First Day
Di dalam mobil, suasana menjadi hening. Peter sibuk memainkan smartphone miliknya, sementara Calista fokus melihat pemandangan luar melalui jendela mobil. Hanya suara halus mesin mobil dan keheningan yang memenuhi ruang di dalam kendaraan.
Sekitar 100 meter sebelum sampai di Sekolah, Calista memberi isyarat untuk berhenti kepada sopir dengan alasan ingin membeli alat tulis.
"Terus aja, Pak. Saya mungkin akan lama," ucap Calista, berharap sopir bisa melanjutkan perjalanan tanpa menunggunya. Namun, sopir terlihat ragu, jadi ia memandang Peter melalui kaca spion. Peter tampak cuek, tetapi tetap mengangguk tanda setuju.
Dengan izin dari Peter, Calista keluar dari mobil. Pintu mobil ditutup dengan lembut, dan Calista melihat mobil melanjutkan perjalanan. Setelah mobil pergi, Calista berniat untuk berjalan kaki ke Sekolah sambil menikmati suasana pagi.
Setelah Calista keluar dari mobil dan menuju toko alat tulis, langkahnya penuh keyakinan dan sikap tegasnya terpancar dari pandangan mata. Meskipun tidak ada yang benar-benar dia butuhkan, sebagai murid teladan, segala sesuatunya sudah disiapkan jauh sebelum sekolah dimulai. Ini hanyalah dalih agar ia tak sampai ke sekolah dengan mobil yang sama dengan Peter, menghindari percakapan tak diinginkan di antara teman-teman sekelasnya. Calista memegang prinsip tak ingin menjadi bahan gosip.
Tiba di depan toko alat tulis, pandangan dinginnya melihat murid-murid sekolahnya mengantri panjang. Ia mendesah pelan, merasa kesal melihat ketidaksiapan mereka. Calista merasa tidak bisa memahami sikap kurang kompeten dan kurang siap, bahkan untuk hal sekecil membeli alat tulis. Ia menilai tindakan mereka sebagai sesuatu yang kurang bijaksana dan bertanggung jawab. Baginya, mengapa harus menunda-nunda hingga hari H? Apa jika persediaan habis atau toko tutup? Mengapa mereka tidak bisa bersiap dengan baik? Apakah mereka akan bolos atau meminjam alat tuliskepada yang lain? Ia benar-benar tidak bisa memahami sikap seperti itu.
Calista memutuskan untuk berjalan ke sekolah. Mungkin akan memakan waktu sekitar 10 menit dari toko. Ditengah perjalanan, dia mendapat pesan dari teman sekelasnya yang sudah dikenalnya selama dua tahun belakangan ini.
'Calistaaaa, kita 1 kelas lagiii' pesan teman sekelasnya tampak bersemangat. Tapi tanpa memberikan jawaban, Calista melanjutkan langkahnya menuju sekolah.
'Kita di kelas XII IPA 3,' sambung pesan itu, tapi Calista masih tetap tidak memberikan respons. Dia terus berjalan dengan langkah mantap, setelah mengetahui kelasnya dia berjalan tanpa perlu melihat pengumuman daftar kelas di mading sekolah.
Sesampainya di depan pintu kelas XII IPA 3, Calista berhenti sejenak. Dalam hatinya, dia mengucapkan kata-kata sebagai pengingat pada dirinya sendiri, "Hanya tinggal 1 tahun lagi dan kau akan bebas, ya 1 tahun." Calista memasuki kelas dengan wajah dinginnya, memeriksa sekeliling tanpa banyak ekspresi.
Nadia, salah satu teman sekelasnya, mengangkat tangannya dan memanggil Calista. Dia memberi isyarat kepada Calista untuk duduk di sebelahnya. Tanpa ragu, Calista duduk di tempat yang sudah ditunjuk oleh Nadia.
Calista melangkah mendekati bangku yang disediakan Nadia di dekat jendela nomor tiga. Namun, semakin dekat, ekspresi wajahnya semakin masam. Saat dia duduk, wajahnya tetap serius, seolah sedang mencerna dan meresapi sesuatu. Setelah itu, untuk memastikan apakah yang dilihatnya tadi hanya ilusi, Calista melirik bangku di sebelah kanan, dekat lorong. Namun, takdir berkata lain, dia melihat Peter duduk di sana, sedang asyik berbicara dengan teman semejanya.
Calista benar-benar bingung harus bertindak bagaimana. Sakit kepala mulai muncul, dan ia merasa frustasi. Tanpa pikir panjang, dia memijit kepalanya dengan tangan, dia benar-benar ingin membalik meja sekarang juga. Nadia, yang duduk di sebelahnya, terkejut dan bertanya dengan hati-hati, "Cal, are you ok? Oh iya, aku tadi lupa bilang ke kamu, Peter sekelas bareng kita."
"Yeah, do you think I'm ok?" Calista menjawab dengan nada yang sedikit tertekan. Nadia bingung, tidak tahu harus memberikan reaksi apa. Sebagai murid biasa, Nadia senang mengetahui bahwa Peter sekelas dengan mereka. Pria pintar dan tampan di kelas dapat menjadi penyemangat dan penambah semangat di tahun terakhir sekolah yang penuh dengan tugas dan ujian. Tetapi, situasi ini jelas tidak menyenangkan bagi Calista.
Calista yang selalu mendapatkan peringkat pertama di kelas tetapi selalu kalah di tingkat sekolah. Situasi ini jelas mempengaruhinya. Dalam dua tahun terakhir, Nadia telah menyaksikan seberapa keras Calista belajar, tetapi selalu harus menerima bahwa "Raja Sekolah," Peter, tetap menduduki peringkat pertama. Sekarang, mereka bahkan sekelas, dan Nadia merasa ragu apakah peringkat Calista akan tetap aman.
Calista, dengan pandangan yang terasa lebih berat dari biasanya, merenung sejenak. Dalam hatinya, ia tahu bahwa persaingan dengan Peter di kelas akan semakin ketat. Dia menyadari bahwa tantangan tidak hanya datang dari sisi akademis, tetapi juga dari hati kecilnya yang akan merasa canggung dengan kehadiran Peter di kelasnya. dia membuang napas kasar.
"Menyebalkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Harmonizing Unspoken Emotions
Fiksi RemajaCalista Elvania, seorang gadis yang tumbuh dalam bayang-bayang kebaikan tetangganya, hidup dengan ayahnya setelah kepergian ibunya. Meskipun bantuan keluarga tetangga memberikan kesejahteraan, hubungan antara Calista dan Peter, anak laki-laki tetang...
