Berbagilah Kemudian Tertawalah

5 0 0
                                    


Angin mendesau-desau kencang, daun-daun berguguran satu persatu. Musim kemarau sedang di ambang pembuka, dingin menggigit di pagi dan malam buta, akan tetapi panas menyengat saat matahari menanjak di ubun-ubun. Cuaca benar-benar sedang tak tentu, cuaca sedang labil dengan tingkat potensi demam di mana-mana. Ibu-ibu muda sedang khawatir pada si buah hati terserang demam, akan sakit di musim panca roba seperti sekarang ini.

Siang datang mengganti peran malam dengan gemintang yang kadang tertutup kabut di elok malam, matahari tetap menjadi raja siang yang menyinari bumi sangat misterius, sinarnya panas menyengat akan tetapi kadang lembut dan garang, entahlah. Matahari kali ini dilanda bingung dan linglung, mungkin setelah ribuan abad bersinar wajar, kali ini matahari sedang terkena demam pancaroba. Benar-benar musim yang susah untuk dikatakan.

Senyum dan tangis datang saling berganti peran, silih dan siur simpang. Memberi peran tak terkatakan selama ini kepada segerombolan rasa yang kadang malah salah menempatkan posisinya. Luka dan tangis adalah paket bahagia yang tertunda, karena beriring air mata selalu terganti serangkai tawa tak putus. Begitulah Tuhan menghibur hamba-hamba-Nya. Dia tidak pernah rela membiarkan kekasih-Nya tergelung dalam ronta yang berkepanjangan, selalu punya rahasia terbaik yang tidak disangka-sangka.

Alin duduk termenung lama, kafe sedang sepi, dia termangu sendiri memperhatikan pintu kafe dari tempat kasir, pintu yang terbuka kemudian tertutup, berputar dan kembali pada posisi stabil seperti semula. Tatapannya datar, tanpa ekspresi dan luruslurus saja. Belakangan ini dia malah lebih sering duduk di meja kasir kafe daripada duduk di bangku kuliah, mendengarkan sederet pesanan pelanggan daripada pesanan ilmu pengetahuan para dosen. Bukankah di kafe mungilnya ini, belakangan dia menemukan sebuah kesenangan tak terkatakan? Menemukan kesibukan baru dengan sebuah penantian yang entah sampai kapan akan berakhir. Raihan entah sudah beberapa minggu terakhir ini lenyap begitu saja, hilang dari peredaran. Alin mencarinya, tentu. Di ruang kuliah, tidak ada. Di sudut berumput tempat keduanya biasa duduk lesehan juga tidak ada, bahkan setiap akhir sore tempat Raihan biasa dating bertandang menyematkan sebuah senyum samar miliknya juga tidak ada lagi. Telpon dan sms Alin hanya dibalas singkat-singkat oleh Raihan, selebihnya tidak ada. Kabar terakhir yang diterima Alin dari sahabatnya itu adalah bahwa dia sedang sibuk, itu saja, entah kesibukan apa, Alin bahkan tidak tahu. Menatap pintu kafe yang berputar di tiap akhir sore, berharap putaran itu adalah putaran riang yang sering dibuat Raihan seperti biasa, menatap pintu kafe lagi-lagi bukan hanya di akhir sore tapi di siang, bahkan kini menatap setiap putaran yang dibuat pengunjung, membandingkan tingkat intensitas kecepatan yang biasa di buat Raihan pada pintu itu. Hasilnya, ternyata Raihan selalu membuat putaran paling bersemangat dan paling memukau, bahkan di putaran pintu pelanggan yang sering datang berkunjung di kafenya.

Alin kehilangan Raihan, dan dia sangat merindukankebersamaan bersama sahabatnya itu.Siang itu teramat terik, fatamorgana di tengah jalan raya semakin membentuk sebuah genangan air yang kian lama-kian lebar akan tetapi tak pernah ada ujung untuk bisa mencapai fatamorgana itu. Alin baru tiba di kafe tersebut, setelah mengikuti kelas terakhirnya dengan setengah hati, dia kehilangan semangat. Hanya duduk mencangklung di belakang meja kasir, duduk menatap putaran pintu seperti biasa, lagi-lagi menunggu kemunculan Raihan sahabatnya. Hingga di menit ke tiga puluh dia duduk di sana, hanya ada dua putaran pintu, menandakan siang itu kafe mungilnya benar-benar sepi pengunjung. Dan di putaran pintu ke tiga, dia dapati sebuah putaran dengan tingkat putar seratus delapan puluh derajat, dan daya dorong dengan tenaga pental yang langsung membuat pintu terjengkang sekaligus. Putaran pintu milik Raihan. Alin mendongak, menatap Raihan dengan sebingkai senyum paling manis yang pernah dimilikinya. Sebuah rasa nyeri yang tidak biasa menggigit ulu hati, rasa nyeri bercampur senang, luapan rasa yang bercampur aduk.

"Re..." panggilnya sumringah. Seraut wajah kuyu milik Raihan terpampang di hadapannya, wajah yang selama ini dinanti Alin muncul dengan ekspresi

yang sama sekali tidak biasa, mata Raihan sendu  dengan rambut kusut dan raut wajah lesu, dia bahkan hanya menanggapi dengan sebuah senyum samar panggilan Alin barusan.

Marmutkelinci143@yahoo.comTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang