Chapter - 8

2.1K 118 14
                                        

Hingga tiga puluh menit kemudian, setelah merasa Donghae benar-benar masih dalam dunia dibawah alam sadarnya, Yoona mulai beranjak dari sisi Donghae. Merapikan jaketnya, lalu berbalik, melangkah menjauhi tempat tidur Donghae. Tapi baru dua langkah, Yoona berhenti. Menunduk, meremas dadanya. Ada sesuatu yang terasa mengganjal dan membuat dia merasakan kesakitan yang tidak dapat terkatakan lagi.

Yoona berbalik, kembali mendekati Donghae. Gadis itu menunduk mengamati wajah Donghae dengan air mata yang sudah mulai mengalir. Yoona menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya takut mengganggu tidur pria itu.

"ku pikir dengan menghabiskan waktu dengan mu malam ini, akan mempermudah ku untuk melepasmu"

"tapi... hiks... ini bahkan lebih sulit lagi"

"bagaimana aku mengucapkan salam perpisahan oppa? Jika pada kenyataannya aku tidak ingin sedikitpun jauh darimu"

"apa yang harus kulakukan?"

Yoona menutup mulutnya dengan telapak tangannya untuk meredam tangisnya. Tiba-tiba Donghae bergerak, sepertinya isakan Yoona mulai mengusiknya. Membuat Yoona segera menghapus air matanya. Menahan sekuat tenaga agar matanya tidak memproduksi air mata lagi. Untung saja Donghae tidak terbangun. Pria itu kembali dalam tidurnya.

Yoona merapikan beberapa anak rambut yang menutupi kening pria itu. Mengusap kening itu dengan lembut.

"maafkan aku karena tidak bisa mengucapkan kata perpisahan. Karena aku tidak sanggup melakukannya oppa. Maaf..."

Yoona mengecup bibir pria itu dengan lembut, lalu segera pergi meninggalkan kamar itu dengan memendam semua kesakitannya.

Ketika Yoona sudah tiba di depan pintu, diraihnya knop pintu itu. Namun tiba-tiba terdengar suara gaduh dari belakangnya. Tapi sebelum sempat berbalik untuk melihat apa yang terjadi, tiba-tiba sesuatu menubruk punggungnya hingga membuat Yoona sedikit terdorong kedepan.

Mata Yoona membulat, terkejut dengan kejadian yang dalam sekejam terjadi. Ditambah sesuatu yang melingkar semakin erat dipinggangnya. Sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya dengan erat. Membuat tubuhnya menghangat sekaligus gemetar. Dan lagi-lagi air matanya sudah membasahi pipinya.

"aku... aku juga tidak sanggup berpisah denganmu", ucapan lirih itu sangat jelas Yoona dengar.

Tanpa Yoona sadari sejak sedari awal Donghae tidak benar-benar bisa tidur dengan tenang. Donghae masih ingin bersama Yoona. Tapi karena gadis itu terlalu mengkhawatirkannya, Donghae memilih lebih baik berpura-pura tidur berharap sedikit mengurangi kekhawatiran gadis itu.

"jangan pergi", pinta Donghae.

"kumohon jangan pergi", dengan suara serak Donghae memohon dengan memeluk Yoona lebih erat. Yoona tidak dapat berkata-kata lagi. Gadis itu hanya dapat menangis sesunggukan dengan badannya yang bergetar hebat. Bahkan kini Donghae pun ikut menangis walaupun tidak sampai sesunggukan seperti Yoona. Donghae menangis dalam diam. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Donghae meletakkan dagunya di bahu Yoona. Donghae pun merasakan hal yang sama seperti yang gadis itu rasakan. Seperti ada tekanan dari dalam diri mereka yang ingin meluap tapi seperti ada penghalang. Mengakibatkan rasa sesak di dada. Air mata pun tak cukup untuk menggambarkan betapa sakitnya pasangan itu.

>>>>>>>

"tidurlah", ucap Yoona. Namun Donghae tetap menggelengkan kepala. Yoona sudah berulang kali meminta Donghae untuk tidur tapi pria itu keras kepala tidak ingin tidur, bahkan memejamkan mata pun tidak.

Setelah meminta terus-menerus agar Yoona tidak pergi, akhirnya gadis itu mengalah. Yoona akan pergi ketika pagi hari. Donghae pun setuju. Walaupun tidak rela Yoona tetap akan meninggalkannya, tapi dari pada tidak ada Yoona sama sekali, lebih baik menambah jam kebersamaan mereka yang seharusnya sudah selesai sedari tadi, yang mana Yoona harusnya sudah pulang ke rumahnya.

My Lovely Doctor (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang