Get Out

21 1 0
                                    

"A-aku, aku tak tahu siapa dirimu," kataku masih dilanda kebingungan. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Nanti saja aku jelaskan," perempuan itu mengulurkan tangannya. "Lebih baik sekarang kita keluar dulu"

Aku masih bingung dengan apa yang terjadi, aku juga tak tahu tempat apa ini dan mengapa aku ada di sini. Hal terakhir yang ku ingat adalah...
Tak ada, tak ada hal bisa ku ingat, aku hanya berfikir bahwa sekarang tiba kematianku, karena suatu hal yang telah ku perbuat sebelumnya, tapi, tapi aku tak juga tak ingat apa yang telah ku lakukan sebelumnya. Aku bingung dengan semua ini, mencoba mengingat tetapi kepalaku seperti tak mengijinkannya, saat mencoba mengingat saat itu pula kepalaku terasa nyeri, sakit tidak keruan. 

Aku mencoba untuk tidak memikirkannya, aku pun mengikuti perempuan itu, Ia menggenggam tanganku dan menuntunku keluar dari tempat ini. Genggamannya terasa dingin, kami berdua diam tanpa berbicara sepatah kata. Aku tak tahu kemana arah tujuanku, aku tak berani bertanya, entah apa yang ada dalam pikiranku, seperti sesuatu berbisik, diam dan ikuti saja. Karena hal itulah aku hanya mengikutinya hingga akhirnya ku temukan secercah cahaya di ujung yang semakin lama semakin terang.

Ku halangi kedua mataku dari sinar matahari dengan tanganku. Ku sipitkan kedua mataku yang belum terbiasa dengan sinar matahari, mungkin karena terlalu lama di ruangan yang gelap. Genggaman yang sedari tadi terasa dingin, mulai hangat. Kehangatan itu terasa mengalir di tubuhku. Ku buka mataku perlahan, mencoba beradaptasi dengan cahaya matahari. Aroma rerumputan hijau merasuki hidung, kicauan burung terdengar riang. Pohon-pohon rindang dengan rerumputan hijau di sekelilingnya. Kehangatan ini seakan mengembalikan kemampuan panca indera ku. 

Perempuan misterius itu tetap menggandeng tanganku, menarikku kearah pepohonan. Aku hanya melihat pakaian lusuhnya dari belakang. Kami tetap tak  berbicara satu sama lain, bisikan tadi terus terngiang, seolah memang sengaja menghentikanku untuk berbicara maupun bertanya, sampai akhirnya sebuah angin kencang bertiup yang membuat mataku perih.

[R3D] MemoriaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang