apa-apa untuk mereka, berikan mereka prestasi, nilai yang bagus dan kesuksesan di masa depanmu. Kalau kamu sudah sukses, kamu bisa membalas budi kepada mereka semua yang menyayangimu. Percayalah kepadaku!”

Lukas mulai tersenyum lagi. Matanya yang tadinya sayu, mulai memancarkan semangat. Aku berharap, apa yang mengganjal di hatinya bisa menghilang.

“Jadi begitu, aku mengerti. Aku akan berjuang demi masa depanku. Aku akan membahagiakan orang-orang yang menyayangiku. Terima kasih, Yoga.”ucap Lukas, ia terlihat bahagia.
Aku mengangguk, lalu merangkulnya erat.
“Nah, begitu baru Lukas yang kukenal!”kataku senang.

Sejak saat itu Lukas terlihat lebih baik dari sebelumnya. Ia tidak lagi terlihat murung dan mulai bisa berbaur dengan yang lain. Aku lega, akhirnya beban di hatinya bisa berkurang. Hanya saja belakangan ini dia terlihat agak aneh. Dia sering melamun entah melihat kemana. Dan pipinya juga sering terlihat memerah.

“Menurutmu cinta itu seperti apa?”tanya Lukas tiba-tiba.

Aku terkejut, pipiku mulai memerah dan jantungku berdebar-debar.

“Ci...cinta? Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”tanyaku.
“Ah tidak, aku hanya merasakan perasaan yang aneh belakangan ini. Setiap dia ada di dekatku, jantungku berdebar-debar tidak karuan. Aku penasaran, apakah ini yang mereka maksud dengan reaksi cinta kepada seseorang? Gejalanya sama persis dengan apa yang sering kubaca di buku maupun di internet.”

Lukas terlihat malu-malu dan pipinya juga memerah. Apakah Lukas sedang jatuh cinta? Lantas siapa yang membuatnya jatuh cinta? Perasaanku menjadi bercampur aduk. Kalau dia mencintai orang lain, entah mengapa hal itu membuatku kesal. Apakah rasa kagum yang kumiliki terhadap Lukas, sebenarnya lebih dari itu?

“Memangnya orang seperti apa dia?”tanyaku penasaran.
“A...aku malu menceritakannya.”jawab Lukas malu-malu.
“Kenapa harus malu?”
“So...soalnya..., di...dia sudah dekat sekali. Dia selalu memberiku perhatian dan.... menyemangatiku.”

Deg! Aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah orang yang dimaksud Lukas adalah.........aku? Selama ini aku adalah orang yang paling dekat dengannya. Aku tidak melihat orang lain yang juga dekat dengannya. Waaaa...., aku berteriak dalam hati. Perasaanku bercampur aduk antara bingung, senang dan malu. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku belum siap untuk mengungkapkan perasaanku.

To be continued

StalkerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang