Seorang pria manis berjalan melewati lorong lorong rumah sakit sambil membawa beberapa balon ditangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah tongkat yang ia gunakan untuk memandu jalan.
Park Jinyoung, seorang pria Tuna Netra yang menjadi relawan untuk anak anak pengidap penyakit kanker dan yang lainnya. Meskipun dengan kondisi yang seperti itu tapi ia tidak pernah mengeluh, ia menjalaninya dengan senyuman.
"Paman Jinyoung!!"
Jinyoung sama sekali tidak keberatan jika dipanggil paman oleh anak anak, malah ia menyukainya. Meskipun terbilang masih muda, tapi Jinyoung ingin dipanggil seperti itu karena ia merasa kalau ia sudah dewasa seperi 'paman-paman'.
Segerombolan anak anak mulai menghampiri dirinya, Jinyoung pun langsung memeluk anak anak tersebut. Entah mengapa ia merasa bahagia dengan moment seperti ini, ia pun mulai membagikan balon balon yang ia bawa.
Tersisa satu balon digenggamannya, berarti ada satu anak yang belum mendapatkan balon. Jinyoung selalu membawa balon dengan hitungan pas untuk anak anak rumah sakit, tapi kali ini tersisa satu balon. Ia pun mulai menajamkan pendengarannya, saat suda mendapatkan jawaban yang ia cari ia pun tersenyum. Ternyata ada satu anak kesayangannya, ralat; yang paling ia sayang.
"Sujeong, dimana Raena?"
Jinyoung bertanya pada anak perempuan disebelahnya,
"Ia masih dikamarnya."
Jinyoung pun menganggukan kepalanya, ia pun langsung beranjak dari ruangan tersebut dan menuju kamar Raena.
"Permisi..."
Jinyoung mulai melangkahkan kakinya memasuki kamar rawat Raena,
"Paman!!"
Raena berteriak kegirangan setelah mendapati Jinyoung datang kekamarnya membawa balon dengan warna kesukaannya,
"Kenapa kau tidak ada disana sayang?"
Jinyoung mengelus kepala Raena,
"Perawat melarangku keluar dari kamar."
Jinyoung hanya mengangguk sembari tersenyum,
"Baiklah kalau begitu aku yang akan berada disini menemanimu."
Raena langsung memeluk Jinyoung dengan sayang, Raena benar benar menyanyangi Jinyoung karena Jinyoung selalu menemaninya disaat ayahnya sedang sibuk.
"Apa kau sudah makan siang?" Tanya Jinyoung,
"Sudah, tadi perawat yang menyuapiku."
Jinyoung pun memasang wajah lemahnya, tapi itu adalah pura pura untuk membuat Raena tertawa.
"Sepertinya aku terlambat."
Dan benar, Raena tertawa. Raena selalu tertawa jika bersama Jinyoung, karena itulah Raena benar benar menyanyangi Jinyoung. Dan juga Jinyoung menyanyangi Raena, karena Raena menjadi anak terlama yang menetap dirumah sakit. Karena yang lainnya sudah pergi ke alam yang berbeda. Dengan kata lain, teman teman seperjuangan Raena telah pergi meninggalkan dunia.
***
"Kau yakin?"
Jaebum kini bertanya pada seseorang dihadapannya yang baru saja memberikan beberapa lembar foto,
"Hey bodoh, kau ingin sampai berapa kali bertanya seperti itu padaku?"
Jaebum hanya memutar kedua bola matanya,
"Aku hanya penasaran saja, targetmu kali ini adalah orang yang sudah tua."
Pria muda yang berada dihadapan Jaebum hanya tersenyum miring,
KAMU SEDANG MEMBACA
Deficiency
أدب الهواة"Bukan tentang siapa yang memuja kelebihanmu, tapi tentang siapa yang memelukmu setelah tahu kekuranganmu" - Jaebum&Jinyoung
