Chapter 4

1K 105 1
                                        

FASTER THAN A KISS

Chapter 4 -  ONE ON ONE

Di sekolah, seharusnya Kyungsoo bisa lebih tenang dan menikmati hidupnya sementara ia berpisah kelas dengan Kai. Setelah pagi tadi Kai melemparkan pertanyaannya secara terang-terangan, jujur saja Kyungsoo masih belum bisa menjawab dan berusaha menghindar dari hadapan Kai. Kyungsoo juga sudah memastikan bahwa Kai tidak akan pindah ke kelasnya karena kelas Kyungsoo merupakan kelas khusus untuk para murid beasiswa. Di dalam kelas khusus murid beasiswa, ritme materi pelajaran yang diajarkan oleh para guru menjadi dua kali lipat lebih cepat dengan materi yang diajarkan di kelas murid regular. Karena itu, tak heran jika para murid beasiswa  mampu menyelesaikan tingkat SMA mereka hanya dalam waktu dua tahun saja. Selain menguntungkan bagi para siswa karena dapat memasuki perguruan tinggi lebih awal, pihak sekolah pun tidak menghabiskan biaya banyak untuk menampung murid beasiswa hingga 3 tahun.

Baru saja Kyungsoo dapat berpikir tenang mengenai hal itu, seseorang yang kini masuk bersama gurunya, membuat leher Kyungsoo tercekik. Di depan kelas, Kai bersama wali kelasnya tengah berdiri dan menyampaikan sesuatu. Kyungsoo tak ingin berpikir bahwa Kai bisa dengan mudah mengajukan ide jika ia dapat bergabung dengan kelas beasiswa. Bukankah kelas beasiswa adalah kelas yang tidak bisa dimasuki oleh murid-murid di kelas regular? Dan Kyungsoo pun tahu kalau Kai tidak sehebat dirinya dalam hal pelajaran sekolah.

Semua itu benar terjadi. Kai memang tidak masuk sebagai murid di kelas beasiswa, namun Kyungsoo tak mengira bahwa murid beasiswa diharuskan mengikuti mata pelajaran tambahan yang akan diajari oleh Kai. Kelas tambahan khusus, Kelas Dance !

***
Kelas dance dimulai setelah para murid kelas beasiswa menyelesaikan materi pelajaran pokok mereka. Tak disangka, semua murid beasiswa begitu antusias menyambut Kai di dalam kelas itu. Sebelumnya, Kyungsoo sempat berpendapat dan mengajukan bahwa para murid beasiswa tidak perlu mengikuti pelajaran tambahan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masa depan mereka. Namun, pengajuan Kyungsoo tersebut ternyata tidak berhasil, karena tak satupun dari mereka mendukung Kyungsoo, justru para murid beasiswa itulah yang sempat mengajukan kepada sekolah agar mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar dance – mengingat club dance di sekolah Kyungsoo sangat popular dan memiliki prestasi paling bagus di antara sekolah lainnya, maka siapapun ingin berlatih dance. Selain itu, siapapun di sekolah Kyungsoo jauh lebih menginginkan seorang Kim Kai berada bersama mereka. Apalagi dengan padatnya jadwal murid beasiswa di sekolah, membuat kesempatan mereka untuk bertemu Kim Kai menjadi semakin sedikit dibandingkan dengan murid regular. Terkadang mereka begitu iri ketika para murid regular dapat menyaksikan Kai berlatih bersama tim dance-nya sepulang sekolah, sementara mereka masih harus mengikuti jadwal khusus kelas beasiswa yang diterapkan oleh sekolah. Karena itulah, dengan adanya materi khusus yang sengaja diberikan oleh Kai kepada para murid beasiswa ini, dijadikan satu-satunya kesempatan bagi mereka untuk bertemu dengan Kai dan melihat kemampuan serta ketampanan Kai yang didambakan oleh siapapun di sekolah Kyungsoo.

“Baiklah … teman-teman semua! Kita bisa mulai dengan peregangan kaki dan tangan terlebih dahulu …” seru Kai memberi komando kepada para murid beasiswa yang telah berbaris rapi di studio dance miliknya. Mendengar seruan Kai tersebut, para murid beasiswa mengikuti setiap gerakan peregangan yang diperagakan oleh Kai. Selang beberapa menit kemudian, mereka melakukan peregangannya masing-masing sementara Kai berkeliling mengecek kelenturan tubuh mereka satu per satu. Berlanjut dengan gerakan-gerakan dasar sebagai pemula untuk seorang dancer, para murid beasiswa tidak mudah mengikuti setiap gerakan yang diperagakan oleh Kai. Walau demikian, mereka tetap tidak menyerah. Mereka tetap semangat mempelajarinya.

Di sisi lain, Kyungsoo mulai dapat menikmati suasana awal latihan dance yang diberikan oleh Kai. Berulang kali ia melakukan gerakan yang semula diperagakan Kai dan mengecek apakah tubuhnya sudah cukup lentur atau belum. Ia menatap proporsi tubuhnya di hadapan cermin yang terpasang di seluruh dinding studio dance lalu tersenyum kecil karena tak mengira bahwa melakukan hal ini dapat memberikan kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.

Faster Than A KissTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang