Seminggu berlalu, sejak peristiwa itu terjadi dimana aku memberikan payung untukmu sebagai pelindung tubuhmu akan jatuhnya air hujan.
Akupun tak pernah tahu siapa namamu, dimana rumahmu, dan darimana kamu...
Saat itu akupun tak sadar memberikan payung itu padamu, yang ada dalam benakku hanya ingin membantumu untuk lekas pulang karena senja telah menyongsong, tetapi aku terhanyut dalam derasnya aliran hujan yang berjatuhan hingga tak dapat berkata dan bergerak bebas, terkecuali hanya senyum simpul ini sebagai balasan ucapan terimakasih mu.
"Terimakasih bang sudah minjamke payung untuk aku" ya kalimat itu masih jelas terngiang - ngiang di telingaku. Seakan akan menjadi momok dalam hidupku, serta gertakan keras dari hati kecilku yang selalu menghujatku dengan kalimat acuan "Bodoh, ngapo kau dak nanyo siapo namo dio".
Semoga kita bisa bertemu kembali, dimana saat hujan turun.

KAMU SEDANG MEMBACA
Halusinasi Majemuk
RomantizmAku sudah bahagia sekarang. Tak perlu kau cemaskan aku lagi. Aku sudah ditemukan oleh seseorang. Yang seperti doamu dulu sebelum pergi meninggalkanku, yang akan benar-benar menyayangiku. Yang akan benar-benar mencintaiku. Kini aku telah ditemukannya...