Makan Malam
Pada kamis sore setelah pulang sekolah, Calista dan Peter terkejut melihat Adam sudah menunggu mereka dengan tidak sabar di ruang tamu. Adam bertanya dengan nada tidak sabar kenapa mereka sangat pulang terlambat, dia takut macet dan terlambat ke bandara. mengingat jarak Rumah Peter dengan Bandara cukup jauh.
"Oh, tadi di jalan macet." Calista meliriknya dan berkata dengan pelan.
Adam, tanpa meragukan ucapan Calista, hanya mengangguk setuju. Mereka kemudian bergegas memindahkan koper ke bagasi mobil, tetapi pandangan Adam masih menatap tajam ke arah Peter yang membuka pintu mobil penumpang.
"Kamu juga ikut ngantar aku?" tanya Adam dengan nada heran, sepertinya terdengar sedikit kejutan dalam suaranya.
"Ya, tadi mama bilang dia nggak bisa antar kamu jadi ya suruh aku." Jawabnya lalu memasuki mobil.
Adam yang masih di luar tersenyum mengejek, dia tahu saat tadi pamit ke tante Tania dia meminta maaf dan mengatakan kalau Peter yang akan mengantar nya karena dia sedang sibuk. Namun, dia tidak tahu kalau kali ini Peter benar-benar mengantarnya karena tahun lalu saat pertama kali dia akan berangkat kuliah, saat yang lain ikut mengantarnya hanya Peter yang tinggal di rumah dan bahkan tidak mengatakan satu patah kata pun.
Calista menurunkan jendela mobilnya, lalu berkata dengan dingin "Siapa lagi yang kau tunggu, cepat masuk!"
Saat Adam memasuki mobil, dia berbalik dan melihat Peter dan Calista dengan senyuman aneh. Sebelum berfokus kembali ke arah depan, ia melirik Peter sejenak dan menggelengkan kepalanya. Tentu saja, Adam mengetahui dengan pasti alasan di balik keputusan Peter untuk ikut mengantarnya kali ini.
Setelah perjalanan selama lebih dari satu jam, mereka akhirnya tiba di Bandara. Sebelum Adam check-in, ia sekali lagi memberi pesan kepada Calista untuk terlibat dalam kegiatan di luar sekolah.
"Kamu harus imengikuti kegiatan yang sudah kusebutkan sebelumnya. Aku menunggu kabar baik darimu," kata Adam sambil menatap Calista dengan serius.
Peter, yang sejak tadi diam mengikuti langkah mereka dari belakang, akhirnya muncul dengan pertanyaannya, "Kegiatan apa?"
Ketika suara Peter meluncur dari belakang, Calista dan Adam, terkejut, saling bertatapan dengan ekspresi canggung yang tak terhindarkan. Mereka melupakan keberadaannya. Adam mencoba menjawab dengan tenang, namun kebingungan tampak memayungi wajahnya, "Oh, tidak apa-apa. Aku hanya mengajak Calista untuk sedikit refreshing. Dia butuh istirahat setelah hari yang panjang di sekolah."
"Oh," Peter menjawab agak bersungut, seolah tidak sepenuhnya yakin dengan penjelasan tersebut. Namun, tanpa mengucapkan lagi sepatah kata pun, ia memalingkan wajahnya. Keraguan terpancar jelas di matanya, namun Peter memilih untuk tidak menggali lebih dalam. Setelah momen hening yang singkat, Adam memberi salam perpisahan dan berpisah dengan mereka.
--
Di dalam mobil, saat pulang menjelang malam, jalanan penuh dengan kemacetan yang tak kunjung berakhir. Setelah 30 menit perjalanan, mereka masih terjebak dalam kepadatan dari Bandara. Suasana di dalam mobil semakin gelap dan hening. Kedua penumpang di kursi belakang sepenuhnya terpaku pada layar handphone masing-masing, sementara sopir merasa semakin jenuh dengan suasana yang monoton dan membosankan, walaupun AC menyala ia merasa pengap di dalam mobil tersebut.
Tidak bisa memutar musik atau radio karena sang tuan muda di kursi belakang tidak menyukainya, serta sulit untuk mengobrol dengan kedua penumpang yang terlalu pendiam. Dalam situasi yang demikian, perut sang juga sopir sudah sangat lapar, dan dengan hubungan mereka yang bagaikan es, dia tidak berharap mereka akan berhenti untuk makan malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harmonizing Unspoken Emotions
Ficção AdolescenteCalista Elvania, seorang gadis yang tumbuh dalam bayang-bayang kebaikan tetangganya, hidup dengan ayahnya setelah kepergian ibunya. Meskipun bantuan keluarga tetangga memberikan kesejahteraan, hubungan antara Calista dan Peter, anak laki-laki tetang...
