8

38.5K 4.4K 261
                                        

Bagi Diva, hal ini terasa sangat konyol karena dia bahkan tidak bisa menghentikan senyumannya. Sekretaris Dave, yang notabene adalah teman baiknya selain Abby, sampai mengangkat alisnya dengan heran.

"Makan siang di mana?" Dia bertanya.

"Kenapa?"

"Sepertinya kau salah makan."

Diva terbahak dan masuk ke ruangannya. Ia duduk di kursinya masih dengan senyuman lebar yang konyol itu. Ini benar-benar tidak masuk akal! Satu kali makan siang dan dia menjadi gila seperti ini?

Daniel menolak untuk membawa mobilnya. Pria itu memilih pulang naik taksi. Padahal itu bisa menjadi alasan mereka bertemu kembali.

Kemarin-kemarin pastilah Diva buta. Daniel ternyata benar-benar tampan. Apalagi matanya. Bagi Diva, mata Daniel begitu seksi. Tatapannya yang tajam namun lembut mampu membuat kaki Diva gemetar.

Tadinya, Diva memang sengaja ingin mengerjai pria itu. Dia yakin jika Daniel tidak akan suka makanan Indonesia. Namun kenyataannya, pria itu bahkan menambah dua kali!

Dia menghidupkan komputernya dengan cepat dan mulai mengetikkan nama Daniel Armando de Castillo. Sederet berita tentang kesuksesan bisnisnya dan juga sepak terjangnya dengan para wanita memenuhi kolom hasil pencariannya.

Diva mengembuskan napas. Jadi pria itu benar-benar Don Juan rupanya. Sederet nama-nama artis cantik terkenal di dalam dan luar negeri pernah tercatat sebagai 'kekasih' Daniel. Dan dirinya, walaupun dengan tubuh langsing seperti sekarang, jelas tidak ada apa-apanya dibanding mereka.

"Tadi kau tertawa seperti orang gila, sekarang cemberut seperti gadis sedang patah hati."

"Ada apa dengan mengetuk pintu, Susan?" Diva cemberut dan buru-buru membersihkan kolom pencariannya.

"Aku sudah mengetuk pintu. Berkali-kali, Ma'am!" Susan duduk di hadapannya dan menyerahkan sebuah map. "CEO dari Kimura Corp. ingin memajukan jadwal pertemuannya malam ini."

"Bukankah itu tugas Dave?"

"Kakakmu sudah ada janji katanya. Kau saja yang datang."

Hah! Ada janji! Diva yakin kakaknya itu hanya akan ke club dan mencari jalang untuk ditiduri.

"Besok siang saja. Aku lelah."

"Diva, ini kerjasama yang sangat penting. Perusahaan kita belum ada cabang di Asia Timur."

Yeah, ini bisnis besar yang akan menghasilkan keuntungan jutaan dollar. Saat dia memutuskan untuk ikut terjun ke perusahaan, itu artinya dia harus siap dengan meeting mendadak seperti ini.

Diva menghela napas. "Di mana?"

Susan tersenyum dan menyebutkan nama sebuah restoran terkenal di sebuah hotel bintang lima. Satu tempat yang sebenarnya malas untuk Diva datangi. Makan malam dengan client selalu berujung dengan flirting dan dia benci itu.

"Kau temani aku."

"Cromwell!! Aku ada kencan malam ini!!" Susan melotot padanya. Yeah, hanya pegawai kurang ajar ini yang berani melotot padanya.

"Kau pikir ini adil?? Semua orang bersenang-senang malam ini dan aku menghadiri meeting??"

Susan memutar bola matanya. "You're the boss! Lagipula aku yakin ini tidak akan menjadi meeting yang kaku. Mr. Kimura tertarik padamu!"

Gantian Diva yang memutar bola matanya. "Aku tidak tertarik pada pria Asia."

"Oh ya? Lalu pria seperti apa yang menarik minatmu?"

THE ONETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang