"Takdir memang begitu selalu datang tanpa diundang , menciptakan gaduh, menjadikannya benci lalu dengan mudah berpaling rasa menjadi cinta"
***
"huaahhhh" Sinar matahari mulai menembus pandanganku ,entahla kenapa matahari pagi ini begitu semangat membangunkanku dari tidur lelapku, dan cuaca yang entah mengapa masih terasa amat dingin ini membisik ku agar tetap di tempat tidur menikmati selimut hangat bermotif Doraemon pemberian mama saat ulang tahunku yang ke-16 tahun kemaren.
" Adifa bangunn ini udah pagi nanti kamu telattt" Alarm yang seakan sudah tersetel setiap pagi unuk membangunkanku dari mimpiku ini mulai berteriak seperti diriku ini sudah tuli kalo berbicara dengan nada yang rendah.
"iyaaa maa" sahutku yang harus merelakan selimut dan bantal yang masih sangat nyaman untuk kugunakan pagi ini.
Setelah selesai merapikan rambut dan pakaian ku serta menyiapkan buku buku yang akan kupelajari hari ini aku segera pergi kemeja makan yang mana disana hanya ada mama yang sedang menyiapkan makanan untukku.
"hai ma, mama nggak kesekolah?" tanyaku saat aku telah menempatkan pantatku didepan kursi yang diduduki mama.
kebetulan mamaku ini adalah seorang guru di suatu sekolah dasar dan mengajar pelajaran yang menurutku rumit yaitu bahasa inggris. Aneh bukan? Saat orang tuaku menggeluti pelajaran bahasa inggris tapi aku malah lemah dalam bidang itu.
"enggak, hari ini sekolah mama diliburkan karena ada sedikit renovasi dibelakang sekolah jadi ya seperti yang mama bilang tadi" jawab mama sambil menyuapkan roti yang diberi selai nanas kemulutnya.
"oh yaudah ma adifa berangkat dulu , takut telat" ujarku berdiri sambil mencium tangan mama.
Aku berjalan santai menuju mobilku atau lebih tepatnya lagi mobil mama yang dibeli 2tahun lalu dengan tabungan yang kata mama sudah ia kumpulkan bertahun tahun ,dan sekarang mobil itu sering kugunakan untuk pergi kesekolah , memang sih mobil tua ini tidak sebagus punya teman teman ku, tapi mobil ini adalah mobil kesayanganku karena aku tahu seberapa keras mama membelinya .
aku mulai melajukan mobilku agar cepat sampai kesekolah. bertemu dengan teman-temanku dan menceritakan hal-hal yang penting sampai hal yang sangat nggak penting.
Seperti pagi ini ketika aku baru sampai mereka sedang membicarakan artis cantik bernama raisa yang bertunangan dengan pacarnya Hamish, nggak penting banget bukan? Aku segera meletakkan tasku ditempat dudukku dan ikut bergabung mendengarkan gosip yang teman-temanku katakan.
hingga tak terasa bel berbunyi menandakan pelajaran pertama atau lebih tepatnya pelajaran yang akan membuatku pusing yaitu bahasa inggris segera dimulai , dan untungnya nasib berpihak padaku ,Tommy ketua kelas yang sebenarnya tak pantas dikatakan ketua kelas karena keusilannya ini datang mendatangkan berita baik bahwa ibu yang mengajar sedang sakit.
Sebenarnya itu adalah berita buruk tapi entah mengapa hatiku berteriak senang merayakan kebebasan ku belajar berbahasa asing itu yang menurutku nggak penting karena kita kan tinggal di Indonesia trus ngapain belajar bahasa inggris menurutku.
"lo beneran kan?'
"kalo lo ngibul lagi lo bakal gue jadiin serbuk miwon"
"serius tom? Tumben tu guru sakit, langkah nih harus kita rayain"
Begitulah kira-kira respon teman-teman kelasku, ada yang naik keatas meja, ada yang bernyanyi,ada yang lompat-lompat ,ada juga yang hanya memilih tidur bersama eartphone yang disumbatkan ketelinga seperti diriku sekarang.
Entah mengapa hari ini mood ku sedang tak baik, padahal pagi tadi semua baikbaik saja, biasanya aku yang paling semangat pergi kekantin apalagi dengan keadaan yang dimana cacing diperutku meronta-ronta minta makanan. Bahkan ketika kedua sahabatku jeje dan helmy mengajakku kesana, kursi yang aku duduki sekarang seakan menahanku .
rasanya ingin sekali memejamkan mataku, tapi tak bisa kulakukan akhirnya aku memilih untuk mengambil buku bersampul doraemon dengan ukuran lebih kecil dari buku tulisku, katakanlah ini buku diary , aku memang selalu mencurahkan semua perasaan ku lewat buku ini sama seperti diary tapi bedanya aku menuliskannya dengan pemilihan kata bisa disebutkan aku menuliskannya menjadi bentuk puisi.
Saat dimana daun memilih gugur meninggalkan pohon
Ia harus menerima bahwa ada daun baru yang mengganti
Saat senja memilih untuk meninggalkan sore
Ia harus menerima datangnya malam yang teramat kelam
Setetes air yang datang dari jendela hati
Tak dapat memadamkan api
Tapi kuyakin dapat menenangkan hati
Setelah menyelesaikan puisi ku aku sedikit tenang , aku kembali keposisiku semula, tidur dengan menggunakan tasku sebagai bantal sambil menunggu bel berbunyi , tak terasa aku benar benar terlelap hingga satu suara membangunkanku ,aku mendongak mencari tahu siapa yang berani mengganggu tidurku.
"lo!? Ngapain?" mataku melotot ketika ku tahu ikan fauz sekolahku atau Fauzi arzenio sedang duduk di bangku sebelah sambil tersenyum sok akrab , padahal kami bertegur sapa hanya 2 kali dan ia hanya melempar bolla volly sial itu kepadaku.
Aku tak akan pernah melupakan kejadian waktu itu saat aku sedang ingin mengisi acara perpisahan sekolah, lelaki itu malah melempar aku dengan bolla sehingga membuatku pingsan dan dia dengan tidak bersalahnya menyalahkanku ketika aku sadar.
Dan yang kedua aku terjatuh dan semua orang menertawakanku. Lalu sekarang dia mau apa? Membunuhku? Kalo aku terbunuh maka orang yang pertama kali akan kuhantui yaitu Fauzi Arzenio.
***
YOU ARE READING
Live Rainbow
JugendliteraturAwalnya biasa lama-lama terbiasa awalnya sederhana lama-lama terkesan indah jangan tanyakan padaku tapi tanyakan pada waktu kepada kita bertemu jangan tanyakan padaku tapi tanyakan pada takdir kenapa aku jatuh cinta jang...
