10. Friendzone

97 7 0
                                        


Gue Rio. Gue pengen cerita.

-----

Gue duduk di kelas 11 SMA. Bisa dibilang gue anak rantau. Yah, orang tua gue ada di Lampung. Sedangkan gue ada di Jakarta. Alasannya sih, pengen hidup mandiri dan gue berniat sekolah di ibukota karena sekolah di sini akreditasinya baik. Bukan berarti gue bilang kalo sekolah di kampung halaman gue itu nggak baik. Bukan. Gue hanya pengen mencari suasana baru aja.

Di sini gue tinggal bareng nenek sama kakek. Meskipun gue numpang, gue tau diri. Dalam arti, gue nggak boleh terus-terusan bergantung sama kakek nenek gue. Yah, meskipun kakek gue dapet dana pensiun tiap bulan, bukan berarti gue bisa foya-foya di sini.

Jadi, gue mutusin buat kerja paruh waktu di kafe. Sepulang sekolah, gue biasanya belajar dulu karena pasti gue nggak sempet kalo udah malem. Dengan membawa gitar akustik, gue mencoba untuk menawarkan diri di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah. Setelah sebulan gue kerja di sana, akhirnya gue bisa jadi penyanyi tetap di kafe itu. Gue kerja di sana tiap sabtu dan selasa.

Di sekolah, gue termasuk murid yang pendiem. "Pelit banget kalo disuruh ngomong," kata Oki –temen gue-.

Gue emang hemat suara. Ngomong seperlunya. Pangeran dingin. Si cowok es.

Oke, mungkin julukan 'pangeran dingin' itu kesannya gue geer banget.

Hari ini gue sama Oki berencana untuk mengumpulkan formulir kompetisi futsal ke ruang guru. "Yo, lo udah cek semua formulirnya?"

"Udah."

"Trus lo jadi ikut kagak?"

"Hhmm.. Nggak."

"Ah.. yang bener lu Yo. Lu kan pemain inti, masa iya lu kagak ikut."

"Ya nggak lah. Nggak mungkin gue nggak ikut maksudnya," jawab gue lalu terkekeh.

"Kamvret ni anak bikin jantung gue deg-degan aja."

"Najis lu."

Saat gue ngumpulin tu formulir, gue ketemu sama seorang cewek. Kayaknya dia kelas 10. Dia lagi ngomong sama guru PKn, sesekali dia bercanda untuk mencairkan suasana di depan guru killer itu. Dia manis. Dia humoris. Dia berkacamata.

"Rio Winanta!"

"I-iya pak." Gue pun langsung mengalihkan pandangan karena panggilan dari Pak Broto –guru olahraga-.

"Kamu boleh kembali ke kelas."

"Oh iya Pak. Maaf. Saya permisi dulu."

Entah kenapa gue keluar kantor jadi senyum-senyum sendiri sampe nggak sadar kalo Oki menunggu di koridor depan ruang guru.

"Woy Rio! Udah gue tunggu, malah ditinggal." Gue hanya nyengir di depannya.

"Ki, lo tau nggak cewek yang barusan masuk kantor guru, yang pake kacamata?"

"Nggak tau, mungkin dia kelas 10. Kenapa emang?"

"Nggak pa pa, cuma tanya."

"Naksir ye," goda Oki sambil menaikturunkan alisnya.

"Apaan sih, orang gue cuma tanya."

"Oo.. Cuma tanya?"

"Hmm.."

"Ya elah yo.. kalo lo tertarik sama tu cewek bilang aja kali. Di usia kita yang sekarang emang udah waktunya tertarik sama lawan jenis. Wajarlah. Kalo lo suka sama dia, perjuangin dong. Cowok bukan?"

"Elu. Kenal aja belom udah suruh perjuangin aja. Lo pikir berjuang itu gampang?"

Mulai saat itu gue cari tahu informasi apapun tentang dia. Dan dapat.

My DIARYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang