4

198 12 3
                                        

Cafe

Setelah kemarin malam, Calista dan Peter pagi ini berangkat sekolah bersama lagi dan Calista tentunya memiliki alasan 'lagi' agar tidak sampai di sekolah bersama dengan Peter. Ketika pulang sekolah, keduanya menunggu beberapa menit setelah suasana cukup sunyi sebelum keluar dari kelas. Peter mengikuti Calista dari belakang, tapi jalan yang di lalui Calista bukan ke gerbang sekolah melainkan Perpustakaan.

Saat lorong yang di lalui sepi, Calista berbalik. "Aku akan ke Perpustakaan, katakan itu pada tante." ujar Calista dengan tegas. Maksud Calista adalah Aku tidak pulang denganmu jika tante Tania bertanya katakan kalau aku belajar di Perpustakaan. Setelah mengatakan itu Calista langsung berbalik pergi, meskipun ada kebingungan di matanya, Peter hanya melihatnya berbalik pergi lalu melakukan hal yang sama namun menuju arah yang berlawanan.


Hubungan mereka saat kecil sangat baik, seperti anak-anak pada umumnya, bermain bersama, bertengkar, berbaikan, dan bermain lagi. Peter, sejak kecil, memang pendiam dan tertutup, tetapi dia adalah anak yang baik dan dekat dengan Calista. Saat ibu Calista dirawat di rumah sakit, Peter selalu bermain dan juga menjaga Calista. Begitu pula dengan Calista, gadis kecil yang baik, pendiam, ramah, dan sopan. Namun, setelah ibunya meninggal, dia semakin menutup diri, tidak hanya dari Peter, bahkan dengan ayahnya pun dia tidak banyak berinteraksi juga karena ayahnya yang selalu sibuk.

Setelah ibu Calista meninggal saat dia kelas 5 SD, dia sering diajak keluar oleh Tante Tania untuk bermain dan bertemu teman-temannya, menganggapnya seperti anak sendiri. Beberapa kali dia ikut, tetapi tidak lama kemudian dia berhenti dan mulai mengurung dirinya di kamar setelah pulang sekolah. Peter juga tidak pernah lagi mengajaknya keluar bermain, dan hubungan mereka perlahan pudar, menjadi canggung, dan saling enggan..


Selama masa SMP, Calista dan Peter mengikuti jalur pendidikan yang berbeda. Peter memilih sekolah swasta yang terletak agak jauh dari rumah mereka, sementara Calista melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri yang lebih dekat, memungkinkannya untuk pulang pergi dengan berjalan kaki selama sekitar 15 menit. Hubungan mereka semakin jauh karena mereka sangat jarang bertemu.

Ketika masa SMA tiba, Tante Tania merasa sangat ingin agar mereka berdua masuk ke sekolah yang sama. Akhirnya, Calista dengan enggan menerima keinginan tersebut, sehingga kini mereka berdua di sekolah  yang sama. Namun, meskipun mereka satu sekolah, selama dua tahun berada di kelas yang berbeda, interaksi antara mereka tetap minim seperti sebelumnya.

Setelah mengetahui bahwa mereka akhirnya satu kelas, Tante Tania sangat bahagia dan berharap agar Peter dan Calista dapat kembali menjadi dekat seperti masa kecil mereka. Baginya, Calista sudah seperti anak kandungnya sendiri, dan melihat ketidakharmonisan di antara anak-anaknya tersebut tentu saja membuatnya gelisah.


Saat Peter mendekati gerbang, sekelompok temannya mendekatinya dengan ajakan untuk pergi makan. Awalnya, dia merasa ingin menolak tawaran tersebut, namun pikirannya terlintas pada kedatangan sepupunya yang dijadwalkan siang itu, membuatnya memilih untuk bergabung dengan mereka.

Café yang mereka tuju terletak di daerah terpencil dengan gang-gang sempit yang seringkali membingungkan. Mereka beberapa kali tersesat dan menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di tempat tujuan, padahal seharusnya perjalanan itu hanya memakan waktu sekitar 10 menit jika mereka mengetahui rutenya dengan baik.

Rio tertawa kecil sambil malu-malu menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal, "Haha, Maaf ya, aku baru sekali kesini soalnya. Kakakku yang sebelumnya menjadi pemandu dan  karena ada banyak gang yang membuatku kebingungan. Tapi tenang saja, makanan di sini tidak akan mengecewakan."


Ketika mereka melangkah masuk ke dalam cafe, suasana yang menyambut mereka begitu tenang dan hangat. Ruangan luas dengan langit-langit tinggi memberikan kesan lapang dan terbuka. Dinding-dinding dipenuhi dengan kayu-kayu yang diolah dengan indah, memberikan sentuhan alami dan menghadirkan aura kehangatan yang khas. Ornamen-ornamen kecil dari kayu terpampang cantik di dinding, menambahkan pesona artistik pada ruangan tersebut.

Harmonizing Unspoken EmotionsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang