FASTER THAN A KISS (Boy x Boy 🚨)
Chapter 8 – Unknown Feeling
Sudah 1 jam lebih Kai memandangi sosok mungil di depannya itu tanpa bersuara. Bibirnya tersenyum kecil sambil menikmati permen lollipop strawberry favoritnya. Kedua matanya selalu mengikuti kemanapun tubuh mungil Kyungsoo berpindah dari satu tempat ke tempat lain di area dapurnya.
Kyungsoo yang kini berbalut pakaian maid dengan perpaduan warna pink muda serta putih, lengkap dengan telinga kelinci panjang yang menghiasi kepalanya, tak merasa terganggu sedikitpun dengan tatapan Kai yang sudah ia sadari sejak 1 jam lalu. Sesekali Kyungsoo hanya memutar bola matanya, menunjukkan kejengkelannya pada Kai secara terang-terangan.
“Kau tahu, warna pink seperti ini sangat cocok untuk kulitmu,” pada akhirnya Kai berkomentar. Matanya masih mengikuti gerak tubuh Kyungsoo tanpa berkedip.
“Oh ya? Apakah ini sebuah pujian? Atau kau hanya mengisi waktu luangmu untuk merayuku?”
Kai terkekeh. Ia seharusnya tahu bahwa Kyungsoo tak suka pujian. Bahkan jika ia benar-benar ingin memuji Kyungsoo, bukan dengan cara yang terlihat langsung oleh kedua matanya seperti ini. Beberapa kali Kai mencoba melakukan itu, namun usahanya gagal. Paling tidak, inilah usahanya untuk lebih akrab dengan Kyungsoo dan menghilangkan sedikitpun peluang kecanggungan di antara mereka berdua.
“Seharusnya aku semakin paham bahwa kau tidak memiliki selera apapun terhadap sebuah pujian …” ujar Kai tertawa.
“Tidak, aku suka pujian kok. Kau saja yang tidak bisa memujiku dengan baik. Kemarilah!” sahut Kyungsoo sambil membalikkan badannya ke arah Kai.
Tubuh Kai mendadak kaku. Otaknya kembali berpikir pada sesuatu yang mungkin saja dilakukan Kyungsoo secara tiba-tiba. Terakhir kali ia bersama Kyungsoo, kemarin malam lebih tepatnya, Kyungsoo telah melakukan ciuman itu kepadanya. Dan malam ini, kejutan apalagi yang akan diberikan Kyungsoo kepadanya?
“A … ada apa?” tanya Kai sambil berjalan ke arah Kyungsoo. Ia menatap ke arah lain pada sudut ruangan di dapurnya. Hatinya begitu gugup.
“Kenapa? Kau takut aku menciummu lagi?” tanya Kyungsoo begitu menyadari Kai tiba-tiba membeku di sampingnya.
“Tidak. Aku tidak berpikir begitu …”
“Lalu, kenapa kau sangat gugup?”
“Masa sih, biasa saja ah menurutku …” Kai berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya senormal mungkin. Ia bahkan melakukan gerakan stretching ke kanan dan ke kiri. Sementara itu, Kyungsoo tersenyum geli melihat Kai yang begitu amat canggung di depannya tersebut. Bagaimana mungkin pria dengan Ferrari mewah dan sangat popular di sekolahnya itu, mendadak gugup di depan dirinya yang bukan siapa-siapa.
“Haaa … kau ini payah. Seingatku, terakhir kali kau justru berusaha merayuku dengan pesan norak itu …”
Kali ini, giliran Kai yang menahan senyumnya. Ia juga semakin menghindari tatapannya dari Kyungsoo. Pria itu bahkan menggerak-gerakkan tubuhnya sebanyak mungkin di dekat Kyungsoo. Paling tidak, ia tidak ingin Kyungsoo melihatnya sangat gugup.
“Hei, tidak usah menjadi pria pemalu seperti itu! Cepat kemari, cicipi dulu masakanku!” ujar Kyungsoo sambil menarik lengan Kai dan tak menghiraukan sama sekali apa yang tengah Kai lakukan di depannya.
“Ohh, sudah matang ya?” Kai menuruti apa yang diperintahkan oleh Kyungsoo. Dengan hati-hati, Kyungsoo menempelkan ujung sendok di tangannya ke bibir Kai.
“Bagaimana? Apakah rasanya sudah pas?” tanya Kyungsoo antusias.
“Ini lezat. Aku suka. Apapun masakanmu aku suka …”
“Bukan seperti itu. Bagaimanapun juga, semua ini adalah resep-resep dari noonamu. Walau aku pernah membuatnya, namun tetap saja setiap orang memiliki resep sendiri untuk setiap masakannya. Aku hanya takut kau tidak menyukai versi yang aku buat. Jadi, aku berusaha sebaik mungkin untuk selalu mengikuti apa yang ditulis oleh noona-mu …”
Kai terdiam. Entah mengapa, hatinya tiba-tiba menjadi sesak. Ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Sebuah perasaan dimana sosok noonanya dan Kyungsoo secara bergantian ingin mengikatnya.
“Apa kau tahu, resep masakan ini sebaiknya aku buang …”
“Oh, ada apa? Apakah ada yang salah?” tanya Kyungsoo heran.
“Tidak ada. Aku hanya tidak suka kau membacanya …”
“Hei tapi …” Belum sempat Kyungsoo menahannya, Kai lebih dulu pergi dengan resep masakan yang kini sudah terbuang kaku pada tempat sampah di ujung dapur.
***
Seharusnya Kyungsoo bisa menikmati masakan yang baru saja ia masak tersebut bersama Kai. Namun, ia justru berakhir di meja makan dengan semangkuk ramyun instan dan segelas cola dingin sendirian. Ia masih bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan Kai terhadapnya satu jam lalu. Sejauh yang ia tahu, ia merasa bahwa ia tidak melakukan hal apapun yang menjadikan situasi saat ini menjadi salah. Bukankah selama ini Kai ingin dirinya menjadi sosok pengganti noonanya? Lalu, kenapa keadaannya justru menjadi tidak menyenangkan?
Seiring dengan pemikirannya tersebut, Kai kini justru tengah berdiri di sudut ruangan. Tanpa Kyungsoo sadari, pria itu berhasil membuatnya sedikit menjerit karena lampu di ruangan tersebut memang sebagian telah dipadamkan.
“Yah! Kau mengagetkanku. Aigooo, kupikir kau siapa …”
“Aku ingin kita benar-benar menjalin sebuah hubungan …”
“Ne? Kau ini berbicara apa? Aigoooo, sebelumnya kau bersikap kasar padaku dan sekarang apalagi? Yah Kim Kai, bisakah kau tidak membuat jantungku terus berdetak kencang seperti ini? Sikapmu itu sangat aneh dan kau tahu, kau ini membuatku menjadi tidak sehat …” protes Kyungsoo kemudian berlalu ke arah dapur. Ia sadar, Kai mengikuti langkah kakinya dari belakang. Namun, Kyungsoo berusaha untuk menenangkan dirinya dan berpikir bahwa Kai pastinya tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakitinya.
"Jangan bersikap seolah kau sedang menakutiku..." sahut Kyungsoo tanpa berbalik.
"Aku tidak sedang menakutimu. Aku hanya sedang mengungkapkan sesuatu padamu ..."
"Kau pikir, hal2 seperti ini akan berpengaruh padaku? Dengar, akan sangat sulit jika aku tidak menyerah. Jadi, jangan berusaha membuatku merasa ingin tidak menyerah. Karena saat itulah, kau sendiri yang akan kesulitan menghadapiku ..."
Kyungsoo dan Kai terdiam. Ada jeda sekitar 1 menit bahwa mereka tidak saling berbicara dan seolah berpikir pada kalimat2 yang masing2 mereka ucapkan. Di saat itulah, suara lain menyambut keheningan di antara mereka.
“Kai, aku tidak bisa tidur. Kau tahu, aku sangat takut menghadapi pemeriksaan besok. Bagaimana jika aku tidak bisa berjalan lagi ?”
Kyungsoo mendengar jelas suara seseorang dari balik tubuhnya. Ia tahu suara itu bukan milik Kai. Untuk sesaat, Kyungsoo memejamkan matanya lalu memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya. Pada saat itulah, ia melihat Luhan tengah memeluk tubuh Kai dari belakang.
Dan pada detik selanjutnya pula, kedua mata Kai dan Kyungsoo saling bertemu. Mereka sama sekali tidak ingin berpikir bahwa Luhan adalah jawaban dari keheningan mereka.
- tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Faster Than A Kiss
FanfictionSemua murid sekolah tahu, bahwa Kyungsoo adalah murid berprestasi nomor satu dan Ketua OSIS di sekolahnya. Namun siapa yang mengira jika kehidupannya akan sangat berbeda 180 derajat saat ia berada di dalam apartemen Kai? Tak peduli bahwa Kyungsoo a...
