Lapangan Basket

843 31 0
                                    

Hari Senin adalah hari yang sangat membosankan bagiku, dan juga bagi seluruh siswa, karena harus berjemur dilapangan dibawah terik matahari, meskipun matahari pagi itu menyehatkan, tetapi aku tetap saja tidak suka, menurutku tetap panas, apalagi diisi dengan celotehan panjang kali lebar dari amanat yang dilantunkan oleh pemimpin upacara.

Selain itu, mataku juga menyibukkan diri mencari dimana Alvian saat ini, badan tegapnya dan batang hidungnya tak juga berhasil kutemukan, kemana dia? Tanyaku dalam hati. Huh! Aku sendiri tak tahu mengapa aku menjadi seperti ini, menyibukkan diri untuk mencarinya, memangnya dia siapa?

Sepulang sekolah, baru kali itu aku bisa melihatnya, dia bermain dengan bolanya dilapangan sendirian, dia sangat lincah dalam memainkan bolanya, kulihat hampir semua lemparan bolanya itu tepat masuk kedalam ring, aku memperhatikannya dengan diam-diam, tanpa kusadari bola basket yang dimainkannya itu tiba-tiba melambung kearahku dan mengenai kepalaku "aww!" aku merintih kesakitan.

"Gak apa-apa?" Tanya seorang laki-laki yang berdiri didepanku, dia adalah Alvian. Keberadaannya didepanku membuatku semakin mati gaya.

"Hmmm...enggak kok"

"Makannya jangan suka ngintipin orang!"

"Heh? Yang ngintip siapa?" Tanyaku dengan nada keras kepadanya.

"Itu kepalamu sedikit berdarah"

Aku hanya terdiam menunduk

"Ikut aku"

"Kemana?"

"Ikut aja"

Aku berjalan dibelakang Alvian, aku bisa melihat badannya yang tegap berjalan didepanku. Alvian mengajakku ke UKS untuk memberikan mengobati kepalaku. Aku gak percaya bahwa seorang Alvian bisa peduli padaku, biasanya juga dicuekin atau gak dihiraukan.

"Udahh" katanya

"Iyaa, makasii"

"Pulang?"

"Eh? Gausah, aku bisa sendiri"

"Karena aku udah bikin kamu sakit, aku merasa bersalah, maka dari itu kuantar kau pulang" ajaknya

Aku cuma bisa mengangguk menandakan aku setuju, diperjalanan Aku dan Alvian terdiam tak bersuara, sampai akhirnya Alvian membuka pembicaraannya.

"Maaf soal yang tadi"

"Iyaa, gak kenapa, aku juga gak kenapa-kenapa hehehe"

"Kalo begitu, pegangan yang kuat"

"Heh?"

Alvian kemudian memacu motornya dengan kencang, dengan lika-liku kendaraan yang disalipnya, karena ulahnya, aku memberanikan diri untuk menggetok kepalanya.

"Aduh!!" Rintih Alvian kesakitan yang kepalanya baru saja kugetok pakai tanganku.

"Makannya jangan ngebut!" Kataku kesal.

Alvian hanya terdiam, dan menahan sakit, aku tertawa melihat tingkahnya "Ini Gangster? Baru digetok saja sudah kesakitan" tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba motor Alvian berhenti disebuah warung tenda yang menyediakan bakso.

"Kita makan dulu"

"Iya" jawabku tersenyum

Setelah beberapa menit terdiam, aku memberanikan diri untuk menanyakan, apa alasannya dia memukuli Rio waktu itu, setidaknya aku jadi tau apa sebenarnya yang menjadi sebab permasalahannnya.

"Jadi waktu itu, temanku si Jefry sedang jalan sendiri sementara itu Rio dengan teman-temannya berkumpul disebuah warung kecil tepatnya 100 meter dari sekolah, Tanpa ada basa basi, Jefry dihajar oleh Rio, maka dari itu aku tidak terima kawanku disakiti tanpa sebab"

Aku hanya terdiam, menurutku disini adalah murni kesalahan Rio, ia sedang membangunkan singa yang tertidur, maka sekarang ia harus tanggung akibatnya.

"Aku melakukan hal itu jika ada orang yang memulai memancing amarahku, sama hal yang dilakukan oleh Rio kepada rekanku"

"Iyaa" aku hanya menjawabnya dengan sedikit tersenyum.

Setelah selesai makan bakso dengan Alvian, aku kembali menyusuri jalanan bersama Alvian dan motornya, tetapi kali ini langit menjatuhkan isinya tepat diatas kami berdua, membuat kami yang berada dibawahnya menjadi basah.

"Pegangan yang kuat" kata Alvian

"Iya" jawabku sambil melingkarkan tanganku diperutnya, aku mulai menyandarkan kepalaku dibahunya, ini adalah pertama kalinya aku memeluk Alvian atau ini adalah kali pertama Alvian dipeluk olehku.

Aku turun didepan gerbang rumahku.
"Masuk dulu vian" kataku.

"Gak usah, ada perlu" kata Alvian padaku tersenyum "Aku pulang ya" lalu Alvian memacuu motornya menjauh dariku.

Belum sempat bilang terimakasih malah udah hilang! Huh!

"Terimakasih Vian hehehe" bisikku dalam hati.

-ooo-

My Badboys AlvianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang