9

39.6K 4.2K 290
                                        

Seumur hidup, Diva tidak pernah sekalipun membenci kakaknya. Dave adalah satu-satunya saudara yang dimilikinya sehingga Diva selalu mencintainya. Namun kini, dia membenci kakaknya setengah mati hingga rasanya dia ingin mengambil pisau buah yang ada di hadapannya dan menusukkannya pada jantung Dave.

"Aku bukan anak kecil lagi." Ucap Diva dengan dingin tanpa memandang Dave yang tengah menatapnya tajam.

Coba kalian sebutkan hal yang lebih memalukan selain 'disidang' masalah pacar di usiamu yang sudah lebih dari dua puluh tahun.

Secara hukum dia sudah dewasa. Sangat dewasa malah. Umurnya sudah hampir dua puluh lima tahun sekarang, itu sudah masuk kategori terlalu tua untuk disidang masalah siapa pria yang bisa mengencanimu.

"Aku tahu! Tapi kau tidak bisa berpacaran dengan Daniel!"

Dave jarang berteriak padanya. Malah pria itu tak pernah marah padanya. Diva benar-benar tidak mengerti mengapa hal ini membuat kakaknya marah. Padahal dirinya dan Daniel hanya pergi makan satu kali. Satu kali!!

"Kak, kami hanya makan siang! MAKAN SIANG! Kami tidak pergi kencan!!"

"Tetap saja nanti kalian akan berakhir di tempat tidur!!"

Mereka berdua saling berdiri dan melotot. Sementara 'penonton' mereka malah tertawa terbahak-bahak. Diva dan Dave sama-sama menoleh pada kedua orang tua mereka. Orang tua mana yang tertawa bahagia melihat kedua anaknya bertengkar?

"Papa, jangan tertawa. Ini masalah serius. Aku tahu Daniel. Dia tidak bisa serius dengan satu wanita. Jika Diva nekat, dia akan sakit hati nantinya."

Kembali ayahnya terbahak-bahak. "Semua orang bisa berubah, Nak." Ucap beliau setelah tidak lagi tertawa.

Diva tersenyum penuh kemenangan. "Nah! Dengar itu, Kak!"

"Tapi itu tidak akan terjadi pada Daniel!"

"Why not? Hal itu bisa terjadi pada siapa saja. Bahkan kau."

Dave tersenyum sinis mendengar perkataan ayahnya dan menggeleng. "Itu seperti menunggu kucing mempunyai sayap, Dad. Semua wanita hanya mengincar uangku!" Lalu matanya kembali menatap Diva. "Aku sudah memperingatkanmu, adikku. Jangan tanyakan dosa jika kau sakit hati satu saat nanti." Ucapnya seraya meninggalkan ruang keluarga dan naik ke kamarnya.

Diva mengembuskan napasnya dan terduduk lesu di atas karpet. Mereka tidak pernah bertengkar bahkan saat mereka masih kecil. Dave adalah malaikat pelindungnya. Kakak terbaik yang pernah dia miliki. Tapi kini mereka bertengkar 'hanya' karena masalah seperti ini.

Oke, mungkin ini bukan sekedar 'hanya'. Mungkin akan lain ceritanya seandainya lelaki itu bukan sahabat baik kakaknya. Diva tahu Dave khawatir karena dia tahu semua sifat buruk Daniel. Tapi toh ini juga belum tentu berakhir dengan dirinya dan Daniel berpacaran. Dia tidak senaksir itu pada Daniel.

Atau mungkin Dave sudah mencium bau ke arah sana? Apa Dave tahu jika Diva mulai jatuh cinta pada Daniel?

"Ikuti saja kata hatimu, Nak. Dia akan tahu mana yang terbaik untukmu."

Diva memandang ibunya yang tersenyum. "Apa Dave akan membenciku jika akhirnya aku berhubungan dengan Daniel, Ma?"

"Dave tidak akan pernah membencimu, Sayang. Kau adalah peri kecilnya."

Diva kembali menunduk. Dia benci bertengkar dengan Dave. Baru beberapa menit mereka bertengkar namun rasanya begitu menyesakkan. Dia sangat ingin menangis.

Diva bangkit dari duduknya dan berlari naik ke lantai dua. Dia ingin memeluk Dave. Diva kembali berdiri dengan ragu di depan kamar Dave. Dia takut kakaknya masih marah padanya.

THE ONETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang