SEMUA yang aku cinta tidak akan menghilang, tidak akan menghilang, tidak akan menghilang, itu saja dulu. Aku membangun sebuah sugesti di benakku kalau semua yang aku cinta akan terus berdiri disampingku, tidak meninggalkanku, tidak mencampakkan aku. Bunda akan terus hidup, dan dokter akan berkata sesuatu yang positif, yang baik, tidak memberi sebuah harapan palsu. Let's put it that way, for now.
Walaupun tangisan tante Elvi kian menderas dipelukkanku, aku berusaha setengah mati untuk tidak menitikkan air mata. Rumah sakit memang tempat untuk menangis, tapi tidak bagiku. Kalau aku menangis, artinya aku terima bahwa kondisi bunda kian memburuk, dan aku tidak mau itu.
"Bunda pasti baik-baik aja sayang... bunda pasti baik-baik aja."
Sahabat terbaik bunda pun juga ikut mensugesti dirinya, dan diriku. Mengatakan bahwa 'bunda akan baik-baik saja' berulang-ulang kali sudah merupakan kebohongan yang besar. Tapi gak apa-apa, let's put it that way for now, shall we? Anggap saja semuanya akan baik-baik saja. Disamping itu, Bintang berlapang dada untuk meninggalkan kuda nya dan menemaniku berduka disini. Sedari tadi ia tak berucap apapun, tak juga membantu menenangkanku. Ia seperti asyik dengan dunia nya sendiri, dan kehadirannya disampingku ini hanya sekedar 'absen' saja.
"Elo ke kafetaria aja, minum coklat panas atau teh gitu." Saranku. Bintang hanya mengangguk namun tak juga beranjak dari kursi. Tante Elvi disampingku menggenggam kedua tanganku lalu menatapku dalam. Ia berbicara dengan suaranya yang serak akibat terlalu banyak menangis.
"Jeral udah tau, Gem?"
Pertanyaan itu. Ya, pertanyaan itu yang aku tunggu. Jeral, sudah seharusnya dia disini menemani bunda. Tante Elvi terlihat ragu untuk menanyakan pertanyaan retorikal ini. Ya jelas Jeral belum tahu. Mungkin jika aku menelfonnya untuk memberi tahu, ia tidak akan mau tahu. Jadi buat apa?
"Belum, tante. Udah-lah, bunda juga gak mau lagi ketemu Jeral."
"Kalau ini kesempatan terakhir Jeral untuk ketemu bunda gimana, sayang?"
Ah. Ngomong apa sih tante? Kesempatan terakhir bagaimana maksudnya?
"Maksud tante?"
Tante Elvi mengusap kepalaku, bibirnya bergetar menahan tangis yang kian menderas.
"Tadi, sebelum kamu datang, dokter udah bicara sama tante. Bunda kondisi nya gak baik... sangat buruk kalau bisa dibilang"
Ribuan pisau menerjang kedua tulang rusukku, menghancurkan nya menjadi serbuk-serbuk duri yang perlahan menikam jantung. Aliran darah seakan berhenti karena jantung yang gagal memompa. Rasanya aku mati. Ingin aku cubit tanganku sekeras mungkin agar terbangun dari mimpi ini. Tidak, tidak bisa. Aku sudah kehilangan ayah, kehilangan Jeral aku tidak bisa lagi kehilangan bunda. Aku tidak mungkin hidup sendiri sebatang kara layaknya upik abu. Ini tidak mungkin.
"Kamu harus telfon Jeral sayang... ya? Bagaimana pun dia anak nya bunda. Sampai kapanpun dia kakak kamu, dan anak lelaki bunda."
Tante Elvi semakin terisak-isak, lalu kembali mendekapku. Air mataku jatuh juga. Betul kata tante Elvi, Jeral masih bagian dari aku dan bunda. Bagaimana jika sampai akhir hayat bunda tidak bisa bertemu Jeral? Hatiku semakin sakit membayangkan apa yang akan terjadi satu jam, dua jam atau belasan jam mendatang. Hidupku saat ini bak dikejar dentingan jam, every hour counts.
Satu jam kemudian, aku memutuskan untuk menelfon Jeral tanpa memperdulikan hal-hal menjijikan apa yang sudah ia perbuat, luka dalam macam apa yang pernah ia torehkan ke hatiku dan bunda. Aku melakukan ini semua untuk bunda, mungkin ini merupakan permintaan terakhirnya. Aku melangkah agak jauh dari tante Elvi dan Bintang. Di lorong rumah sakit, aku menekan nomor Jeral. 15 detik kemudian, kami tersambung lewat telfon,
KAMU SEDANG MEMBACA
Senja di Mata Bintang
Literatura FemininaApa salahnya dicintai seseorang? Tidak, tidak ada yang salah. Bersyukurlah ketika ada orang yang mencintaimu, atau menyayangimu, karena jika begitu, seperti apapun buruknya dirimu, dia akan rela memberikan mu sepenuh raga, cinta dan jiwanya. Kak B...
