Kumpul

871 32 0
                                    

Hari minggu pagi, kuisi waktuku dengan mencuci sepatu, seragam, dan baju-bajuku. Hari minggu adalah hari dimana semua keluargaku bisa berkumpul dengan santainya dirumah, Ayahku sudah libur selama 2 hari, dan ini adalah hari terakhirnya libur, Ayahku sibuk menata kebun didepan rumah, Ayahku senang berkebun, ia tak mau jika ada tanaman kesayangannya yang harus rusak.

Ibuku, seperti biasa membersihkan rumah yang dibantu oleh bi Ijah. Walaupun sudah ada Bi Ijah yang selalu siap membersihkan rumah, tetapi Ibuku senang membantu Bi Ijah, katanya pekerjaan akan lebih cepat selesai jika dikerjakan bersama-sama, aku senyum mendengar kata-kata Ibuku itu.

Adikku? Diusianya yang masih anak-anak, dia hanya bisa bermain dan bermain saja dengan teman-temannya, yang kadang lupa balik pulang "selalu saja merisaukan semua orang dirumah" bentakku padanya.

"Biarlah! Mario kan masih kecil" katanya dengan nadanya yang meledek.

Kadang aku kesal juga dengan jawabannya itu, jawabannya itu selalu berhasil membuatku harus mengalah, karena memang anak usia segitu masih senang bermain-main, aku harus maklum, tapi setidaknya kataku jangan membuat orang lain risau.

Disisi lain sifatnya yang selalu membuat orang kesal itu, aku sangat menyayangi adikku, sangat.

Jarum jam sudah menujukkan pukul 11 siang, teman-temanku benar datang, Silvia, Clarissa, dan Viona benar-benar datang, aku senang dengan kedatangan mereka, suasana rumah yang awalnya sepi itu kini menjadi ramai ketika mereka datang, suara tawa pecah diantara kami berempat.

Dibagian ini rasa senangku bertambah, ketika mereka menceritakan kejadian Alvian yang terjadi sebelum aku pindah di Jogja.

"Waktu MOS ada yang masih inget gak waktu Alvian ngelawan ketos?" Tanya Viona melototkan matanya.

"Ohiya, itu kejadiannya gara-gara apasih, kok bisa berantem gitu sama ketos?" Silvia bertanya dengan heran.

"Jadi waktu itu Alvian telat, tapi mukanya santai banget padahal semua siswa sudah berbaris dilapangan, gara-gara itu deh rasanya Alvian dibentak sama ketos jadinya berantem deh"

Waktu dibentak Alvian ngelawan ketos, awalnya cuma adu argument aja.

"Kenapa kamu bisa telat?"

"Bangun kesiangan kakaa" jawab alvian dengan santai

"Kenapa bisa kesiangan??!" Nada ketua Osis sudah mulai membentak.

"Karena tidak pagi" jawab Alvian dengan polos

"Kamu tau, kamu disini cuma Junior! Udah berani sama senior kamu?!" Emosi ketua osis pada waktu itu memuncak karena ulah Alvian

"Saya disini mau sekolah, mau menuntut ilmu bukannya menjadi budaknya senior yang diolok-olok seperti ini dengan atribut MOS seperti ini!!" Jawab Alvian.

Merasa bahwa Alvian sudah kurang ajar, lalu dengan tidak segan-segan ketua osis itu memukul Alvian.

BRAKKK!!!

Terdengar suara pukulan itu sangat keras membuat siswa yang berada dilapangan itu tiba-tiba terdiam.

Alvian merasa harga dirinya sudah diinjak-injak dimuka umum juga tidak segan-segan menghajar ketua osis itu, sampai akhirnya ketua osis harus mendapatkan perawatan, saat itu juga seluruh siswa bersorak atas kemenangan junior melawan senior, semenjak kejadian itu pula Alvian dikenal oleh kakak kelasnya sebagai seorang yang pemberani, hal itulah yang membuat Alvian diangkat sebagai ketua Geng mereka.

Clarissa menceritakan semua kejadian itu.

"Sampai segitunya?" Tanyaku, setelah mendengar cerita Clarissa, aku menjadi takut, betapa kasarnya dia sampai harus menghajar orang lalu masuk rumah sakit dibuatnya.

"Iyaa, tapi dia tampan, hehehehe" sambung Clarissa.

Disini Silvia dan Viona hanya menjadi pendengar yang baik saja, mereka berdua sama saja, mereka lebih senang menjadi pendengar dibandingkan menjadi pembicara.

"Tapi dia juga baik ngel, dia sering menolong orang yang bener-bener butuh bantuan, dibalik kenakalannya dia masih punya hati malaikat"

DEG! Aku terdiam, aku jadi teringat waktu aku ditolong Alvian saat dihalte, kali ini aku setuju jika ada orang yang bilang kalau dia masih punya hati malaikat.

"Ngellll....Angellllll! Woy!" Bisik Clarissa sambil menggoyangkan tangannya tepat didepan mataku.

"Ehhhh...iyaa? Hehehehe" jawabku serontak kaget setelah melamun.

"Mikirin siapa sihh??"

"Mikirin Alvian yaa???" Tanya canda clarissa padaku

"Apasih, enggaklah!" Jawabku

"Paling mikirin Alvian tuh! Hahahaha" sindir Silvia lalu tertawa.

"Dulu sekolah pernah heboh gara-gara ada tulisan disepanjang jalan menuju sekolah Alvian Loves Sutrii yang ditulis menggunakan kapur"

"Siapa sutri?"

"Ituloh guru cewek yang bahenol ituh! Hahahaha!"

"Ohh..hahahaha"

"Palingan dia sendiri yang nulis hahaha" Semuanya tertawa termasuk aku.

"Terus terus, waktu itu dia pernah ngasih bunga sama Coklat"

"Hah? Cowok cuek seperti dia juga bisa gitu??" Tanyaku herann, aku rasa dia hanyalah cowok yang cuek dan tidak akan mementingkan perasaan orang, selamanya akan seperti itu

"Hahahah bisaa lah! Tapi masa ngasinya ke Pak Azam!"

"Siapa pak Azam?"

"Ituuh tuh penjaga gerbangg! Hahahahah!

"Macam gay! Hahaha"

Tawa pecah kami berempat terdengar sampai luar, biarlah, aku tak peduli, aku senang mendengar cerita tentangnya, aku jadi tau banyak tentang Alvian yang hanya kukenal sebagai orang yang cuek.

"Dia itu Badboy, nakal, sering melanggar aturan sekolah, sering melawan guru" lanjut Clarissa

"Iya, dunia pun sudah mengakuinya"

Obrolanku bersama teman-temanku pecah tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.

"Eh, ini mau langsung balik?" Tanya Silvia pada kawan-kawannya.

"Ohiya, Ngell kami balik dulu ya, udah mau malem nihh, kapan-kapan deh kita kumpul lagi terus cerita-cerita heheheh"

"Hehehe iyaa, makasi, tadi rame"

Aku mengantar keempat sahabatku itu sampai digerbang depan rumah.

"Byee Angelll"

"Hatii-hati kaliannn" seruku pada mereka yang sudah mulai menjauh melaju dengan motornya.

Aku belum mengenal Alvian sepenuhnya, Laki-laki itu sangat misterius bagiku.

-ooo-

My Badboys AlvianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang