Kala itu, suara saut-menyaut gema adzan subuh sangat terasa terdengar indah di setiap telinga. Berduyun-duyun orang-orang yang baru saja berdiri dari kasur tikarnya. Langsung sigap menyibakkan kain sarung yang mereka pakai sebagai pelindung dari serangan ganas dingin yang menikam tubuh. Ada yang sukar untuk dibangunkan, sampai-sampai perlu beberapa kali dicipratkan air ke wajahnya, ada yang harus digoncangkan, pula ada yang ditiup matanya berkali-kali dengan kencang dan macam-macam. Berbeda dengan Abdurrahman, ia adalah jagoan subuh, bahkan bisa dibilang jagoan tahajjud dikarenakan seringnya ia bangun terlebih dahulu dibanding kedua orang tuanya untuk melaksanakan ritual ibadah yang amat langka dan jarang orang kerjakan itu, karena kebanyakan mereka masih merasa nyaman terhadap tidur mereka. Tak mau lepas bercengkrama dengan selimut-selimut sarung mereka. Berguling ke sana berguling ke sini.
Memang ada yang sebagian bangun malam. Menyibakkan sarung, kemudian bergegas menuju jamban. Walaupun tergopoh-gopoh. Ia membuka pintu dengan berpenampilan menggunakan sarung Wadimornya yang sudah berhari-hari tak dicuci. Menggunakan kopiah dengan posisi miring ke kanan bernomorkan 6. Kemudian bergegas menuju mushola Nurul Amal.
Ketika paginya di sekolah, ada sebuah pemandangan yang tak biasa di mata para siswa kelas 7 Smp Muhammadiyah. Sesosok perempuan berkerudung putih dengan ikat tali macam renda yang melingkari kepalanya. Berjalan dengan tersipu malu ketika langkah kakinya mulai memasuki kelas. Ketika itu Bu Laila yang tengah mengisi mata pelajaran, IPA. Perempuan itu tidak tinggi pula tidak pendek. Bersepatu NB, sepatu standar sekolah. Sosok yang rapi, terasa aura nyaman yang terpancar secara ghaib dari wajahnya.
"Baik anak-anak, hari ini kalian akan mendapat teman baru." sontak seisi kelas sudah mulai agak ramai, saling berbisik antar kawan di sampingnya maupun yang di seberang dengan berbagai macam gaya.
"Silahkan memperkenalkan diri kamu di hadapan kawan barumu." dengan sopan dan anggun bu Laila mempersilahkan perempuan perempuan berkerudung itu. Kau tahu kawan, apa yang dilakukan Abdurrahman?. Ia gelisah. Jantungnya berdetak lebih banyak dan agak cepat. Menunduk tersipu malu ia atau mungkin ini yang disebut Ghadul Bashar atau menundukkan pandangan itu?. Yusuf dengan memasang raut wajah yang sedikit serius mengerutkan kedua alisnya sehingga berjumpa. Meletakkan kepalanya diatas tangannya dengan agak miring ke kanan. Memperbaiki keadaan duduknya dengan percaya dirinya menyapu-nyapu baju putihnya. Dan Ipul dengan tatapan matanya yang sayu, terlihat ada seonggok bercak hitam di kelopak matanya. Ia semalam tak bisa tidur lebih awal, karena bayang-bayang sosok yang menyeramkan menghantui pikirannya.
* * * * *
Ipul pulang dengan sedikit tergesa-gesa karena terlalu sore. Ia telat. Takut dimarahi oleh bapaknya, ia mendayung pedal sepeda Bmx 2100nya dengan laju yang cepat. Karena ia tau akan telat sampai di rumah, ia nekat untuk melewati jalan yang kata sesepuh orang sana terkenal angker. Pemandangan di sisi kiri dan kanannya hanya semak-semak belukar, batu-batu, pohon kelapa yang seperti mau tumpah, dan ada sebuah sumur di sana. Ipul sedikit khawatir akan nestapa yang bisa saja menimpa dirinya. Tapi mau bagaimana lagi, ia kayuh pedal sepeda dengan sekencang-kencangnya melewati jalan yang terkenal berhantu itu. Tak berani sedikitpun menengok kanan kiri. Dengan rona wajah yang muram ketakutan, ia mendengar seperti suara desisan ular di sebelah kirinya. Ia makin panik dan semakin mengayuh pedal sepeda dengan kecepatan maksimal. Dengan bermandi keringat, akhirnya ia pun berhasil lolos dari jalan berhantu tersebut dengan nafas yang hampir habis karena terlalu banyak berhamburan di jalan itu.
Kecepatannya makin menormal. Ia akhirnya bisa bernapas lega walaupun kerap kali bayang-bayang imajinasi liarnya menari-nari di dalam pikirannya, dan mengganggu pikirannya.
"Alhamdulillaaah..." Pekiknya ketika keluar dari jalan berhantu itu.
Ipul pulang dan menceritakan apa yang telah dialaminya kepada bapaknya. Bapaknya menyimak dengan sangat apa yang diucap anaknya itu. Sambil memelintir kumisnya dan sesekali menyeka janggutnya yang hanya beberapa lembar seperti senar gitar ukulele.
"ndak ada yang namanya hantu gentayangan, bocah, itu hanya imajinasimu yang terlalu liar dan perkataan dari orang-orang di sekitarmu, yang membuatmu terkubur di dalam mitos itu." Luar biasa perkataan bapak Ipul. Namun tetap saja Ipul tertadung ke dalam imajinasinya. Dan akhirnya ia tidur larut malam.
* * * * *
Di kelas, perempuan yang berkerudung putih tadi mulai sedikit demi sedikit mengangkat pandangan wajahnya menghadap teman-temannya. Ia memainkan jarinya sendiri.
"Em, A-Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh." Akhirnya keluar juga.
"Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuuuh." Seisi kelas gempar. Nina, Fisya dan Aisyah terdengar kencang pekikannya. Bahkan sampai berdiri tegap, sontak saja. Abdurrahman pun terlihat berubah rona wajahnya. Yusuf dan Lana yang melihat pemandangan yang cukup asing itu, bertanya-tanya dalam hati. "Memangnya skor PSCS semalam berapa ya, sampai begitu kau Man."
"Namaku, Hasya Nur Raqina biasa sehari-hari dipanggil Hasya. Aku tinggal di Cigaru, cuma sekarang aku sering dititipi di pamanku di Majenang ini, tepatnya di Jl. Pahlawan di samping Masjid Istiqomah. Senang bertemu kalian semua." Aih, senyumannya yang sederhana namun anggun menawan itu menyemburatkan aura aneh yang bahkan membuat rona wajah Abdurrahman berubah agak kemerahan. Nina, Fisya dan Aisyah terlihat gembira sekali karena akan kedatangan kawan baru.
Lana dan Yusuf makin keheranan melihat gelagak Abdurrahman yang tidak seperti biasanya. Jika dengan perempuan yang lain, Abdurrahman mampu menjaga setiap sendi ekspresi perasaannya, namun kali ini ia seperti ada sesuatu yang membuatnya memerah.
"Man, kenapa kau seperti itu? bergembiralah karena kita kedatangan kawan baru. Aih, cantik pula." Goda Budi. seterunya dalam persaingan nilai ujian.
"Ya Allah, apa ini? perasaan apa ini?." Ia berkutat dalam batinnya. Perempuan berkerudung putih berlingkarkan tali macam renda itu memporak-porandakan pikirannya, habis diterpa angin menuju negeri antah-berantah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Orang Asing
Historia CortaTak 'kan lah berada di dunia ini selamanya. Pasti ada episode di mana ada pertemuan, dan gerbang terakhir yang akan menunggunya adalah perpisahan. Dan pada sesi yang ini, akan banyak orang yang tidak suka dan tidak mengharapkan yang namanya Perpisah...
