"Mungkin perasaan tak selalu sama dengan kenyataan. Begitu pula perasaanku saat ini."
-Azza-
***
Sejak kejadian tempo lalu Azza sudah 2 hari tidak ke sekolah dikarenakan dia masih kepikiran soal seniornya itu. Azza hanya diam di kamar sambil menangis. Bahkan Uminya pun bingung dengan tingkah anaknya, jika ditanya Azza selalu menjawab " gak apa-apa Umi, Azza baik-baik saja ". Tetapi di sisi lain hati seorang ibu pasti peka terhadap perasaan anaknya jika Azza sedang sedih. Umi Azza pun hanya bisa diam menunggu sampai Azza sendiri yang bercerita kepadanya.
Rencananya Azza mulai ingin masuk sekolah besok. Ia berusaha tegar dan tak memikirkan seniornya itu lagi. Azza juga berusaha kuat jika di sekolah nanti bertemu dengan kak Adam. Toh dia emang bukan siapa-siapanya kak Adam walaupun Azza punya rasa, tetapi apa kak Adam juga sama seperti Azza? Gak ada yang tau kan?
Pagi ini setelah sholat Subuh Azza langsung bergegas menuju dapur untuk membantu Uminya menyiapkan sarapan. Sebelumnya memang Azza sudah mandi dan membersihkan tempat tidurnya, jadi setelah sholat Azza bisa langsung turun ke dapur walaupun belum mengenakan seragam sekolahnya. Dengan wajah yang ceria Azza menghampiri Uminya yang sedang menggoreng ayam di dapur.
"Pagi Umi." Sapa Azza sambil mencium pipi Uminya.
"Waalaikum salam, pagi Za." Jawab Uminya tanpa menoleh ke arah Azza.
"Eh iya Umi Azza lupa, Assalamu'alaikum, pagi Umi." Azza memulai sapaannya kembali menggunakan salam.
"Umi lagi masak apa nih Mi? Azza bantu ya?" Tawar Azza kepada Uminya.
"Ini lagi goreng ayam nak, ini Umi udah hampir selesai kok. Kamu kalau mau bantu Umi, minta tolong tata yang rapi nasi sama lauknya yang lain aja ke meja makan ya nak." Perintah Uminya, Azza pun mengangguk seraya melakukan apa yang Uminya bilang tadi.
"Udah selesai Umi, ada yang bisa Azza bantu lagi?" Uminya pun menggeleng.
"Sudah selesai Za, kamu mendingan ganti seragam dulu nanti langsung ke bawah ya buat sarapan bareng Abi sama Umi juga." Jawab Uminya lembut.
"Siap Mi, Azza ke kamar dulu ya." Azza pun mengikuti perkataan Uminya dan segera menuju ke kamarnya.
Setelah Azza selesai memakai seragam dan menyiapkan peralatan sekolahnya ia langsung turun ke bawah menemui Abi dan Uminya yang sudah berada di meja makan.
Mereka makan dalam diam, hanya ada suara sendok yang gaduh terdengar di meja makan. Tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat. Sekarang sudah menunjukkan pukul 06.35. Azza segera menyelesaikan makannya dan hendak pamit ke Abi dan Uminya.
Hari ini yang mengantar Azza adalah Abinya, bukan karena apa-apa memang Abi Azza sendiri yang pengen mengantar anak semata wayangnya itu. Dan Azza pun tak sungkan untuk menolak, malahan ia senang karena diantar langsung oleh Abinya.
Jarak rumah Azza ke sekolah pun lumayan dekat. Tak butuh waktu lama cukup sekitar 15 menit mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah. Azza melepaskan seltbeltnya dan langsung turun dari mobil, tak lupa ia mencium punggung tangan Abinya.
"Abi Azza masuk ke sekolah dulu ya." Pamit Azza setelah mencium punggung tangan Abinya.
"Iya nak belajar yang rajin ya, jangan mikirin yang bisa mengganggu konsentrasi belajar kamu." Abi Azza membalas dengan memberikan pesan kepada Azza.
"InshaAllah Bi, yasudah Azza ke dalam dulu ya Assalamu'alaikum." Salam Azza.
"Waalaikum salam." Balas Abi Azza menjawab salam putrinya itu.
Azza pun langsung masuk ke sekolahnya dan kini Abinya hanya bisa tersenyum di dalam mobil seraya memperhatikan anaknya yang semakin lama semakin jauh dan sudah tak terlihat.
KAMU SEDANG MEMBACA
HARAPAN DALAM DOA
SpiritualAda seorang perempuan yang mengagumi dalam diam kepada sosok laki-laki yang menurutnya baik, namun laki-laki tersebut justru memilih perempuan lain dibanding dirinya. Dan perempuan itu tidak akan menyerah, dan terus berharap bahkan selalu berdoa di...
