EPILOG

3K 262 14
                                        

Sore itu terlihat seoalah malam yang menangisi kepergian mentari. Tak ada tawa dan hanya ada rinai hujan yang menghantarkan ke peraduan. Semua tampak suram sesuram para wajah yang memandang gundukan tanah basah itu.
"Seharusnya ini tak terjadi. Aku.... Aku masih ingin bersamanya?"
Semua memandang kearah asal suara. Pemilik surai pirang itu terlihat muram.
"Jangan salahkan dirimu sendiri dobe!"
Kata yang terlontar beserta pelukan hangat diterima. Ia Naruto.

Flashback
"Tidaaaakkkkk," teriak Minato ketika ia melihat sang putra tercinta terjatuh berlumuran darah. Ia hanya bisa mematung ketika suara teriakan bungsu uchiha itu menerpa gendang telinganya. Bumi seolah berhenti untuknya.
"Naru! Dobe! Bangun sayang! Banguuunnnn!"
Teriakan dan ratapan Sasuke mengiris hati siapa saja. Kyuubi yang sadar segera menghambur memberikan pukulan dan tendangan tak peduli pada soaok yang seharusnya ia hormati.
"Kau! Kenapa kau harus menjadi ayah kami? Kenapa kau renggut adikku yang seharusnya bisa kau lindungi? Obsesi bodohmu membunuhnya. Kau pembunuh. Kau yang membunuh Naruto. Kau yang seharusnya ku panggil Tou-san, hanya menjadi malapetaka untuk keluarga ini."
Minato tertegun. Ya, ia lah yang telah membunuh putra belahan jiwanya.
"Tidak, TIDAAAKKK...... Aku akan menemanimu Naru-chan sayang... Kau tenang saja."
Minato merecau dengan tangan yang masih memegang pistol. Ia arahkan pistol itu tepat si pelipis dan....
DOOORRRR
Flashback end

Saat itu Minato dan Naruto dilarikan kerumah sakit. Naruto selamat karena tembakan itu hanya hampir mengenai organ vitalnya. Tapi keadaan Minato tak dapat tertolong.
Naruto yang mengetahui hal itu terpuruk sedih.
Bagaimanapun tingkah polah sang ayah, Naruto tetap menyayanginya. Walau sayang itu berbeda dari apa yang diharapkan oleh Minato.
"Hari mulai gelap Dobe sayang. Kasihan anak kita. Nanti kalian kedinginan."
Naruto mengangguk. Ia hampir lupa jika ia kini tengah membawa kehidupan lain di dalam tubuhnya. Keajaiban ditengah kesedihan yang kini ia alami. Satu persatu sosok di tengah rumah masa depab itu angkat kaki. Meninggalkan tubuh kaku nan dingin meringkuk penuh kesendirian.
-O0O-
Naruto memandang rinai hujan yang turun satu persatu di balik bingkai kaca kamarnya. Lusa adalah hari pernikahannya dengan Sasuke. Ia merasa beruntung. Dalam keadaan apapun sang kekasih siap sedia mendampinginya. Walau ini masih dalam waktu berkabung, tapi ia ingin anak yang ia kandung segera memiliki status. Ia bahagia di tengah duka yang masih hinggap di dada. Hingga sebuah pelukkan hangat melingkupi tubuhnya dari belakang. Wangi musk menenangkan ini ia hafal. Ini adalah sang calon.
"Apa yang kau pikirkan sayang?"
Naruto tak menjawab dan memilih untuk menyamankan tubuhnya pada rengkuhan Sasuke. Sasuke yang mengerti perasaan sang kekasih hanya ikut diam.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah sekalipun kau meninggalkan ku ne Teme!"
Kini giliran Sasuke yang tak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya sebagai jawaban. Mereka menikmati rinai hujan yang mulai hilang bersama.
-O0O-
"Saya bersedia"
Kalimat singkat itu telah mengikat dua 'adam' untuk mengarungi dunia yang lebih luas lagi.
Dua pengantin itu tampak menawan dengan caranya sendiri. Mereka terlarut dalam kebahagiaan sehingga tak menyadari ada sepasang mata yang menatap sendu.
"Gomen Naru.... Gomen. Aku mungkin memang kaa-san yang tak baik untukmu. Sakitmu itu disebabkan oleh ketidak mampuanku untuk mempertahankan perasaan tou-sanmu. Kini bahagialah dengan jalan yang ingin kau tempuh. Apapun itu, kini aku hanya bisa menyertaimu dengan doa yang tak akan habis."

END BENERAAANNN....

Gomene minna-san....
Kalian udah nunggu lama tapi part ini cuma seimprit....
Akai kini udah kerja jadi jika suruh up cepet or panjang Akai belom sanggup...
Cerita ini kita tutup dengan tepuk tangaaannnn....
Horeeeeee
👏👏👏👏

THE LAST POWERStories to obsess over. Discover now