"Ada apa bodoh?! Kau menghubungiku diwaktu yang tidak tepat!"
"Coba tebak siapa yang bodoh, kau atau aku?"
"Apa yang kau mau? Waktuku tidak banyak!"
"Kita harus bertemu Jaebum."
"Aku akan menghubungimu nanti."
Jaebum menutup panggilan tersebut. Ia pun kembali berjalan menuju tempat dimana Jinyoung menunggunya.
"Jinyoung maaf lama."
"Tidak apa."
Jaebum pun membantu Jinyoung berjalan menuju parkiran. Saat ini Jinyoung merasa seperti kecewa karena Jaebum membohonginya, entahlah kenapa bisa ia seperti itu.
"Jinyoung kau baik baik saja?"
Melihat raut wajah Jinyoung yang berbeda dari sebelumnya membuat Jaebum bertanya padanya saat keduanya tiba diparkiran,
"Aku baik Jaebum, bisakah antarkan aku pulang sekarang?"
Jaebum yakin Jinyoung sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya, entah itu apa. Dari nada bicara Jinyoung saja sudah ketara ia seperti orang marah,
"Jinyoung cobalah untuk jujur. Kau kenapa?"
"Sudah ku bilang bukan-"
"Bahwa 'aku baik baik saja Jaebum' begitu? Aku tidak ingin kau menyembunyikan sesuatu dari ku. Jadi katakanlah."
"Apa bedanya dengan dirimu?"
Deg.
Ucapan Jinyoung, seperti menyindir.
"Lupakanlah. Aku tidak ingin berdebat dan berakhir menjadi bertengkar. Bisa kau antar aku pulang sekarang?"
Terdengar kembali nada lembut dari Jinyoung. Meskipun Jinyoung mencoba untuk menahan amarahnya, jika seorang Tuna Netra sudah marah itu akan menjadi urusan yang beda lagi.
"Baiklah ayo."
**
Dilain tempat Mark sedang mengutak atik ponselnya. Ia sedari tadi menekan tombol hijau untuk menghubungi seseorang, tapi entah kenapa tiba tiba nomor nya menjadi tidak aktif.
"Pasti dia menonaktifkanya, sialan."
Mark terus bergumam tidak jelas pada ponselnya yang tiba tiba menjadi lemot pada aplikasi yang sedang ia mainkan. Ia terus berjalan melewati beberapa kursi sampai pada tujuannya ia menarik sebuah kursi. Tapi dari arah berlawanan seseorang juga menarik kursi tersebut,
"Kau?"
"Kau?"
Sadarlah keduanya ketika keduanya saling mendengar decitan tarikan kursi restoran tersebut.
"Ini kursiku." Ucap Mark yang menarik kursi tersebut dan langsung mendudukinya.
"Tapi aku yang lebih dulu tiba disini."
"Tapi ini adalah tempat favoritku."
"Aku tidak peduli."
"Jackson!"
Yap. Jackson, pria yang baru saja mendudukan bokongnya pada kursi dihadapan Mark. Pria yang baru saja berdebat dengan Mark hanya karena sebuah kursi.
"Wow! Akhirnya kau memanggil namaku juga."
"Pergi dari hadapanku sekarang."
"Kalau tidak mau?"
"Terserah."
Mark pun membuka jasnya dan melipat lengan kemejanya sampai kesiku. Ia jengah, sangat jengah. Terlebih lagi pada orang yang dihadapannya.
"Kalau begitu aku yang akan pindah." Ucap Mark akhirnya,
KAMU SEDANG MEMBACA
Deficiency
Фанфикшн"Bukan tentang siapa yang memuja kelebihanmu, tapi tentang siapa yang memelukmu setelah tahu kekuranganmu" - Jaebum&Jinyoung
